Cara Jateng Tangani Stunting: Koin Peduli hingga Program Pantau Orang Hamil

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas Puskesmas Poncol saat memantau kesehatan kandungan Elva. Foto: Intan Alliva Khansa/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Petugas Puskesmas Poncol saat memantau kesehatan kandungan Elva. Foto: Intan Alliva Khansa/kumparan

Wajah Elfa (24) bungah, bayang-bayang stunting menimpa calon anak pertamanya itu menghilang sudah. Kandungannya yang kini berumur 9 bulan itu dinyatakan sehat oleh dokter puskesmas.

Bagaimana tidak, selama hamil, ibu muda ini selalu dalam pantauan petugas Puskesmas Poncol. Kediamannya di lingkungan padat penduduk itu selalu dikunjungi petugas yang memonitoring kondisi kandungnya. Bantuan berupa susu ibu hamil, sembako, hingga daging sapi juga rutin diberikan oleh petugas.

Elfa mengaku, saat garis dua ia dapatkan, bayang-bayang sang jabang bayi tidak bisa mendapat nutrisi lengkap sempat menghantuinya. Apalagi, Hemoglobinnya (hb) sempat rendah dan membuat dirinya semakin khawatir.

"Iya, sempat hb rendah, disuruh makan hati ayam gitu. Biasanya dapat vitamin. Juga dapat sembako, daging, katanya biar anaknya enggak stunting," ujar Elfa di rumahnya, Jumat (27/10).

Elfa pun berterima kasih atas bantuan itu. Kekhawatiran dan bayang-bayang anaknya menderita stunting kini menghilang. Ia senang karena pemerintah terjun langsung untuk mencegah anak stunting terutama bagi keluarga yang berekonomi sulit.

"Sangat terbantu ya, terima kasih sekali. Selama hamil terus dipantau, gizinya juta dicukupi. Apalagi, suami habis di-PHK dari tempat kerjanya," aku Elfa.

Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng (5NG)

Petugas Puskesmas Poncol saat memantau kesehatan kandungan Elva. Foto: Intan Alliva Khansa/kumparan

Bantuan pencegahan stunting ini merupakan implementasi dari program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng (5NG). Program 5NG itu dimulai di sejak 2016 dan diinisiasi oleh Gubernur Ganjar Pranowo untuk menekan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayu (AKB).

Dikutip dari data Monitoring Pelaksanaan 8 Aksi Konvergensi Intervensi Penurunan Stunting Terintegrasi dari Ditjen Bina Pembangunan Daerah - Kementerian Dalam Negeri, stunting di Jawa Tengah mengalami penurunan prevalensi yakni 9,4 persen dari 1.964.537 balita di tahun 2022. Sedangkan di tahun 2023 kasus stunting prevalensinya ada di angka 9,1 persen dari 2.051.484 balita.

Program 5NG yang mengutamakan azas Gotong Royong ini, juga membuat masyarakat ikut bergerak. Salah satunya lewat koin peduli yang rutin dikumpulkan warga Kecamatan Semarang Tengah untuk warga kurang mampu. Koin peduli ini digunakan untuk mengentaskan stunting hingga perbaikan rumah.

"Koin kepedulian ini empat bulan saja sudah terkumpul Rp 50 juta. Untuk membantu mengentaskan kemiskinan hingga penanganan stunting. Ini dari warga," ungkap Camat Semarang Tengah, Aniceto Magno Da Silva.

Keliling Pakai Motor, Antar Makanan

Ilustrasi penanganan stunting. Foto: Nova Wahyudi/ANTARA FOTO

Hal serupa juga dilakukan di Kelurahan Pedurungan Tengah Kota Semarang.

Kader Forum Kesehatan Kelurahan (FKK) sekaligus kader PKK Pedurungan Tengah, Ely Fatul Handayani menjelaskan, pencegahan stunting merupakan salah satu concern untuk dirinya. Setiap hari Senin hingga Sabtu, dengan sepeda motornya, ia mengantarkan makan siang untuk enam anak stunting dan tiga anak rawan stunting di Pedurungan Tengah

"Program pertama sudah 90 hari. Ini program kedua 56 hari sejak awal Oktober. Sudah berkurang, sudah ada yang 'lulus'. Alhamdulillah karena kami memang ingin tidak ada anak yang mengalami stunting," ujar Ely.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Semarang, tercatat ada 1.386 kasus stunting pada bulan Januari. Jumlah itu terus menurun dan pada bulan September 2023 bersisa hanya 938 kasus stunting.

Kerja keras dan inovasi terus dilakukan, salah satunya melalui daycare untuk menampung anak-anak stunting dan diberi makanan bergizi. Lewat daycare yang saat ini ada di empat lokasi yaitu di Semarang Barat, Semarang Utara, Gunungpati, dan Tembalang kesehatan batita dipantau oleh para profesional.

"Akan tambah lagi di Selatan, Timur, Pedurungan, dan Ngaliyan. Jadi di sana diberi makan siang, diajak main, jam 15.00 dimandikan, minum susu, sebelum jam 16.00 diambil orang tua. Ada 1.450 kalori yang kita berikan. Ada dokter, pengasuh, ahli gizi yang kami datangkan. Daycare ini signifikan tekan kasus di daerah angka stunting tinggi," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam.

Pemprov Jateng sendiri pada hari Kamis (12/10) menggelar Evaluasi Terpadu Percepatan Penurunan Stunting Provinsi Jateng di Grand Artos Hotel &Convention, Magelang. Dalam acara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Jateng, Sumarno, mengatakan stunting timbul karena perilaku masyarakat sendiri.

"Kalau hasil evaluasi, penyebab utama stunting Jateng adalah perilaku. Kan kesadaran. Ini yang program dari DP3AKB adalah Jo Kawin Bocah. Itu (menikah usia dini) masih banyak terjadi," kata Sekda dalam pembukaan acara.

Berbagai Program

Ilustrasi anak stunting. Foto: Shutterstock

Pemprov Jateng memiliki berbagai program untuk mengurangi stunting. Mulai dari Jogo Tonggo, Jogo Konco, FK Mitra, dan Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng. Lewat program itu, ia mengajak masyarakat untuk peduli dengan lingkungan sekitar.

"Program penanganan stunting efektif karena angkanya menurun," ujar Sumarno.

Penyuluh KB Ahli Utama BKKBN Pusat Widwiono mengatakan angka stunting di Jawa Tengah berada di bawah rata-rata nasional. Namun, ia meminta pemerintah dan masyarakat terus berjibaku dan bergotong royong menuntaskan stunting.

"Jateng sebetulnya sudah di bawah nasional, cuma karena jumlah penduduk banyak. Sehingga sasarannya banyak. Maka Jawa, termasuk Jawa Tengah, itu menjadi sasaran percepatan prioritas penurunan stunting. Karena jumlah penduduk banyak," kata Widwiono.

Untuk diketahui, ada berbagai macam faktor yang bisa mempengaruhi kasus stunting mulai dari lingkungan, kesehatan, kondisi kehamilan, dan lainnya. Sebagai contoh di Kota Semarang, beberapa faktor antara lain:

Faktor riwayat kehamilan:

Riwayat KEK 16,9 persen, anemia saat hamil 26,2 persen, periksa kehamilan kurang dari enam kali 8,3 persen, usia ibu kurang dari 20 tahun saat melahirkan 9,8 persen.

Faktor anggota keluarga:

Jumlah anak di keluarga lebih dari dua 30,6 persen, jumlah balita di rumah lebih dari dua 4,4 persen, jumlah anggota tertanggung lebih dari empat orang ada 27,7 persen.