Cak Imin Minta SPPG Tak Pakai Bahan Impor untuk MBG

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menko PM Muhaimin Iskandar alias Cak Imin menyerahkan penghargaan pada SPPG terpilih di TMII, Jakarta Timur, Selasa (9/12). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menko PM Muhaimin Iskandar alias Cak Imin menyerahkan penghargaan pada SPPG terpilih di TMII, Jakarta Timur, Selasa (9/12). Foto: Amira Nada Fauziyyah/kumparan

Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (PM) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin meminta dapur-dapur Satuan Penyedia Pangan Gizi (SPPG) tidak menggunakan bahan baku impor dalam memproduksi sajian Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ia meminta seluruh SPPG di Tanah Air beralih penuh ke bahan pangan lokal dan melibatkan komunitas sekitar SPPG dalam rantai pasok.

“Jangan sekali-kali menggunakan produksi MBG menggunakan bahan impor. Masih banyak yang menggunakan tepung, mereka enggak tahu tepung itu impor. Karbohidrat bisa diciptakan dari produktivitas lokal masing-masing,” ujar Cak Imin usai Penganugerahan SPPG Inspiradaya 2025 di TMII, Jakarta Timur, Selasa (9/12).

Menurut Cak Imin, penggunaan bahan impor menghambat tujuan utama SPPG sebagai pemantik ekonomi lokal.

“Tepung itu adalah barang impor yang amat sangat besar ketergantungan kita. Mestinya melalui SPPG, kita switch menjadi berkah bagi produk lokal sehingga produk karbohidrat lokal menjadi andalan produktivitas pangan dan ekonomi nasional kita,” ungkapnya.

Dia mencontohkan sejumlah inovasi daerah yang dinilainya sudah tepat, seperti Papua yang menggunakan sagu, Maluku dengan singkong, serta pengembangan alternatif pengganti susu.

“Inilah yang kita harapkan, sehingga SPPG itu berkah bagi orang di sekitarnya. Yang tidak pernah menanam menjadi menanam, kemudian dibeli oleh dapur,” katanya.

Menko PM Muhaimin Iskandar ketika mencicipi produk makanan SPPG di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Selasa (9/12/2025). Foto: Amira Nada/kumparan

Ia berharap, transformasi penggunaan produk lokal di SPPG bisa memperkuat ekosistem ekonomi komunitas.

“SPPG wajib membeli bahan baku dari petani dan komunitas setempat, sehingga kehadiran SPPG dirasakan oleh masyarakat umum,” ujarnya.

Masih Bersifat Imbauan

Cak Imin menyatakan bahwa penghapusan bahan impor masih bersifat imbauan, namun harus segera diikuti rencana implementasi yang jelas.

“Masih bersifat imbauan sementara ini. Karena butuh persiapan. Tapi tolong dapur-dapur yang inovatif, diberi penghargaan oleh BGN. Memang butuh waktu, tapi jangan sampai enggak sadar bahwa yang digunakan itu barang impor,” tutur dia.

Ketika ditanya terkait bahan apa saja yang menjadi perhatian, Cak Imin menegaskan, “Ya tepung, ya protein. Macam-macam.”

Ia meminta 20 SPPG penerima penghargaan tahun ini menjadi contoh dalam penerapan penuh bahan lokal.

“Kalau hari ini belum melaksanakan itu, tolong 20 ini menjadi contoh, dirancang sedemikian rupa sehingga tidak ada satu pun bahan impor dalam pelaksanaan produksi Makan Bergizi Gratis,” kata Cak Imin.