Cak Imin Minta Maaf ke Petani: 7 Tahun Teriak-teriak di DPR Tak Ada Hasilnya

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar (Cak Imin) di DPR RI, Senin (2/12/2024). Foto: Haya Syahira/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar (Cak Imin) di DPR RI, Senin (2/12/2024). Foto: Haya Syahira/kumparan

Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, menyampaikan permohonan maaf kepada para petani. Hal itu ia sampaikan saat pidato dalam peringatan Hari Tani di kantor DPP PKB, Jakarta Pusat, Rabu (24/9).

Cak Imin mengakui selama tujuh tahun menjadi anggota DPR, perjuangannya memperjuangkan pupuk dan kesejahteraan petani belum membuahkan hasil nyata.

“Dosanya Ida Fauziyah pernah jadi Ketua Fraksi, dosanya Jazilul Fawaid, dosa saya juga. Makanya saya mewakili Ida memohon maaf kepada petani di seluruh tanah air. Serius, kita memang tidak pernah sungguh-sungguh,” kata Cak Imin.

Ia menuturkan, selama di DPR ia kerap bersuara keras soal pupuk, namun tak membuahkan perubahan. “Saya teriak-teriak soal pupuk tujuh tahun, tapi nggak ada hasilnya,” ujarnya.

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar di peringatan Hari Tani 2025 di DPP PKB, Jakarta Pusat, Rabu (24/9/2025). Foto: Abid Raihan/kumparan

Cak Imin menyebut, DPR sudah berulang kali memanggil menteri terkait hingga produsen pupuk BUMN, namun petani tetap kesulitan mendapat pupuk.

Tak hanya soal kiprahnya di DPR, Cak Imin juga meminta maaf atas kinerja PKB selama 27 tahun berdiri yang dinilainya belum mampu menyejahterakan petani.

“Di usia PKB ke-27 ini, kami menyatakan permohonan maaf. Omong kosong selama ini bisa menghasilkan kesejahteraan buat petani,” katanya.

Petani menanam padi di Aceh, Senin (19/5/2025). Foto: Chaideer Mahyuddin/AFP

PKB Harus Lebih Serius Perjuangkan Petani

Meski demikian, Menko Pemberdayaan Masyarakat ini menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan nasib petani.

Ia menyebut tiga agenda utama: redistribusi tanah, penguatan sarana produksi dengan dukungan anggaran, serta peningkatan akses permodalan.

“Saya sadar kredit usaha rakyat (KUR) untuk petani belum ada. Kalau bunga 6% saja sudah berat. Karena itu, saya sedang mendorong koperasi desa menjadi tempat pinjam khusus petani dengan bunga ringan. Mudah-mudahan bisa terwujud,” pungkasnya.