news-card-video
25 Ramadhan 1446 HSelasa, 25 Maret 2025
Jakarta
chevron-down
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45

Cerita Bahlil Sebelum jadi Ketum Golkar dan Menteri: Pernah Busung Lapar

21 Maret 2025 16:02 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia, bersama sejumlah petinggi Golkar saat mengunjungi Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman di Parung, Bogor. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia, bersama sejumlah petinggi Golkar saat mengunjungi Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman di Parung, Bogor. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan
ADVERTISEMENT
Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia menceritakan pengalamannya sebelum terjun ke dunia politik. Ketika pertama kali dari Papua menuju Jakarta, dia bukanlah siapa-siapa.
ADVERTISEMENT
Bahlil bercerita, dirinya bukan berasal dari keluarga berada dan bisa hidup berkecukupan.
"Saya bukan anak siapa-siapa, anak-anakku semua," kata dia di hadapan santri Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman di Parung, Bogor, pada Jumat (21/3).
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjawab pertanyaan wartawan sebelum bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (4/2/2025). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO
Menteri ESDM ini mengatakan, dirinya mesti banting tulang dengan berjualan kue, loper koran, hingga kondektur angkutan kota (angkot) untuk membantu ekonomi keluarganya. Dia pernah mengalami busung lapar.
"Pernah busung lapar karena makannya tidak ada, makan buah saja, mangga muda," ucap dia.
Bahlil menegaskan, posisinya saat ini merupakan buah dari perjuangannya. Menurut dia, sejak memasuki era reformasi, tiap orang mempunyai hak yang sama untuk mencapai kesuksesan.
Masyarakat yang berasal dari golongan tertentu tak menjamin bakal terus-menerus meraih kesuksesan.
ADVERTISEMENT
"Kesuksesan itu tidak hanya milik anak-anak ibu kota Jakarta dan kesuksesan itu bukan hanya milik anak-anak jenderal. Dan tidak juga kesuksesan itu hanya milik anak-anak anggota DPR," jelas dia.
Ketum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia (dua dari kiri), usai acara peringatan Nuzulul Quran di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta Barat, Minggu (16/3/2025). Foto: Fadhil Pramudya/kumparan
Hal itu jugalah yang seringkali diingatkan Bahlil kepada anaknya. Dia sering meminta kepada anaknya agar tak terlena dengan menyandang status sebagai anak ketum parpol.
"Sering saya katakan untuk mereka, anak pejabat tidak ada jaminan untuk anaknya itu akan jadi pejabat," kata Bahlil.
"Saya sudah membuktikan sebagai anak miskin yang bisa berkompetisi dengan anak-anak orang kaya," lanjut dia.