Cara Pelaku Ledakkan Bom di 3 Gereja Surabaya

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Hadi Tjahjanto dan Tito Karnavian (Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro)
zoom-in-whitePerbesar
Hadi Tjahjanto dan Tito Karnavian (Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro)

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menegaskan insiden serangan bom di 3 gereja Surabaya, Jawa Timur, merupakan serangan bom bunuh diri. Namun ia menyebut, aksi peledakan bom itu dilakukan dengan cara yang berbeda-beda.

Tito menjelaskan, dari tiga serangan bom bunuh diri yang terjadi, ledakan terbesar terjadi di Gereja Pentakosta Pusat Surabaya (GPPS), Jalan Arjuna, Surabaya, Jawa Timur. Bom itu, diledakan menggunakan mobil merk Avanza.

"Dengan Avanza, tentu menggunakan bom yang diletakkan dalam kendaraan. Setelah itu ditabrakkan. Ini ledakan yang terbesar sepertinya dari tiga ledakan," ucap Tito, di RS Bhayangkara, Surabaya, Minggu (13/5).

Tito melanjutkan, untuk aksi bom bunuh diri di Gereja Kristen Indonesia (GKI) yang berada di Jalan Diponegoro, dilakukan pelaku dengan cara memasang bom di pinggangnya. Hal itu ditunjukkan dengan rusaknya perut pelaku, saat diidentifikasi oleh polisi.

Jokowi Tinjau Lokasi Ledakan Bom di Surabaya (Foto: Biro Pers Setpres)
zoom-in-whitePerbesar
Jokowi Tinjau Lokasi Ledakan Bom di Surabaya (Foto: Biro Pers Setpres)

"Karena yang rusak adalah bagian perutnya, baik yang perempuan tentunya maupun anaknya, hanya bagian perutnya. Sementara bagian atas dan bawahnya semua masih utuh," tuturnya.

Sedangkan ledakan bom yang terjadi di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Tito menyebut polisi masih mengidentifikasi bahan peledak yang digunakan pelaku. Namun, Tito menduga, cara pelaku meledakkan bom adalah dengan cara memangkunya dengan menaiki motor yang menuju ke halaman gereja.

"Jenis bomnya belum. Sekarang bahan peledaknya apa, nanti kita sedang melakukan penyelidikan oleh laboratorium forensik," ucap Tito.

Insiden meledaknya bom di tiga tempat ibadah itu menyebabkan 13 orang tewas dan 41 orang luka-luka. Saat ini polisi masih mengidentifikasi korban tewas yang belum diketahui identitasnya.

Namun, polisi memastikan, dari total 13 orang yang tewas itu, 6 orang merupakan pelaku sementara 7 sisanya adalah jemaat gereja.

Tito menjelaskan, para pelaku di 3 gereja itu merupakan satu keluarga. Keluarga ini dikomandoi oleh kepala keluarga mereka bernama Dita. Dita bersama dengan anaknya mengendarai mobil Avanza di GPPS Arjuno. Sebelumnya, Dita sudah menurunkan istri dan dua anaknya di GKI Wonokromo Diponegoro.

"Istrinya diduga bernama Puji Kuswanti kemudian yang anak perempuan ini bernama Fadila Sari umur 12 tahun dan Pamela Rizkita 9 tahun. Mereka satu keluarga," imbuh dia.

Sementara, bom yang diledakkan di Gereja Santa Maria Tak Bercela dilakukan oleh dua anak laki-lakinya, ialah Yusuf dan Alif.