Cara Sido Muncul Pelihara Kecintaan Masyarakat Terhadap Jamu Tradisional

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Owner Sidomuncul Irwan Hidayat di Acara Jamu Lifestyle. Foto: Aprilandika Pratama/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Owner Sidomuncul Irwan Hidayat di Acara Jamu Lifestyle. Foto: Aprilandika Pratama/kumparan

Bicara jamu, masyarakat khususnya generasi muda langsung dibawa imajinasinya kepada suatu produk minuman tradisional Jawa yang memiliki rasa khas. Kendati dikenal sebagai minuman yang baik untuk kesehatan, citra rasa pahit ini tak jarang membuat orang berfikir lagi untuk meminumnya. Bahkan, ada beralih ke minuman lain.

Sejak lama, jamu di Indonesia tak hanya dikenal sebagai produk minuman tradisional saja, tetapi juga bermanfaat bagi obat. Di Indonesia, jamu diracik dengan bahan-bahan alami, seperti rempah, daun-daunan, jahe, hingga kunyit. Tentu saja, rasa pahit sudah sangat melekat dengan produk ini.

Kondisi tersebut dipahami betul oleh Owner Sido Muncul, Irwan Hidayat. Irwan kecil mengaku paham betul jika jamu menjadi momok menakutkan bagi anak-anak.

Owner Sidomuncul Irwan Hidayat di Acara Jamu Lifestyle. Foto: Aprilandika Pratama/kumparan

"Ya memang minum jamu itu sebuah penderitaan ya waktu itu. lah iya pokoknya kalau menghukum orang dijamoni pokoknya segala sesuatu yang membuat orang menderita pasti hubungannya dengan jamu," ujar Irwan dalam acara Book Talk Jamu Lifestyle: Jamu is More Important than Ever Today, It's Time to Embrace the Jamu Lifestyle di Pondok Indah Mall 3, Jumat (20/5).

Irwan yang sudah sejak 1969 bekerja di Sido Muncul, melihat hal itu sebagai sebuah tantangan bagaimana membawa produk jamu tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan, tetapi juga dapat dicintai. Berangkat dari tekadnya itu, Sido Muncul perlahan mulai mengembangkan produknya menyesuaikan dengan permintaan pasar.

Hingga sampai pada suatu titik di mana Irwan berhasil mengembangkan produk kesehatan khas Sido Muncul yang sesuai dengan tradisi. Tetapi tetap dapat diterima masyarakat termasuk generasi muda.

Owner Sidomuncul Irwan Hidayat di Acara Jamu Lifestyle. Foto: Aprilandika Pratama/kumparan

"Itu saya selalu berpikir begini, tradisi minum jamu itu tidak boleh hilang, sehingga tahun 2014 saya mulai memikirkan bagaimana mulai mengganti yang jamu serbuk sehingga kami perlahan mendevelop tentang standarisasi, bagaimana mengawetkan," ucap Irwan.

"Sehingga pada tahun 2016 bulan 9 tanggal 9 kami Sido Muncul meluncurkan jamu lifestyle. Jadi bagaimana cara kita mengajak generasi muda ini untuk percaya kepada tradisi kita yang baik local wisdom ini tapi dengan cara yang cocok," sambungnya.

Meski telah banyak berinovasi dengan produk jamu, Irwan memastikan Sido Muncul tak akan menghilangkan jati diri jamu itu sendiri sebagai obat-obatan herbal yang juga dikenal baik bagi kesehatan. Ia tak ingin meski berhasil membawa jamu diterima masyarakat banyak, kondisi tersebut justru dapat berdampak tergerusnya produk tradisional jamu itu sendiri.

"Jadi yang penting bagaimana memasukkan tradisi itu untuk meyakinkan generasi muda supaya dia itu juga percaya oh jamu ini begini jangan sampai sesuatu yang baik hilang begitu saja. Memang bisa untuk kapsul untuk obat untuk pil untuk cair, tapi batik tradisinya membatik itu masih ada tapi kalau mau gampang dicap aja sudah selesai semua pakai batik tidak melanggar lingkungan tapi tradisi membatik itu menurut saya tetap harus ada," ungkap Irwan.

