Cegah Kontroversi, Unair-TNI-BIN Diminta Komunikasikan Obat Corona dengan Baik

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kombinasi obat corona temuan UNAIR hasil kerja sama dengan beberapa institusi pemerintah. Foto: Youtube/@BNPB
zoom-in-whitePerbesar
Kombinasi obat corona temuan UNAIR hasil kerja sama dengan beberapa institusi pemerintah. Foto: Youtube/@BNPB

Obat corona hasil uji klinis tahap III yang dikembangkan Universitas Airlangga (Unair) kini sedang menunggu tindak lanjut dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Obat ini merupakan hasil kerja sama antara Unair dengan TNI dan Badan Intelijen Negara (BIN).

Anggota Komisi I DPR Fraksi NasDem Muhammad Farhan menyambut baik keterlibatan TNI dan BIN dalam menemukan obat corona Unair. Namun, ia menyarankan Unair, TNI, dan BIN agar tak terburu-buru mengklaim temuan mereka sebagai obat corona.

"Kami apresiasi usaha dari BIN dan TNI yang kerjasama dengan Unair menemukan protokol pengobatan COVID-19. Namun, kalau boleh saran, karena kombinasi obat yang digunakan bukanlah berasal obat-obatan yang baru ditemukan, maka ada baiknya obat COVID-19 ini jangan disebut obat baru," kata Farhan saat dihubungi, Rabu (19/8).

Kombinasi obat corona temuan UNAIR saat dibeberkan di BNPB 12 Juni 2020. Foto: Youtube/@BNPB

Untuk itu, ia meminta kerja sama antara Unair, BIN, dan TNI agar dapat mengkomunikasikan temuan obat corona ini agar tak menimbulkan kontroversi.

"Komunikasinya bisa dituduh klaim berlebihan, ini bisa jadi tertawaan dunia. Sebaiknya, niat baik dan kerja keras luar biasa BIN, TNI dan Unair ini dikomunikasikan dengan baik sehingga tidak perlu menimbulkan kontroversi," ujar dia.

Menurut Farhan, sebaiknya temuan ini lebih baik disebut sebagai tata laksana pengobatan baru untuk pasien kasus virus corona. Obat baru Unair merupakan hasil kombinasi dari tiga jenis obat yakni Lopinavir/Ritonavir dan Azithromycin, Lopinavir/Ritonavir dan Doxycycline, dan Hydrochloroquine dan Azithro.

Wakil Ketua Komite Pelaksana Penanganan COVID-19 dan PEN Andika Perkasa (kanan) menerima hasil uji klinis tahap tiga obat baru COVID-19 dari Rektor Universitas Airlangga (Unair) Mohammad Nasih di Jakarta, Sabtu (15/8/2020). Foto: ADITYA PRADANA PUTRA/ANTARA FOTO

"Kombinasi berbagai obat yang sudah ada di pasaran ini sebelumnya, sebaiknya disebut menemukan tata laksana pengobatan baru untuk COVID-19," tuturnya.

Politikus NasDem itu mengingatkan jangan sampai temuan obat ini menjadi polemik, dan lebih baik menggunakan pendekatan konservatif. Sehingga, prinsip kehati-hatian tetap diutamakan dan masyarakat lebih paham dengan obat ini.

"Pendekatan konservatif atau kehati-hatian (prudent) dalam hal pengobatan perlu dijaga tata kelola dan tata laksananya. Kita enggak mau ada kontroversi," sebutnya.

kumparan post embed

"Perjuangan ini membutuhkan kesatuan langkah seluruh elemen bangsa dan tugas TNI serta BIN memastikan itu terlebih dahulu," tutup Farhan.

Sebelumnya, KSAD Jenderal Andika Perkasa selaku Wakil Ketua Pelaksana I Komite PCPEN mengungkapkan obat corona ini akan diajukan ke Kepala BPOM untuk permohonan izin edar. Obat ini diklaim memiliki keampuhan hingga 98 persen untuk menyembuhkan pasien corona.

embed from external kumparan

=====

Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona