Bupati Lutim soal Pipa Limbah PT Vale Bocor: 30 Hektare Sawah Gagal Panen

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Limbah minyak milik tambang nikel PT Vale Indonesia yang mengalami kebocoran mencemari lahan pertanian warga di Desa Asuli, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Minggu (24/8/2025). Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Limbah minyak milik tambang nikel PT Vale Indonesia yang mengalami kebocoran mencemari lahan pertanian warga di Desa Asuli, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Minggu (24/8/2025). Foto: Dok. Istimewa

Bupati Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Irwan Bachri Syam angkat bicara terkait kebocoran pipa limbah minyak milik PT Vale Indonesia di Desa Asuli, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Menurutnya, kebocoran limbah perusahaan tersebut membuat masyarakat merugi. Dari data yang diterimanya, puluhan hektare area persawahan diperkirakan akan gagal panen

“Kalau gagal panen, itu sudah pasti gagal panen. Karena itu sudah tercemari dengan minyak,” kata Irwan kepada Kumparan, Senin (25/8).

Ia menjelaskan, kebocoran pipa minyak terjadi pada Sabtu (23/8) pagi. Peristiwa itu, mengagetkan masyarakat, lantaran limbah minyak mengalir di saluran irigasi pengairan persawahan masyarakat sekitar.

Pemkab Lutim langsung membentuk tim bersama pihak perusahaan PT Vale untuk mencari tahu penyebab kebocoran hingga mengidentifikasi dampak kebocoran pipa limbah minyak tersebut.

“Memang kalau berdasarkan laporan dari tim yang sudah saya bentuk, itu hampir kurang lebih 30 hektare area persawahan yang terdampak. Itu baik sawah, empang atau hal-hal yang memang menjadi pendapatan masyarakat di sana,” sebutnya

“Dari 30 hektare itu, sementara hanya satu desa. Tapi, karena sudah berlangsung dua hari ini, namanya juga air terus mengalir, sehingga kembali terdampak sebanyak dua desa. Jadi, total ada tiga desa,” sambung dia.

Limbah minyak milik tambang nikel PT Vale Indonesia yang mengalami kebocoran mencemari lahan pertanian warga di Desa Asuli, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Minggu (24/8/2025). Foto: Dok. Istimewa

Jumlah desa terdampak atau luas wilayah terdampak, kata Irwan, kemungkinan besar masih akan bertambah. Sebab, minyak dari limbah tambang nikel itu masih mengalir di saluran irigasi.

“Terpenting yang kami lakukan sekarang itu adalah mengantisipasi bagaimana pipa bocor ditangani sementara, sembari kita ini melakukan identifikasi ke masyarakat yang terdampak. Artinya, masih bisa bertambah dampak kebocoran ini,” kata dia.

PT Vale Indonesia Diminta Bayar Ganti Rugi

Bupati Lutim mengaku tengah membuka dua posko penanganan pipa limbah minyak bocor. Satu di antaranya, merupakan posko pengaduan masyarakat yang terdampak.

“Kami buat dua posko, pertama itu di lokasi dan kedua posko pengaduan di kantor camat. Kita buka pengaduan apabila ada masyarakat yang merasa jadi korban atau terdampak. Silakan melapor di posko,” kata dia.

Bagi warga terdampak, akan mendapatkan kompensasi dari pihak perusahaan. Sebab, perusahaan juga menyadari bahwa insiden ini sangat merugikan masyarakat.

“Dan kalau ganti rugi kepada masyarakat itu sudah pasti ada. Saya sudah berkomunikasi dengan pihak perusahaan PT Vale, mereka sangat bersedia untuk memberikan ganti rugi kepada masyarakat. Karena mereka juga mengakui bahwa musibah ini sangat merugikan masyarakat,” ucapnya

Kendati demikian, belum diketahui jumlah kompensasi tersebut. Pihak perusahaan dan pemerintah masih melakukan investigasi.

“Jadi nanti dihitung berapa kerugian masyarakat dan perusahaan siap ganti rugi bagi masyarakat terdampak,” ujar dia.

Penjelasan PT Vale Indonesia

Head of Coorporate Communication PT Vale Indonesia, Vanda Kusumaningrum, angkat bicara terkait peristiwa ini. Dia mengatakan kebocoran pipa baru diketahui pada Sabtu pagi (23/8) di Desa Lioka, Kecamatan Towuti.

“Sejak pertama kali menerima informasi, PT Vale segera mengaktifkan prosedur tanggap darurat dan tim Emergency Respon Group (ERG) kami langsung ke lokasi untuk melakukan langkah-langkah pencegahan dan pemulihan. Upaya awal, pemasangan oil boom dan oil trap untuk mencegah penyebaran lebih lanjut,” kata Vanda dalam keterangannya.

Ia mengaku tengah melakukan investigasi untuk mencari tahu penyebab kebocoran pipa minyak limbah.

“Kami memahami bahwa insiden seperti ini menimbulkan kekhawatiran di masyarakat sekitar. Oleh karena itu, prioritas utama kami memastikan keselamatan masyarakat, pekerja, dan lingkungan,” ujar dia.