"Karena pada suatu saat kalau sebuah negeri itu maju yang tradisional itu nanti yang akan jadi pembedanya," imbuhnya.

Owner Sidomuncul Irwan Hidayat di Acara Jamu Lifestyle. Foto: Aprilandika Pratama/kumparan

Upaya agar menjaga jamu tetap lestari, kata dia, salah satunya dengan berupaya memberikan suplai kepada pelaku bisnis jamu gendong. Langkah itu dilakukan Irwan semata untuk membuat kepercayaan orang kepada produk jamu tradisional tumbuh kembali.

"Nah sekarang yang sedang saya kembangkan di pabrik sido muncul yaitu pertama kami sudah membuat pabrik bahan baku tujuannya adalah untuk menyuplai industri jamu, yang kedua kami juga ingin menyuplai jamu gendong supaya terjadi standardisasi sehingga orang tambah percaya. Kepercayaan itu penting sekali," kata Irwan.

Terobosan Irwan itu turut diamini Co-Founder and CEO penulis dari buku 'Jamu Lifestyle', Meta Murdaya. Tak hanya harus mengerti produknya, menurut Meta orang yang hendak berbicara soal jamu juga harus memahami betul seluk beluk jamu itu sendiri.

"Sebetulnya cukup simpel nomor satu kita harus bisa komunikasi apa itu benefit and the beauty of jamu dengan cara yang dia ngerti. Nah sebelum kita jelaskan itu ya kita harus ngerti secara dalam. Jadi kalau kita sendiri enggak ngerti the beauty of jamu itu gimana kita mau ceritain lebih dalam," ungkap Meta.

Cara Meta itu, juga turut dilakukan Nova Dewi Setiabudi selaku Co-Founder dan CEO Suwe Ora Jamu. Melalui produknya, Suwe Ora Jamu, Nova mencoba kembali menghadirkan dan memunculkan kecintaan seluruh masyarakat Indonesia akan produk jamu.

Untuk mencapai tujuan itu Nova pun bereksperimen dari segi rasa. Dia mencoba membawa jamu yang dicap sebagai produk kesehatan yang tak bersahabat rasanya menjadi kembali dicintai.

"Saya percaya dengan kalimat tak kenal maka tak sayang. Semangatnya adalah ketika kita memulai dengan edukasi itu experience juga harus kita lakukan. Jamu ini kan mau kita suguhkan ke orang yang kita care, karena itu kita harus bisa menyuguhkannya dengan baik, dari sensori enak, rasanya enak, semuanya itu membuat orang bisa fall in love lagi dengan jamu. Jadi bagaimana kita bisa mengedukasi dengan cara ini loh cara kamu menikmati jamu, saya lebih seneng begitu, karena saya yakin energi ini dapat menghadirkan kecintaan kembali terhadap jamu," ujar Nova.

"Jadi edukasi menurut saya salah satu yang tak bisa ditinggalkan karena menjadi salah satu membawa percikan cinta lagi untuk jamu khususnya," imbuhnya.

Langkah Nova dan Meta, dianggap pakar kuliner Indonesia William Wongso sah-sah saja untuk dilakukan. Memodernisasi suatu produk yang dikenal secara tradisional dianggapnya lumrah untuk dilakukan pada masa ini. Selain sebagai bentuk upaya pelestarian, langkah itu dianggap pula sebagai cara untuk dapat tetap menikmatinya di masa sekarang ini. Hanya saja dengan cara yang baru.

"Saya kenal jamu itu memualkan, karena sebelum diseduh jamunya kering, diseduh seperti kopi, terus kita musti nelen sama lethek-letheknya. Lalu minum jamu seperti produk Sido Muncul, itu satu hal berubah. Jadi pengembangan ini bahwa jamu itu mantap ya luar biasa, harus dimodernisir," kata William.