Cara Universitas Udayana Sambut Maba: Tak Ada Jalan Jongkok, Harus Ceria

Rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) di Universitas Udayana (Unud) telah dilaksanakan pada tanggal 1 hingga 2 Agustus 2026. Kegiatan yang disebut PKKMB Prabhu Udayana tersebut terdiri atas dua rangkaian besar, yakni Pra-PKKMB dan puncak PKKMB.
Ketua Pelaksana PKKMB Prabhu Udayana 2026, I Kadek Krishna Suputra, mengungkap kegiatan pra-PKKMB dilaksanakan pada bulan Juli secara daring. Kegiatan tersebut terbagi menjadi dua kloter sesuai dengan jalur masuk mahasiswa baru, yakni kloter SNBP dan SNBT, serta kloter mandiri.
Krishna menyebut, mahasiswa baru (maba) akan dibagi ke dalam berbagai gugus dengan komposisi per gugus terdiri atas 100 orang. Dari jumlah gugus yang ada di hari puncak, Krishna mengestimasi jumlah mahasiswa baru mencapai 6.799 partisipan.
“Kegiatan pertama adalah Temu Pendamping Gugus I, dilaksanakan pemaparan materi secara singkat yang meliputi profil Udayana, budaya Udayana, hal-hal mendasar seperti sifat-sifat yang harus dimiliki, serta Mars dan Himne Udayana,” jelas Krishna ketika dihubungi pada Kamis (20/8).
Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan kegiatan pengembangan diri (capacity building) dan mentoring oleh mahasiswa aktif di Universitas Udayana yang memiliki pengalaman pengabdian, pendidikan, dan penelitian.
Pada tahun 2026 ini, terdapat kegiatan Gemilang Widyabawana atau paper mob. Krishna menyebut, Temu Pendamping Gugus II ditujukan untuk mempersiapkan mahasiswa baru dalam membawa kebutuhan paper mob, serta teknis pelaksanaannya.
Kegiatan Gemilang Widyabawana tersebut diselenggarakan pada 27 Juli dengan melibatkan 5.400 mahasiswa baru dari jalur masuk SNBP dan SNBT. Sebelum melangsungkan paper mob, terdapat sosialisasi dari Dinas Perhubungan, Komunitas NGO, serta organisasi olahraga Provinsi Bali.
“Kegiatan pada tanggal 1 dan 2 Agustus itu adalah hari puncak. Hari pertama ada pemaparan materi dari internal rektorat, dari Satgas PPKPT, unit perpustakaan, dan birokrat lainnya, lalu dilanjutkan dengan materi dari Kejaksaan Tinggi Bali,” ungkap Krishna.
PKKMB Prabhu Udayana juga memberi pengetahuan mengenai implementasi dari indikator pedoman PKKMB yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), serta bermasyarakat, bela negara, dan kebangsaan.
Selanjutnya terdapat materi tentang pengembangan diri, mahasiswa di era digital, serta informasi mengenai pengabdian dari Udayana, Beasiswa Gotong Royong, dan Aksi Peduli Lingkungan.
Prabhu Udayana hari kedua diisi dengan pengenalan organisasi mahasiswa (ormawa) dari 29 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Unud, serta BEM dan DPM dari 13 fakultas. Terdapat pula 6 paguyuban mahasiswa yang mempertontonkan budaya mereka.
“Kami punya paguyuban dari teman-teman Minang, Toraja, NTT, dan dari Jawa. Mereka menampilkan penampilan khas daerah masing-masing,” jelas Krishna.
Tak Ada Jalan Jongkok
Krishna menegaskan, tidak ada kegiatan perpeloncoan atau penindakan yang berlebih kepada mahasiswa baru. Fokus dari kegiatan Prabhu Udayana adalah sebagai wadah pembentukan karakter diri dan eksplorasi ke masa yang baru.
“Dari pendamping gugus dan seluruh panitia harus bersikap ramah dan memiliki pembawaan yang ceria. Misalnya selama pelaksanaan paper mob, panitia berjajar menyemangati mahasiswa baru dengan jargon dan yel-yel,” kata Khrisna.
