Cerita Bung Karno Tak Mau Makan Sebelum Terima Sumbangan Rakyat Aceh

Rekaman sejarah tentang perjuangan rakyat Aceh di awal kemerdekaan Indonesia memiliki peran penting. Pada medio 1948, Presiden Indonesia Sukarno terbang ke Tanah Rencong meminta rakyatnya ikut membantu perjuangan yang terdesak agresi militer Belanda.
Sejak ditandatangi Perjanjian Renville pada 17 Januari 1948, di penghujung tahun kala itu tingkah laku Belanda luar biasa. Mereka ingin membubarkan Republik Indonesia. Sejak saat itu berbagai negara 'boneka' didirikan Belanda mengepung wilayah RI. Seluruh ibu kota provinsi di Indonesia telah diduduki. Satu-satunya wilayah yang masih utuh dan bertahan adalah Aceh.
Dalam buku “Aceh Daerah Modal” yang ditulis Tgk. AK Jakobi diceritakan keadaan RI waktu itu benar-benar mencekam, 'to be or not to be'. Dituliskan dalam buku itu, Aceh sebagai salah satu alternatif yang berdasar latar belakang sejarah dan potensi ril pada saat itulah yang mampu bertindak sebagai basis untuk menggerakkan perang semesta. Dalam situasi gawat seperti itu, Bung Karno terbang ke Tanah Rencong, satu-satunya wilayah RI yang masih utuh dan tidak dikangkangi Belanda.

Kehadiran Bung Karno ke Aceh pada Juni 1948 untuk berbicara dengan rakyat Aceh di Kutaradja (Banda Aceh), Sigli, dan Bireueun. Bung Karno mengakui Aceh punya daya tarik dan menyimpan kekuatan batin yang teramat dahsyat, khususnya mengadapi kolonialisme Belanda sebagai seteru.
Aceh Daerah Modal, begitu kata Bung Karno dalam wejangannya pada rapat Samudera di Blang Padang dan lapangan Kuta Asan di Sigli 16 Juni 1948 dan di Bireuen pada 17 Juni 1948.
Dalam pertemuan di Aceh Hotel, Bung Karno malam itu mengundang tokoh-tokoh pejuang, pengusaha, serta pemuda untuk bertatap muka. Di sanalah Bung Karno mencetuskan ide sekaligus menantang jiwa patriotisme rakyat Aceh untuk meneruskan dan melestarikan perjuangan kemerdekaan.

Bung Karno mengharapkan malam itu dapat terkumpul sejumlah dana untuk membeli sebuah pesawat terbang yang sangat diperlukan untuk perjuangan kemerdekaan RI.
“Saya tidak makan malam ini, kalau dana untuk itu belum terkumpul,” ucap Bung Karno seraya melempar senyum, seperti di kutip kumparan (kumparan.com) dalam buku karya Tgk. AK Jakobi halaman 245.
Tidak membutuhkan waktu lama, seluruh dana akhirnya terkumpul sebesar 120.000 dolar Singapura dan emas 20 kg, cukup membeli dua pesawat terbang jenis Dakota. Dalam jumlah itu telah masuk sumbangan Pemda Aceh, yang diberikan Residen T.T. Daud Syah.
Pesawat itu kemudian diberi nama “Seulawah RI-001” oleh Bung Karno, sebagai penghormatan untuk masyarakat Aceh yang secara ikhlas telah memberikan sumbangan berharga pada situasi sulit untuk bangsa yang sedang berjuang. Pesawat itu baru tiba di Tanah Air akhir Oktober 1948, pada saat Indonesia sedang mengalami kepungan politik blokade ekonomi militer dari pihak Belanda.

Nyak Sandang menjadi salah satu bukti sejarah ketangguhan pemuda Aceh kala itu yang ikut membantu perjuangan negeri. Saat berusia 23 tahun ia bersama seluruh masyarakat Lamno, Aceh Jaya hari berbondong-bondong menuju ke Masjid Lamno. Kedatangan mereka ke sana untuk mendengar pidato Gubernur Aceh dipimpin oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh.
Dalam pidato itu Daud Beureueh atau disapa masyarakat Ayah Daud saat itu bertujuan menyampaikan hasil musyawarah bersama Bung Karno yang terbang ke Tanah Rencong. “Waktu itu siang sekitar pukul 11.00 WIB saya ke sana bersama dengan orang tua, di sana (Masjid) seluruh masyarakat Lamno tumpah ruah menyambut sekaligus untuk mendengar pidato Ayah Daud,” cerita Nyak Sandang, pada kumparan, Selasa (6/3).

Setelah Daud Bereueh kembali ke Banda Aceh, masyarakat Lamno sepakat menyumbangkan uang untuk pembelian pesawat dengan kemampuan masing-masing. Ulama Lamno yang menjadi panutan masyarakat Teungku Muhammad Aidarus atau Abu di Sabang juga merespons seruan tersebut dan turut mengajak seluruh masyarakat Lamno untuk saling menyisihkan uang seikhlasnya.
“Ulama Lamno itu menyampaikan bahwa masyarakat janganlah bersedih karena telah ikut menyumbangkan uangnya. Waktu itu saya bersama Ayah memiliki luas tanah ukuran yang di dalamnya ditanami 40 pohon kelapa. Tanah itu dijual seharga Rp 100 perak uang hasil penjualan itu semuanya kita serahkan. Karena kami gembira sekali bisa ikut membantu,” kenang Nyak Sandang.
