Cegah Perkosaan Anak, Filipina Ubah Batas Minimum Usia Persetujuan Seksual

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pelecehan seksual Foto: Nugroho Sejati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pelecehan seksual Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Presiden Filipina, Rodrigo Duterte menandatangani undang-undang yang menaikkan usia minimum persetujuan seksual dari 12 tahun menjadi 16 tahun. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kantor Kepresidenan pada hari Senin (7/3).

Dikutip dari Reuters, langkah Duterte itu merupakan bagian dari upaya untuk melindungi anak di bawah umur dari pemerkosaan dan pelecehan seksual.

UNICEF melaporkan, Filipina merupakan salah satu negara dengan usia minimum persetujuan seks terendah di dunia. Di belakang Filipina terdapat Nigeria dengan batas usia minimal 11 tahun.

Presiden Filipina, Rodrigo Duterte. Foto: Reuters

Sebuah studi bersama tahun 2015 yang diselenggarakan oleh UNICEF dan Pusat Sumber Daya Wanita, menunjukkan 7 dari 10 korban pemerkosaan di Filipina merupakan anak-anak.

Studi itu juga mengungkap bahwa 1 dari 5 responden yang berada dalam rentang usia 13 hingga 17 tahun, telah mengalami kekerasan seksual. Sementara 1 dari 25 responden mengalami seks paksa selama masa kanak-kanak.

Di bawah undang-undang netral gender yang disahkan Duterte, setiap orang dewasa yang melakukan kontak seksual dengan siapa pun berusia 16 tahun ke bawah akan dianggap melakukan pemerkosaan.

Namun terdapat pengecualian jika perbedaan usia di antara mereka tidak lebih dari tiga tahun, terbukti bertindak atas dasar suka sama suka, serta tidak dengan kekerasan atau eksploitatif.

Namun, pengecualian itu tidak berlaku ketika salah satu dari mereka yang terlibat berusia di bawah 13 tahun.

"Kami menyambut baik perkembangan hukum ini dan berharap ini akan membantu melindungi gadis-gadis muda dari pemerkosaan dan pelecehan seksual," kata juru bicara Persatuan Nasional Pengacara Rakyat Josalee Deinla.

Salah satu sponsor utama RUU itu, Lawrence Fortun menggambarkan langkah Duterte sebagai "langkah maju yang besar".

"Saya gembira bahwa upaya kolektif kami untuk mendorong perlindungan yang lebih kuat terhadap pemerkosaan dan bentuk-bentuk pelecehan seksual lainnya semakin maju," katanya dalam sebuah pernyataan.

Penulis: Sekar Ayu.