Cek Data: Benarkah Kualitas Udara di Jakarta Makin Memburuk?

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jakarta jadi kota dengan kualitas udara terburuk di dunia pada Rabu (15/6) siang. Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
zoom-in-whitePerbesar
Jakarta jadi kota dengan kualitas udara terburuk di dunia pada Rabu (15/6) siang. Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

Jakarta sempat menjadi kota dengan kualitas udara terburuk di dunia pada Rabu (15/6) siang. Hal ini tampak dari skor Air Quality Index (AQI) yang tinggi, yakni 167.

Angka AQI itu bahkan sempat menyentuh angka 188 di hari yang sama pada pukul 11.00 WIB. Tingginya nilai AQI ini menggambarkan kualitas udara DKI Jakarta masuk dalam kategori tidak sehat.

Buruknya kualitas udara di Ibu Kota juga dapat dirasakan langsung oleh warga di Jakarta. Kala itu, sejumlah orang dapat dengan mudah melihat udara yang berkabut. Terlebih ketika dilihat dari gedung-gedung yang tinggi.

"Kemarin Jakarta kayak mendung banget. Ternyata kabut polusi," kata Rahmah Widjayanti, salah seorang pekerja kantoran di Jakarta Selatan, Kamis (16/6).

Kualitas udara Jakarta terburuk se dunia berdasarkan AQ Index (15/6/2022). Foto: Screenshot/IQ Air

Sementara itu, data AQI yang sempat jadi perbincangan publik di media sosial itu disediakan oleh IQ Air. Platform itu menyediakan data kualitas udara secara real-time dari berbagai kota di seluruh dunia di situs mereka.

Sumber datanya adalah dari para kontributor seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehuatan, BMKG, perusahaan swasta, hingga individu.

Kategori Skor AQI US dan PM2.5

Table Embed

Menampilkan 10 data dari 6 data

Level AQI US
Level PM2.5 (μg/m³)
Kategori
Keterangan
0-50
0-12.0*
Baik
*kategori baik ini lebih tinggi dari standar WHO (<10 μg/m³)
51-100
12.1-35.4
Sedang
101-150
35.5-55.4
Tidak sehat untuk kelompok sensitif
151-200
55.5-150.4
Tidak sehat
201-300
150.5-250.4
Sangat tidak sehat
301+
250.5+
Berbahaya

Nah, naik turunnya indeks kualitas udara pun menjadi sangat dinamis. Dalam hitungan menit, rangking sebuah kota atau negara dapat berubah. Setiap tahunnya, platform tersebut juga akan merekap seluruh data-data tersebut.

Pada 16 Juni 2022 pukul 15.30 WIB, misalnya, Jakarta berada di posisi ke-5 dengan skor AQI 119. Ini menjadikan Jakarta sebagai kota besar dengan kualitas udara terburuk di dunia. Posisi ini hanya beda satu peringkat dengan Dubai, UEA (peringkat 4).

embed from external kumparan

Langganan Kualitas Udara Terburuk

Terkait kualitas udara di Jakarta pada Rabu (15/6) lalu, Humas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Yogi Ikhwan membenarkan bahwa saat ini memang sedang tidak baik.

“Pada tanggal 15 Juni 2022 sejak dini hari, kelembaban tinggi, sedangkan suhunya rendah, akibatnya polutan pencemar udara terakumulasi di lapisan troposfer,” ujar Yogi.

Berdasarkan penelusuran kumparan di situs IQ Air, Jakarta sebetulnya memang langganan masuk ke jajaran teratas daerah-daerah dengan kualitas udara terburuk di dunia.

embed from external kumparan

Menurut data World Air Quality Report, Jakarta berada di peringkat ke-5 sebagai kota dengan kualitas udara terburuk dunia pada tahun 2019. Kala itu, kualitas udara mencapai skor rata-rata 49.4.

Skor tersebut merupakan rata-rata konsentrasi particulate matter PM2.5 dalam mikrometer per kubik (µg/m³). PM2.5 adalah polutan udara berukuran 2,5 mikron yang mampu masuk ke pernapasan manusia dan peredaran darah hingga menyebabkan berbagai penyakit. Ukurannya hanya sekitar 3 persen dari diameter rambut manusia.

Polutan ini bisa dihasilkan dari asap kendaraan bermotor, sisa pembuangan industri, hasil pembakaran, dan reaksi kimia di atmosfer.

Semakin besar nilainya, maka semakin tinggi polusi udara di daerah tersebut. Meski tak ada satu pun level paparan PM2.5 yang bebas dari resiko penyakit, WHO menetapkan standar aman adalah 0-10.0 µg/m³ atau skor 0-50 untuk AQI.

