Cerita Bocah di Bandung yang Bersuara Unik karena Menelan Peluit

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Asep Yaya (9), anak yang tersedak peluit terompet. (Foto: Iqbal Tawakal Lazuardi Siregar/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Asep Yaya (9), anak yang tersedak peluit terompet. (Foto: Iqbal Tawakal Lazuardi Siregar/kumparan)

Asep Yaya kini mungkin sudah tak akan lagi jadi bahan rundungan teman-temannya di sekolah. Bocah 9 tahun yang tinggal di Kampung Cimalang, Desa Girimukti, Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat, ini sempat menjadi bahan olokan teman-temannya lantaran selama hampir sebulan, Asep memilki suara yang unik.

Ketika Asep bernafas atau sedang terengah, suara dari dalam tenggorokannya berbunyi peluit. Hal itu bukan tanpa sebab. Asep tak sengaja tersedak peluit yang berasal dari sandal bayi. Selama hampir sebulan benda kecil itu bersarang di saluran pernafasannya.

Orang tua Asep, Subandi, menyebutkan peluit yang bersarang di saluran pernafasan anaknya itu sempat membuat Asep enggan sekolah. Asep malu karena sering diolok temannya lantaran nafasnya bersuara sempritan.

"Sekolah juga malu kalau kelelahan bunyi. Gak sekolah satu bulan. Kadang-kadang satu minggu, dua hari. Dibujuk juga susah,” ujar Subdandi saat ditemui di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Kamis (20/12).

Subandi mengisahkan mulanya peluit masuk ke saluran pernafasan anaknya itu. Menurut dia, peristiwa itu terjadi pada bulan November 2018. Saat itu, Asep dengan saudaranya sedang memainkan peluit yang berasal dari sandal bayi. Asep kemudian menggendong saudaranya dengan kondisi peluit masih berada di mulutnya.

"Pas sedang main, jatuh. (Peluit) tertelan," ujar Subandi. Meskipun menelan peluit, Asep mengaku tidak merasakan sakit. Dia tetap beraktivitas seperti biasa keesokan harinya. "Tapi kalau kelelahan rada sesak saja. Makan tidak apa-apa, main juga normal."

Peluit terompet yang berhasil diangkat oleh dokter. (Foto: Iqbal Tawakal Lazuardi Siregar/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Peluit terompet yang berhasil diangkat oleh dokter. (Foto: Iqbal Tawakal Lazuardi Siregar/kumparan)

Kendati demikian, orang tua Asep terus berusaha untuk mengeluarkan peluit itu dari saluran pernafasan anaknya itu. Asep sempat dibawa ke puskesmas dekat rumahnya. Namun tenaga medis di puskesmas tidak sanggup mengeluarkan peluit dari dalam tubuh Asep. Hingga akhirnya, Asep dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.

“Awalnya ke puskesmas. Terus katanya harus bawa ke Kota Baru. Terus, dirujuk lagi di Kota Baru, katanya udah gak kelihatan, bawa langsung ke RSHS,” ujar Subandi.

Sempat Terkendala Biaya

Usaha untuk membawa Asep ke RSHS tidaklah mudah. Subandi mengaku terkendala biaya untuk ongkos operasi pengambilan peluit dari dalam saluran pernafasan Asep.

Hal yang menjadi masalah adalah Subandi belum mendaftarkan BPJS Kesehatan. Beruntung dengan dibantu sejumlah kerabat, proses pembuatan BPJS Kesehatan cepat selesai.

Akhirnya, pada 19 Desember 2018, Asep dibawa keluarganya ke RSHS dengan menggunakan BPJS. Setelah menjalani berbagai tindakan medis, peluit yang bersarang di saluran pernafasan Asep bisa dikeluarkan. Nafas Asep kini tak lagi bersuara sempritan.

“Kami kemarin siang kedatangan pasien usia 9 tahun. Dia menelan peluit. Jadi kalau nafas terdengan bunyi peluitnya. Nafas inspirasi atau ekspirasi. Sudah dilakukan tindakan hari ini. Dan pelutinya berhasil dikeluarkan,” ujar Kepala KSM Ilmu Kesehatan THT-KL RS Hasan Sadikin, Lina Lasminingrum kepada wartawan, Kamis (20/12).