Cerita Aulia Gelantungan di Pohon Selama 3 Jam saat Banjir 2,5 Meter di Denpasar

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Aulia (43), salah satu pengungsi korban banjir di Bali. Foto: Denita BR Matondang/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Aulia (43), salah satu pengungsi korban banjir di Bali. Foto: Denita BR Matondang/kumparan

Aulia (43 tahun) tak kuasa menahan air mata memikirkan beban dan cara menjalani hidup ke depannya usai rumahnya hancur diterjang banjir.

Rumah itu dihuni bersama ibunya berusia 70 tahun, kakak kandungnya berusia 45 tahun yang stroke, serta suami dan anaknya yang masih berusia 11 tahun. Tempat berlindungnya itu kini porak poranda diterjang banjir setinggi 2,5 meter. Rumah indekos itu berada di Jalan Siulan, Desa Kesiman Kertalangu.

"(Kondisi rumah kos) parah banget, hancur lebur, dinding bagian jebol, barang semua hilang, baju enggak ada, HP gak ada, gak ada uang, ga ada mikirin mau menyelamatkan harta cumasurat-surat berharga aja yang sempat dibawa," katanya sambil mengelap sesekali air mata di wajahnya.

Hal itu diungkapkan Aulia saat ditemui di tempat pengungsian banjir di Banjar Tohpati, Desa Kesiman Kertalangu, Kota Denpasar, Bali, Kamis (11/9).

Aulia sudah mengecek kondisi rumah kos usai banjir surut. Namun, hatinya makin pilu. Rumah kos justru dipenuhi sisa banjir seperti campuran tanah dan sampah. Sampah itu berupa plastik, kayu, pohon pisang dan lain sebagainya.

"(Tinggi sisa banjir di rumah kos) bukan sebetis lagi tapi segini (nunjuk dada). Enggan tahu kapan bisa dibersihin dan gak mungkin bisa bersihin sendiri," katanya.

Sejumlah warga yang terdampak banjir berada di tempat pengungsian di Banjar Tohpati, Desa Kesiman Kertalangu, Kota Denpasar, Bali, Kamis (11/9/2025). Foto: Denita BR Matondang/kumparan

Aulia yang sehari-hari berjualan es kelapa dengan suaminya, saat ini cuma bisa pasrah dan berharap banjir tak lagi melanda dan petugas bisa membantu membersihkan rumah kos. Dia juga tak tahu harus berapa lama mengungsi.

"Kemarin dan tadi sama suami ke rumah tapi tidak bisa membersihkan masih banyak sampah, belum bisa dikendalikan," sambungnya.

Ditambah Aulia selalu memikirkan ibu dan kakaknya yang stroke. Petugas kesehatan terpaksa mengevakuasi ibunya ke rumah sakit karena demam, kena hujan saat banjir. Sang ibu harus berpisah dengan keluarga.

Aulia menceritakan, banjir bermula saat hujan turun tiada henti sejak Selasa (9/9) hingga Rabu (10/9), sekitar pukul 02.00 WITA. Sungai Tukad Batubulan di dekat Jalan Siulan meluap. Aulia terbangun dari kasur dan kaget melihat indekosnya sudah banjir setinggi betisnya.

Sebuah kuil Hindu terendam banjir setelah hujan deras di Denpasar, Bali, Indonesia, Rabu (10/9/2025). Foto: Sonny Tumbelaka/AFP

Dia lalu membangunkan ibu, kakak, suami dan anaknya. Namun, tinggi air meningkat cepat sehingga Aulia memutuskan mengevakuasi ibu dan kakaknya ke atap pura dekat rumah. Anak dan suaminya menyusul ke pura.

"Waktu kejadiannya sekitar jam tiga pagi tinggi airnya hampir 2,5 meter. Awalnya di dalam kos tapi air makin tinggi, makin tinggi akhirnya saya evakuasi ke luar, saya tarik ibu saya sama kakak saya," katanya.

Bantu Tetangga, Hanyut dan Gelantungan

Aulia jago berenang sehingga tak tega melihat tetangganya terjebak banjir di rumah. Aulia membantu sekitar 6 tetangganya dengan menariknya dari banjir lalu mencari titik aman baik di pohon-pohon dan atap rumah. Nahas, Aulia hanyut dibawa air banjir.

Aulia tak mau menyerah sehingga dia berhasil berpegang pada pohon Kamboja. Aulia seorang diri bergelantungan di pohon itu sampai pukul 06.00 WITA lebih. Aulia menunggu sampai dievakuasi petugas BPBD dengan perahu karet.

"Saya gelantungan di pohon, kan saya hanyut, saya Alhamdulilah masih bisa berpegang sama pohon. Akhirnya selamat, saya kan menyelamatkan 10 orang, saya tahan, kakak saya kan stroke, gak bisa ngapa-ngapain saya nolong dia dulu, baru sama suami nolong anak, 10 orang sama tetangga saya selamatin, akhirnya saya kiter tapi Alhamdulilah ada kayu, saya gelantungan di sana selama 3 jam," katanya.

