Cerita Babeh Is, Penjaga Perlintasan Kereta Sebidang Kawasan Tebet

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Babeh Ismail atau yang kerap disapa Babeh Is penjanga lintasan sebidang di kawasan Tebet Timur Dalam, Sabtu (2/5/2026). Foto: Rayyan/Kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Babeh Ismail atau yang kerap disapa Babeh Is penjanga lintasan sebidang di kawasan Tebet Timur Dalam, Sabtu (2/5/2026). Foto: Rayyan/Kumparan

Pria paruh baya itu terlihat duduk santai menjaga palang kereta di kawasan Tebet. Matanya sesekali melirik tajam ke arah Stasiun Cawang dan Stasiun Tebet, dua stasiun yang mengapit perlintasan sebidang yang dijaganya.

Pria itu ialah Ismail (65), atau yang kerap disapa Babeh Is. Ia sudah lebih dari dua dekade setia menjaga perlintasan yang ramai dilewati warga maupun pemotor.

Bagi warga sekitar maupun pelaju yang ingin memotong jalan melewati perlintasan tersebut, sosok Babeh Is adalah “penyelamat” waktu.

Babeh Ismail atau yang kerap disapa Babeh Is penjanga lintasan sebidang di kawasan Tebet Timur Dalam, Sabtu (2/5/2026). Foto: Rayyan/Kumparan

Babeh Is bercerita bahwa keberadaan pos penjagaan ini awalnya dibentuk sebagai wadah bagi warga sekitar yang tidak memiliki pekerjaan tetap.

“Tadinya kan dibikin ini untuk dikaryakan saja, jadi yang nganggur ada kesibukan, ada juga sedikit-sedikit pemasukan,” ujar Babeh Is saat berbincang santai, Sabtu (2/5).

Siapa sangka, inisiatif lokal ini justru memberikan manfaat luas. Tak hanya bagi warga sekitar, tetapi juga para pekerja kantoran hingga pengemudi ojek online yang menggantungkan rutenya di jalur tikus ini.

“Dan memang akhirnya bermanfaat untuk semua orang. Tidak hanya untuk warga sekitar. Untuk orang luar juga banyak yang lewat,” tambahnya.

Bekerja hanya berjarak beberapa jengkal dari kereta yang melaju kencang tentu bukan perkara mudah bagi orang awam.

Namun bagi Babeh Is, suara mesin dan getaran rel adalah hal yang sudah ia kuasai di luar kepala. Instingnya sudah menyatu dengan jadwal kereta yang melintas setiap menit.

“Wah, sudah hafal banget lah,” katanya mantap saat ditanya soal jadwal kereta.

Baginya, mengenali kedatangan kereta bukan sekadar mendengar suara klakson, tetapi juga memantau titik-titik buta di ujung rel.

“Kan jarak Stasiun Tebet sama Cawang dekat, dari sini kelihatan. Itu yang terang itu belokan. Kalau di sana belokan di gedung,” jelasnya sambil menunjuk ke arah rel yang menikung.

Babeh Ismail atau yang kerap disapa Babeh Is penjanga lintasan sebidang di kawasan Tebet Timur Dalam, Sabtu (2/5/2026). Foto: Rayyan/Kumparan

“Ya, orang lahir di sini ya hafal lah,” lanjutnya.

Rasa takut tertemper kereta sudah jauh hilang.

“Tapi ini sudah ada pembatas. Enggak perlu waswas,” katanya tenang, meski kereta baru saja melintas di dekatnya.

Kondisi perlintasan yang dijaga Babeh Is kini jauh lebih layak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dahulu, alas untuk melintas hanya berupa kayu-kayu yang rentan rusak.

“Tadinya pakai kayu. Akhirnya pihak KAI mendukung, dikasih paving,” kenang Babeh Is.

Babeh Is pun membenarkan bahwa pihak otoritas kereta api akhirnya turun tangan memberikan bantuan material agar pengendara lebih nyaman saat melintas.

Dari enam titik penyeberangan yang ada di area tersebut, pos tempat Babeh Is bertugas adalah satu-satunya yang beroperasi nonstop.

“Dari enam penyeberangan itu, cuma ini yang 24 jam. Kasihan pedagang malam, ojek-ojek malam,” tuturnya penuh empati.

Meskipun demikian, pendapatan Babeh Is jauh dari kata pasti. Ia bekerja dengan sistem shift tiga jam sekali, sehari masuk dan sehari libur.

“Tidak tentu. Dari sekian ribu motor—bukan ratusan, ribuan—paling yang ngasih cuma satu-dua,” ungkapnya.

Bahkan dalam satu shift pada jam landai, Babeh Is mengaku mengantongi uang yang tidak seberapa.

“Paling kecil itu gocap (Rp50 ribu). Dapat segitu sudah syukur. Kalau siang dapat Rp60 ribu saja sudah bersyukur. Orang yang lewat itu ojek-ojek, belum tentu semuanya memberi,” ujarnya.

Meski tak ada insentif khusus dari pihak mana pun dan hanya mengandalkan keikhlasan para pelintas, Babeh Is tetap bertahan. Baginya, melihat gerobak dan motor bisa melintas dengan aman adalah kepuasan tersendiri.

“Awas kereta,” pungkasnya sembari kembali menjaga palang sebelum kereta lewat.