Table Embed

Menampilkan 10 data dari 4 data

Tahun
Peringkat Jakarta (Makin Kecil Makin Buruk)
2021
12
2020
9
2019
5
2018
10

Nah, skor rata-rata Jakarta di tahun 2019 adalah 49.4. Artinya, nilai tersebut nyaris lima kali lipat lebih tinggi dari standar aman WHO.

Tahun berikutnya, 2020, Jakarta bertengger di peringkat 9 dunia dengan skor lebih rendah, yaitu 39.6. Kemudian pada tahun 2021, Jakarta ada di peringkat 12 dengan rata-rata skor tahunan 39,2.

Hal yang perlu dicatat, turunnya tingkat PM2.5 dan turunnya peringkat Jakarta pada tahun 2020 dan 2021 tidaklah terjadi dalam situasi normal. Penurunan skor ini disebabkan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) saat awal COVID-19 masuk ke Indonesia. Kebijakan tersebut dimulai sejak 10 April 2020 dan terus diperpanjang secara berkala.

video youtube embed

Selama PSBB, pemerintah membatasi mobilitas masyarakat Jakarta. Masyarakat diimbau agar tetap di rumah untuk mencegah penyebaran virus corona. Selain itu, kantor dan pusat perbelanjaan dilarang buka.

"Kendaraan dilarang keluar, kecuali untuk pemenuhan kebutuhan pokok. Jadi kalau mereka harus belanja kebutuhan pokok, silakan. Tapi kalau untuk jalan-jalan, jangan," kata Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam wawancara eksklusif dengan kumparan, Jumat (10/4/2020).

Usai PSBB, pemerintah juga menetapkan aturan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) berlevel sejak awal tahun 2021. Aturan ini juga membatasi mobilitas masyarakat Jakarta, namun lebih longgar dibandingkan masa PSBB. Masyarakat pun dapat bekerja dari kantor, walaupun kapasitasnya belum 100 persen.

Selain itu, skor rata-rata konsentrasi PM2.5 pada tahun 2020 dan 2021 di Jakarta masih tergolong sangat tinggi. Angka rata-rata 39,2 itu diklasifikasikan tidak sehat untuk kelompok sensitif. Angka tersebut juga masih jauh dari angka ideal yang ditetapkan WHO, yaitu 0-12 PM2.5.

Melihat Kualitas Udara di RI

embed from external kumparan

Di tingkat nasional, Jakarta mejadi wilayah dengan tingkat polusi terparah di Indonesia tahun 2021. Menyusul di bawah DKI ada Surabaya (34.8), Bandung (33.4), Semarang (28.6), dan Palembang (26).

Di sisi lain, daerah dengan udara berkualitas baik tahun 2021 dipuncaki Indralaya, Sumatera Selatan, dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 4.2 µg/m³. Wilayah yang masuk 10 besar didominasi oleh Provinsi Bali, Jabar, dan Sumsel.

embed from external kumparan

Polusi PM2.5 Membunuhmu

Polusi dikenal sebagai salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Pada tahun 2017, Institute for Health Metric melaporkan, sebanyak 8,3 juta orang meninggal akibat polusi udara, air, tanah, dan bahan kimia.

Jumlah kematian prematur akibat udara yang tercemar pun terus meningkat setiap tahunnya, terlebih pada negara dengan populasi tinggi.

Data yang dihimpun Global Alliance on Health and Pollution tahun 2019 menunjukkan bahwa India dan China berada di peringkat atas untuk kematian prematur tertinggi akibat polusi. Dua negara ini memang punya populasi mencapai milyaran orang. Selain itu, sektor industri di negara tersebut juga berkembang pesat.

embed from external kumparan

Indonesia juga masuk ke daftar ini. Penelitian tersebut turut memuat RI dalam daftar kematian tertinggi akibat polusi per 100 ribu populasi.

Di antara 10 negara Asia, Indonesia berada di posisi enam dengan rate 88. Artinya, ada 88 orang yang meninggal di antara 100 ribu populasi karena polusi tiap tahunnya. Penyebab kematian terbesar di Asia Tenggara adalah polusi udara.

Polusi udara merupakan penyebab kematian bagi 17 persen penyakit kardiovaskular, 21 persen penyakit jantung iskemik, 16 persen stroke, 56 persen penyakit paru akut, serta 33 persen kanker paru.

Paparan polusi akibat asap kendaraan dan bahan-bahan kimia berbahaya juga berdampak pada disabilitas yang bisa berujung pada kematian.

Anak-anak yang terpapar polusi sejak kecil memiliki risiko kerusakan perkembangan saraf otak. Hal ini berefek buruk pada perkembangan intelektual mereka untuk jangka panjang.