Trauma, Bapak di Bali Tak Mau Tinggal Lagi di Area Banjir

Sejumlah warga yang terdampak banjir berada di tempat pengungsian di Banjar Tohpati, Desa Kesiman Kertalangu, Kota Denpasar, Bali, Kamis (11/9/2025). Foto: Denita BR Matondang/kumparan

Rasa gundah gulana itu juga dirasakan korban lainnya bernama Hendra (35 tahun). Hendra masih trauma tinggal di sekitar Jalan Siulan karena musibah ini hampir membuat dirinya kehilangan anaknya yang masih berusia 4 bulan dan 6 tahun.

Hendra, istri dan kedua anaknya tertidur lelap di kasur tipis saat Kota Denpasar dilanda hujan di sebuah indekos. Hendra terbangun dan melihat air mulai masuk dari pintu kos. Nahas, saat Hendra membuka pintu air masuk dalam jumlah besar.

Hendra sontak membangunkan istri dan mencari anaknya yang balita di sekitar kasur sampai ketemu. Hendra bahkan sempat berpikir nekat, yakni menenggelamkan diri bersama seluruh keluarga apabila si balita tak ditemukan.

Hendra dan keluarganya berada di plafon indekos selama banjir berlangsung. Hendra dan keluarga selanjutnya dievakuasi ke tempat pengungsian.

"Ini sempat waktu saya belum tahu ada banjir, saya baru sadar kalau itu ternyata di bawah pintu keluar air kecil, saya buka langsung besar. Ini (anak yang bayi) aja sempat nggak ada, saya cariin. Ya Alhamdulillah ini bisa hidup," katanya dengan berurai air mata.

Hendra baru satu bulan tinggal di kawasan itu karena kebutuhan proyek bangunan. Hendra memutuskan keluarga akan tinggal sementara di pengungsian sembari mencari tempat tinggal lain.

Rumah bedeng pun tak jadi soal asal tak kembali ke sana. Hendra pun masih berat menginjakkan kaki ke indekos itu untuk mengambil barang sisa.

"Ya sudah, gimana hatinya campur aduk. Jangan sampai terulang lagi kayak gini, pokoknya jera lah kita cari amannya aja. Namanya musibah kita nggak tahu. Tadi saya ngecek ke sana (kos), nggak saya bersihin langsung saya kunci aja. Rencananya cari bedeng di proyek aja, yang penting kita hidup sehat. Anak semua sehat," katanya.

Sementara itu, Perbekal Desa Kesimann Kertalanggu I Made Suena mengatakan, ada 26 warga yang saat ini mengungsi karena kondisi tempat tinggal terdampak cukup parah.

Tempat pengungsian dibanjiri bantuan sehingga tidak bisa mendirikan dapur umum. Kebutuhan dasar pengungsi masih tercukupi namun terkendala MCK karena air mati. Pemkot Denpasar terpaksa menyediakan kamar mandi mobil.

"Jadi untuk di posko banyak tempat ini saya lihat malahan permakanaannya atau logistiknya untuk makan itu sudah mencukupi dan melebihi malah kadang-kadang gitu. Nah, terus ada juga kalau dilihat dari mereka ada lansia juga di sini. Jadi ada perlu pampers itu. Nah, itu juga sudah kami siapkan. untuk balita ada juga pampers yang diperlukan dan ada susu ya," katanya.

Warga mengamati kondisi bangunan ruko yang hancur diterjang banjir di kawasan Jalan Sulawesi, Denpasar, Bali, Rabu (10/9/2025). Foto: Fikri Yusuf/ANTARA FOTO

Kebanyakan Pengungsi Kos atau Sewa Tempat Tinggal

Di tempat yang sama, Kepala BNPB Letjen Suhariyanto mengatakan, sebagian besar pengungsi di Kota Denpasar adalah warga yang tinggal di kos atau rumah kontrakan. Menurutnya, pemerintah pusat dan daerah akan membahas bentuk bantuan yang cocok bagi warga.

Kedatangannya kali ini memastikan penanganan banjir cepat teratasi dan memberikan bantuan logistik kepada pengungsi. Dia berjanji kembali mendata kebutuhan warga agar meringankan beban dampak banjir.

Dia mengatakan, pemerintah akan membangun rumah warga yang rusak parah, memberikan bantuan Rp 50 juta bagi rumah yang rusak sedang dan Rp 15 juta bagi rumah rusak ringan.

"Tadi ada yang tanya hidup kita selanjutnya bagaimana? Nanti jadi bahan pembicaraan ya ini bencana bukan di sini saja Indonesia ini dalam setahun 5.400 kali bencana dari Sabang sampai Merauke, dari Nias sampe Rote. Dalam satu hari ada 25 -30 bencana," katanya.

"Inilah kita tinggal di wilayah yang banyak sumber dan indah tapi ya semua jenis bencana ada. Jadi kita harus sabar. Kita akan berembuk membahas bantuan yang menopang selanjutnya," imbuhnya.

Pemprov Bali Siapkan Bantuan Rp 40 Miliar

Sementara itu, Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta belum bisa memastikan jumlah kerugian akibat banjir di Bali. Pemprov Bali, katanya, saat ini menyediakan dana Rp 40 miliar untuk menangani dan membantu warga terdampak banjir. Dana ini bisa bertambah sesuai kebutuhan warga.

"(Dana bantuan) disesuaikan dengan anggaran. Kita di provinsi ada Rp 40 miliar lebih. Kalau dana kurang bisa ada pergeseran karena bantuan tidak terduga untuk mengantisipasi bencana," katanya.