Bus Selawat Sudah Siap Layani Jemaah Haji di Makkah
·waktu baca 3 menit

Tak lama lagi, jemaah haji Indonesia yang sudah berada di Madinah akan bergerak ke Makkah untuk melanjutkan rangkaian ibadah Haji. Selama di Makkah, jemaah bisa melakukan mobilitas dari hotel ke Masjidil Haram atau sebaliknya dengan Bus Selawat.
Bus selawat merupakan layanan bus gratis yang disiapkan PPIH Arab Saudi untuk melayani mobilitas jemaah. Bus ini beroperasi 24 jam selama pelayanan haji 2026 berlangsung.
Kepala Bidang Transportasi Daerah Kerja Makkah, Syarif Rahman, menjelaskan penyediaan layanan ini mengikuti ketentuan Pemerintah Arab Saudi, sekaligus diperluas dengan kebijakan pemerintah Indonesia.
“Secara aturan, jemaah yang tinggal dengan jarak minimal 2.000 meter wajib diberikan transportasi. Tapi Indonesia memberikan layanan untuk seluruh jemaah, tanpa melihat jarak,” ujar Syarif di Makkah, dikutip Senin (27/4).
Tahun ini, layanan transportasi jemaah Indonesia ditangani oleh enam perusahaan dengan armada bus kota (city bus) yang tersebar di lima wilayah utama: Misfalah, Jarwal, Raudhah, Syisyah, dan Aziziyah.
Setiap wilayah terhubung dengan terminal pemberangkatan menuju Masjidil Haram, yakni Misfalah melalui Terminal Ajyad; Jarwal dan Aziziyah melalui Terminal Jabal Ka’bah; Syisyah dan Raudhah melalui Terminal Syib Amir.
Untuk memudahkan, setiap bus dilengkapi stiker rute dengan kode warna dan nomor. Tahun ini terdapat 21 rute yang berbeda, dan seluruh jemaah dibekali kartu rute sejak tiba di hotel.
“Cukup lihat warna dan nomor kartu rute, jemaah tidak perlu lagi bertanya. Biasanya dalam dua-tiga hari sudah hafal,” kata Syarif.
Pengoperasian bus dilakukan secara bertahap menyesuaikan kedatangan jemaah. Pada masa puncak, jumlah armada mencapai sekitar 452 unit, seluruhnya bus dengan usia maksimal lima tahun.
Layanan ini berlangsung sejak kedatangan kloter pertama hingga 6 Zulhijjah (sebelum Armuzna), kemudian dilanjutkan kembali mulai 14 Zulhijjah hingga kepulangan kloter terakhir ke Indonesia.
Bus beroperasi nonstop 24 jam, dengan intensitas tertinggi menjelang dan setelah waktu salat fardu. Waktu tunggu jemaah rata-rata hanya 15–20 menit.
Mengusung haji ramah lansia, disabilitas, dan perempuan, pemerintah juga menyiapkan sekitar 52 unit bus khusus. Bus ini memiliki fitur lantai rendah (lower deck) yang memudahkan pengguna kursi roda naik tanpa harus diangkat.
Namun, penggunaannya berbasis permintaan (request) karena kapasitas terbatas, maksimal 18 penumpang termasuk kursi roda.
“Kalau dipaksakan beroperasi reguler, justru tidak efektif. Jadi kami kirim sesuai kebutuhan di lapangan,” jelasnya.
Syarif menegaskan seluruh layanan transportasi ini gratis. Jemaah tidak perlu membayar atau memberikan tip kepada sopir.
“Kami imbau jemaah dan keluarga di tanah air, tidak perlu memberi tip. Sopir sudah dibayar oleh perusahaan, dan ini bagian dari layanan resmi,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar jemaah selalu membawa kartu rute saat bepergian serta menjaga barang bawaan agar tidak tertinggal.
Untuk memastikan kelancaran, bus ditempatkan di dua titik utama: terminal dan kantong parkir dekat hotel. Koordinasi dilakukan secara real-time melalui sistem komunikasi petugas di lapangan.
“Kalau ada kekurangan armada di satu titik, langsung kami dorong dari terminal. Jadi jemaah tidak menunggu lama,” katanya.
Dengan pengaturan lalu lintas yang lebih ketat tahun ini oleh otoritas Arab Saudi, Syarif optimistis mobilitas jemaah akan lebih lancar dibanding musim sebelumnya.
“Insyaallah tahun ini lebih terkendali sampai puncak haji,” pungkasnya.
