kumparan
27 Mei 2019 14:59

Cek Fakta Sejarah: Benarkah Andalusia Hancur karena Musik?

Andalusia, Spanyol
Andalusia, Spanyol Foto: Shutter Stock
Di media sosial, publik sempat ramai membicarakan soal hancurnya salah satu peradaban Islam di dunia, Andalusia (Spanyol). Mereka menyebut musik dan lagulah yang mengakibatkan kehancuran itu.
ADVERTISEMENT
Narasi-narasi yang menyebar adalah musik melenakan penduduk muslim Andalusia. Padahal, sebelumnya mereka adalah kekuatan besar di dunia pada abad 6 M hingga pertengahan.
“Andalusia jatuh ke tangan Nasrani karena telah merebaknya musik serta biduan. Kemudian merebaknya syair syair cinta nan memabukkan. Para pemuda ketika itu sibuk dengan syair tentang cinta dan rindu. Berbanding dengan pemuda zaman sahabat yang berebut hendak memenggal Abu Jahal,” demikian salah satu petikan kutipan yang muncul di akun Twitter @RezaHasbii.
Mereka menyebutkan bahwa musik sebagai penghancur moral bangsa Andalusia. Bangsa Andalusia yang tadinya kuat kemudian terpecah belah.
Lalu, apakah sejarah mencatat demikan?
Andalusia adalah titik awal penyebaran Islam di Eropa. Kawasan yang biasa disebut juga Semenanjung Iberia ini merupakan wilayah Spanyol dan sekitarnya.
ADVERTISEMENT
Dalam ‘History of The Arabs’ karya Philip K Hill, ekspansi pasukan Muslim ke Andalusia merupakan bagian penting dari sejarah penyebaran Islam di dunia. Fase terakhir dan paling menguras emosi dari seluruh operasi militer penting yang dijalankan oleh orang-orang Arab.
“Serangan Bani Umayah ke gerbang barat daya Eropa itu menandai puncak ekspansi Muslim ke wilayah Afrika-Eropa,” kata Hill.
Detail dekorasi Istana Alhambra di Granada
Detail dekorasi di Istana Alhambra Granada, Spanyol. Foto: Shutter Stock
Namun dalam perjalanannya, Andalusia akhirnya menemui sejumlah masalah. Kebanyakan adalah perselisihan di antara bangsa mereka sendiri hingga akhirnya hancur.
Dikutip dari buku ‘Bencana-bencana Besar dalam Sejarah Islam’ karya Fatih Zaghrut, Andalusia hancur karena beberapa faktor. Dia merumuskannya ke dalam 6 poin besar:
  1. Perselisihan antarkerajaan Muslim di Andalusia. Akibatnya, kekhalifahan Al-Andalus pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang disebut Taifa
  2. Konflik dengan umat Kristen
  3. Pemerintah Muslim banyak yang larut dalam kemewahan tapi tidak memperhatikan rakyat.
  4. Munculnya pemimpin-pemimpin lemah yang memegang kekuasaan
  5. ‘Kalah’ dari perjanjian soal penyerahan Granada di 1492. Di sana termaktub, rakyat Muslim di seantero Andalusia bisa hidup dengan damai. Nyatanya tidak, malah Reconquista yang dikumandangkan oleh Isabella.
  6. Ada andil posisi Al-Andalus yang di pojok dunia Muslim (yang terdekat hanya Maroko). Pada waktu itu komunikasi dan informasi belum terlalu bagus sehingga kabar Andalus hanya sayup-sayup terdengar di negeri Muslim yang lainnya dan mereka tidak bisa memberikan pertolongan dengan cepat.
ADVERTISEMENT
Dirincikan oleh Adenan dari UIN Sumatera Utara dalam ‘Sistem Politik Islam Periodesasi Bani Umayah di Andalusia’, kemunduran Islam di Andalusia berawal dari naik takhtanya Hisyam II sebagai raja. Sebagai simbol, ia memimpin di usia yang sangat muda, 11 tahun.
Namun di lapangan, yang menjadi raja secara faktual adalah Ibnu Amir. Ia dikenal sebagai raja yang rakus akan kekuasaan.
Kekacauan mulai terjadi. Namun tak lama kemudian Ibnu Amir wafat, dan digantikan oleh anaknya, Al Muzaffar, pada tahun 1002 M.
Beberapa tahun berjalan, kepemimpinan Khalifah Hisyam II semakin kacau. Hingga akhirnya pada tahun 1009 ia mundur dan sistem kekhalifahan dihapus.
“Andalusia terpecah menjadi negara-negara kecil,” tulisnya.
Istana Alhambra di Granada, Spanyol
Istana Alhambra di Granada, Spanyol. Foto: Shutter Stock
Di antara kerajaan-kerajaan kecil yang berhasil masuk ke Andalusia adalah Dinasti Muwahiddun pada tahun 1114 M. Setelah 40 tahun mereka berhasil menguasai daerah-daerah penting seperti Cordova, Almeria, dan Granada.
ADVERTISEMENT
Namun tak lama kemudian, kekuatan Kristen datang dipimpin oleh Ferdinand dan Isabella. Granada akhirnya jatuh ke tangan mereka. Kemudian berlanjut secara bertahap ke wilayah-wilayah lainnya
Saat itu umat Islam yang sudah terdesak diberi tiga pilihan. Masuk Kristen, keluar dari Spanyol atau dihukum bunuh.
“Kebanyakan dari mereka memilih pilihan kedua,” ungkapnya.
Mereka kebanyakan pindah ke wilayah Afrika. Hingga pada 1609, sama sekali tidak tersisa lagi kekuasaan Islam di sana.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan