Buya Syafi'i: Bom di Gereja Surabaya Pengaruh Suriah, Irak hingga ISIS

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Buya Syafii  (Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Buya Syafii (Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan)

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafi'i Maarif atau Buya Syafi'i meminta aparat meningkatkan pengamanan setelah bom meledak di 3 gereja di Surabaya, Jawa Timur. Buya menjelaskan, aksi teror yang terjadi merupakan pengaruh dari negara-negara seperti Suriah dan Irak.

"Dan menurut saya memang ada pengaruh dari negara Arab ya, di sana kan itu kan Suriah, Irak, ISIS, ada Boko Haram. Itu mazabnya sama, itu sudah menyebar secara masif. tapi yang Surabaya ini jaringan atau pemain tunggal, saya kurang tahu," ucap Buya, di Nogotirto, Gamping, Sleman, Minggu (13/5).

Buya menjelaskan, jika aksi teror yang belakangan terjadi tak bisa diantisipasi, teror itu berpotensi memecah belah bangsa dan merusak NKRI. Dia menyebut, eksekusi kepada para tahanan terorisme yang sudah dilakukan selama ini belum cukup.

"Ternyata mati satu tumbuh seribu, apa akar pokok di sini?" lanjutnya.

Buya mencontohkan, penyanderaan anggota Densus 88 yang terjadi beberapa waktu yang lalu di Mako Brimob, merupakan kejadian luar biasa.

"Itu kan luar biasa. Alasannya makanan, saya rasa tidak. Saya rasa ini puncak gunung es," cetus Buya.

Meski meminta aparat meningkatkan keamanan dan mengapresiasi kinerja Densus 88, Buya tetap berpesan agar aparat terutama Densus 88 untuk tidak gegabah dan salah tangkap. Jika hal itu sampai terjadi, dikhawatirkan isu tersebut akan bisa dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tak bertanggung jawab.

Ledakan bom di Gereja Surabaya (Foto: Antara/HO/HUMAS PEMKOT)
zoom-in-whitePerbesar
Ledakan bom di Gereja Surabaya (Foto: Antara/HO/HUMAS PEMKOT)

"Densus jangan sampai salah tangkap, meski salah itu manusiawi. Tapi harus berhati-hati agar tidak digoreng nanti isunya Densus tidak bijak, tidak apa gitu," bebernya.

Di sisi lain, Buya juga menyoroti media sosial yang bisa menjadi alat untuk cuci otak. Selain itu, banyak pula akun-akun media sosial yang bersifat provokatif. Untuk itu, ia mengimbau Kominfo agar bisa menutup akun-akun yang dianggap provokator.

"Mereka semakin terdesak, apa perintahnya dijalankan. Ini merusak bangsa, masyarakat, persaudaraan, merusak segalanya," ucapnya.

Tak lupa, Buya juga menyampaikan rasa prihatin dan belasungkawa atas peristiwa teror yang menimpa sejumlah gereja di Surabaya. Dia juga merasa sedih mengetahui bahwa aksi tersebut dilakukan atas nama agama. Menurutnya, penafsiran itu adalah penafsiran yang keliru.

"(Penafsiran) yang ditundukkan pada syahwat kekuasaan," pungkasnya.