Cerita Banyak Kusir Andong di Yogya Jual Kudanya karena Tak Ada Penghasilan

Pandemi virus corona membuat sektor pariwisata di Yogyakarta ambruk. Hal ini berdampak pada ratusan kusir andong, pendapatan mereka turun drastis lantaran tak ada wisatawan yang menggunakan jasanya.
Ketua Paguyuban Kusir Andong DIY, Purwanto, mengungkapkan dampak dari corona ini membuat jumlah andong di Yogyakarta juga menurun drastis. Yakni dari 540 unit menjadi 387 unit.
"Kita di DIY sebelum corona masih 540 andong. Sampai terkahir corona yang andong tinggal 387," kata Purwanto saat dihubungi, Kamis (18/6).
Dia menyebut penurunan itu terjadi karena pemilik atau kusir andong menjual kudanya. Mereka terpaksa menjual karena tak ada penghasilan dan tidak sanggup lagi memberi makan kuda yang sehari berkisar Rp 100 ribu.
"Dalam artian parah kan harus menghidupi dua, yaitu keluarga dan kuda. Kuda ini makannya tidak bisa ditawar. Kusir pakai nasi telur sambel sudah jadi, tapi kalau (makan) kuda diturunkan enggak bisa. Parah banget dampaknya, tidak ada pemasukan ngasih makan keluarga ngasih makan kuda," ungkapnya.
Selama pandemi ini, mayoritas kusir kuda ini menguras tabungannya untuk bertahan hidup. Mereka kini hanya bisa berhadap pandemi corona segera berakhir dan pariwisata di Yogya kembali hidup.
"Selama pandemi ini ya mereka memakai tabungan. Mau bekerja lain juga tidak ada. Harapannya semoga keadaan cepat membaik san wisatawan kembali normal dan berjalan seperti kemarin lagi. Dan andong mendapat penumpang," ujarnya.
Saat ini para kusir andong yang beroperasi sudah diwajibkan menggunakan protokol kesehatan lengkap mencegah COVID-19. Di antaranya menggunakan masker dan face shield, plastik penyekat antara penumpang dengan kusir, hingga melengkapi andong dengan hand sanitizer.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)
*****
Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.
