Catatan dari Gunung Ciremai: Menembus Medan Ekstrem demi Tuntaskan Karhutla

Malam merayap di lereng Gunung Ciremai. Cahaya matahari telah lama berganti dengan gelap yang menyelimuti hamparan bebatuan vulkanik serta vegetasi menghitam akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Di ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut (mdpl), sepuluh orang relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) Paguyuban Silihwangi Majakuning bertahan di tengah dinginnya malam.
Tanpa tenda, mereka beristirahat seadanya hanya beralas abu sisa kebakaran di sela-sela bebatuan terjal menuju Gunung Dulang, kawasan zona rimba Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).
Misi mereka bukan untuk menikmati keindahan alam. Sejak Minggu (25/10), tim khusus ini mengemban tugas krusial yakni menyisir sisa kebakaran dan memadamkan bara api tersembunyi yang berpotensi memicu bencana susulan.
Gunung Dulang, bukit yang berada di sekitar zona rimba Ciremai, menjadi sasaran utama setelah warga melaporkan adanya kepulan asap.
Asap tersebut diduga berasal dari batang pohon tumbang yang terbakar di bagian dalam dan menyimpan bara panas.
Bagi para relawan, kepulan asap sekecil apa pun bukanlah persoalan sepele. Terlebih, kawasan tersebut berbatasan langsung dengan zona rimba yang menjadi habitat beragam satwa dan ekosistem alami Ciremai.
Ketua MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning, Nandar Junar Arif, S.Hut., mengatakan tim yang diterjunkan telah diseleksi secara ketat dengan mempertimbangkan ketahanan fisik, pemahaman medan, serta kesiapan menghadapi risiko.
"Kami menyiapkan tim khusus untuk menembus medan ekstrem ini. Dari sejumlah relawan yang menyatakan siap, kami batasi sepuluh orang, juga memperhatikan faktor keselamatan dan logistik," ujar Nandar, Selasa (27/10).
Ekspedisi ini dipimpin oleh Dodo Darsa, relawan MPA asal Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan, yang sebelumnya sempat mencuri perhatian publik berkat aksi heroiknya menyelamatkan seekor bayi surili saat karhutla berkecamuk.
Sebagian besar anggota tim memang berasal dari desa-desa penyangga TNGC, sehingga mereka sangat akrab dengan karakter bentang alam Ciremai.
Bertaruh Nyawa di Jalur Terjal "Benteng Ciremai"
Perjalanan dimulai dari Bukit Seribu Bintang (BSB) sekitar pukul 17.00 WIB setelah berkoordinasi dengan tim gabungan dari Balai TNGC dan kepolisian.
Membelah savana luas berilalang tinggi dan menerobos kegelapan malam dengan mengandalkan cahaya senter, tantangan kian meningkat ketika jalur memasuki kawasan hutan Leuweung Saeutik dan Leuweung Panjang.
Medan kemudian berubah menjadi hamparan bebatuan vulkanik terjal yang dikenal warga setempat sebagai Benteng Ciremai, sebuah kawasan cekungan berdinding batu alami yang menyerupai benteng pertahanan.
Di antara abu kebakaran, tampak beberapa bunga edelweis bertahan layu. Tanpa bantuan tali pengaman, para relawan harus meniti tebing curam dengan kemiringan ekstrem, mengandalkan ketajaman membaca jalur dan pijakan demi keselamatan bersama.
Menjelang tengah malam, karena perjalanan sudah terlalu berisiko, tim memutuskan beristirahat di ruang terbuka tanpa tenda, memanfaatkan celah bebatuan dan sela pohon di tengah suhu pegunungan yang membeku.
Menemukan Titik Bara dan Kehadiran Hujan yang Dinantikan
Keesokan paginya, Senin (26/10), tim dibagi menjadi dua kelompok untuk mendaki jalur dengan kemiringan di atas 50 derajat menuju puncak Gunung Dulang.
Di sana, mereka mendapati bara api bersarang di dalam batang pohon besar berdiameter lebar.
Menggunakan peralatan yang memadai, para relawan berjibaku memotong dan memecah bagian kayu yang membara selama kurang lebih dua jam hingga menjelang tengah hari.
Di tengah kelelahan dan persediaan air bersih yang semakin menipis, secercah harapan muncul. Menjelang siang, gerimis mulai turun membasahi kawasan pegunungan, yang tak lama kemudian berubah menjadi hujan cukup deras selama kurang lebih 20 menit.
Guyuran air hujan disambut takbir dan rasa syukur oleh para relawan yang sejak malam sebelumnya bertahan tanpa sumber air.
"Tadinya kami akan berusaha menyisir lagi potensi titik api. Kami siap bermalam untuk melanjutkan penyisiran hingga Selasa. Karena jika kawasan tersebut terbakar, api akan mengarah ke zona rimba dan inti. Alhamdulillah ada hujan turun sehingga kami memutuskan untuk kembali ke pos Bukit Seribu Bintang," ungkap Dodo.
Temuan Misterius di Tengah Perjalanan
Selain kerja keras pemadaman, perjalanan tersebut juga menyisakan cerita tersendiri bagi jurnalis lokal Kuningan, Bubud Sihabudin, yang turut mendampingi rombongan.
Selain mengalami luka lecet akibat medan terjal, ia tak sengaja menemukan sebuah selongsong peluru berukuran besar khusus untuk senjata jarak jauh di atas 1 kilometer di sekitar kawasan Benteng Ciremai.
Tanpa merek maupun keterangan pabrik, temuan tersebut langsung diserahkan kepada pihak paguyuban untuk dilaporkan kepada pengelola TNGC dan pihak berwenang guna pemeriksaan lebih lanjut.
Meski operasi penyisiran telah usai dan tim berhasil kembali dengan selamat ke posko, dedikasi para relawan MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning menjadi bukti nyata kelestarian Gunung Ciremai tidak hanya bergantung pada operasi skala besar, tetapi juga pada ketulusan tangan-tangan warga lokal yang senantiasa siaga menjaga rumah alam mereka.