Menurut Khrisna, mahasiswa baru datang dengan semangat yang tinggi mulai dari 1 jam sebelum pelaksanaan kegiatan PKKMB yang dimulai pukul 06.30 WITA. Para panitia bertugas untuk memperhatikan kesiapan, kelengkapan, hingga memastikan mahasiswa baru sudah sarapan sebelum memulai kegiatan.
Apabila ada mahasiswa baru yang melanggar ketentuan, terdapat standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan. Mahasiswa baru yang melanggar hanya dapat ditindak oleh sie keamanan dengan memperhatikan ketentuan dalam SOP.
“Mahasiswa baru tidak boleh dibentak, tidak boleh dikerumuni. Mereka cukup ditarik keluar dari barisan, dipaparkan kesalahannya, kemudian diperingatkan bahwa pelanggaran jika mengulangi kesalahan adalah ketidaklulusan dari PKKMB. Setelah itu, mereka dikembalikan untuk berkegiatan,” jelasnya.
Meskipun terdapat penindakan terhadap mahasiswa baru yang melakukan pelanggaran, Khrisna menyebut kegiatan PKKMB dikemas secara humanis, ceria, dan semangat di seluruh rangkaian kegiatannya.
Khrisna menilai, PKKMB Prabhu Udayana merupakan sarana untuk transisi dari budaya seorang siswa SMA menjadi mahasiswa yang bisa memanajemen diri. Selain itu, PKKMB dinilai sebagai wadah untuk membentuk karakter diri, mengeksplorasi kebudayaan kampus, serta menentukan pilihan mereka ingin menjadi mahasiswa yang seperti apa.
“Harapannya dengan implementasi nilai-nilai kampus, nilai-nilai budaya, dan nilai-nilai pengembangan diri, bisa menjadi bekal mereka untuk menempuh masa studi yang efektif, progresif, dan berdampak nyata,” ungkapnya.
Khrisna memandang nilai perpeloncoan sudah usang dan menciptakan tensi antara mahasiswa baru dengan mahasiswa lama. Penindakan untuk mahasiswa yang bermasalah pun harus dilakukan secara humanis dan dengan mekanisme yang sesuai agar tidak menimbulkan konflik berkepanjangan.
“Orientasi adalah bentuk memanusiakan manusia oleh pihak panitia. Saya rasa, perpeloncoan atau tindakan yang cukup berlebihan, terutama fisik, sudah tidak relevan lagi dengan lingkungan kampus,” kata dia.
Tugas Terjun ke Masyarakat
Krishna menyebut, tema yang dibawakan oleh PKKMB Prabhu Udayana 2026 berhubungan dengan aksi nyata dan terjun ke masyarakat. Mahasiswa baru memiliki tugas untuk mensosialisasikan 3 tema besar, yakni kelestarian lingkungan, kegiatan sosial, serta ekonomi.
“Seperti pengolahan sampah dan daur ulang. Untuk kegiatan sosial, ada sosialisasi sederhana terkait pentingnya kesehatan mental, pencegahan kekerasan seksual, dan lain-lain ke masyarakat. Terakhir, mereka melakukan sosialisasi terkait merek UMKM yang ada di Bali. Mereka melakukan promosi ibaratnya,” terang Krishna.
Penugasan lainnya adalah pemaparan mengenai kebudayaan. Mahasiswa baru Unud yang berasal dari berbagai suku diajak untuk memaparkan kebudayaan mereka dalam video interaktif berupa peragaan dan penjelasan filosofi kebudayaan.
“Mereka juga diajarkan untuk branding diri dan mengenalkan mereka bahwa di dunia kerja, profil sangat penting. Ada juga penugasan membuat CV sesuai dengan format perusahaan pada umumnya. Itu modal pertama mereka untuk terjun di dunia kerja,” ungkapnya.
Terdapat pula penugasan Dance Bakti Udayana yang mengharuskan mahasiswa baru melakukan tarian Bakti Udayana di tempat-tempat yang dinilai punya nilai sejarah dan nilai foto. Di tempat tersebut, mahasiswa baru juga memaparkan alasan pemilihan tempat dan makna dari tempat itu.
“Rangkaian agenda yang kami lakukan dikemas dengan komitmen. Kami komitmen dengan panitia dosen, tidak boleh ada perpeloncoan dari panitia dan dibawakan ke teman-teman mahasiswa,” tegas Krishna.
