Cegah Penyebaran, Kemenkes Diminta Lebih Banyak Uji Sampel Corona

Jumlah pasien positif virus corona di Indonesia melonjak menjadi 19 orang pada Senin (9/3). Untuk mengantisipasi jumlah pasien semakin meningkat, Kemenkes diminta menambah alat pendeteksi virus corona.
Anggota Komisi IX DPR, Dewi Aryani, mengatakan dengan wilayah yang luas, Kemenkes seharusnya memiliki alat pendeteksi corona yang memadai.
Dewi memprediksi jumlah alat pendeteksi corona yang dimiliki Kemenkes saat ini masih kurang, lantaran jumlah orang yang diambil sampelnya baru ratusan. Itu pun, kata dia, mayoritas di Jawa. ( Berdasarkan data Kemenkes per Selasa (10/3), jumlah yang diambil sampelnya sebanyak 694 orang).
Padahal, kata Dewi, sejumlah negara seperti Singapura hingga Korea, telah melakukan tes terhadap ribuan orang.
"Menkes sebaiknya jujur ada berapa jumlah alatnya dan berapa jumlah pasien yang sudah dites dalam beberapa waktu ini. Kita lihat Singapura, Korea, dan lain-lain, mereka sudah melakukan tes kepada puluhan ribu bahkan ratusan ribu orang," kata Dewi dalam keterangan tertulisnya, Selasa (10/3).
"Masa Indonesia hanya melakukan tes hanya kepada sebanyak 300-an orang saja. Tidak masuk akal dengan dengan luasan wilayah dan pintu masuk ke negara ini yang begitu banyak dan beragam. Something is just not right," lanjutnya.
Politikus PDIP itu meminta Kemenkes segera bertindak cepat untuk mengantisipasi penyebaran virus semakin meluas. Salah satunya dengan menambah jumlah alat pendeteksi corona, sehingga jumlah sampel yang diambil semakin banyak.
"Cobalah pemerintah lebih terbuka dan jika memang dibutuhkan segeralah melakukan langkah cepat untuk menambah alat dan menambah jumlah orang yang dilakukan tes," kata dia.
"Bukan untuk membuat panik, tapi lakukan secara proporsional merata di semua provinsi. Jangan anggap sepele dan santai menyikapi hal ini," tutupnya.
