kumparan
search-gray
News13 Maret 2020 17:04

Cerita di Balik Friday the 13th, Mitos Hari Sial Kaum Barat

Konten Redaksi kumparan
Ilustrasi Friday the 13th
Ilustrasi Friday the 13th Foto: j_lloa via Pixabay
Dunia Barat percaya bahwa hari Jumat yang bertepatan dengan tanggal 13 dalam sebuah bulan identik dengan kesialan. Itulah sebuah mitos yang dikenal sebagai Friday the 13th.
ADVERTISEMENT
Setiap tahun, Friday the 13th terjadi setidaknya satu kali. Namun, untuk 2020, hari 'sial' itu terjadi dua kali. Salah satunya hari ini, Jumat, 13 Maret 2020.
Banyak hal baik yang diasosiasikan dengan angka 12 dalam kultur Barat. Misalnya, perayaan Dua Belas Hari Natal, 12 bulan dan tanda zodiak, hingga 12 suku Israel.
"(Angka tersebut) mendarah daging dalam peradaban Barat, terutama melalui Eropa ketika agama Kristen menyebar dari Mediterania ke Eropa dan ke Barat. Seluruh budaya kita dipengaruhi oleh kerangka acuan agama itu," kata David Reed, Profesor Bidang Agama Universitas Toronto seperti dilansir CBC News.
Anehnya, asosiasi itu tidak berlaku pada hitungan setelahnya. Angka 13 justru dianggap punya sejarah kelam. Begitu pula pada hari Jumat yang menyertainya.
ADVERTISEMENT
Lantas mengapa hal itu terjadi?
Rupanya ada cerita di balik mitos tersebut. Antropolog University at Buffalo, Phillips Stevens Jr., menyebut ketakutan masyarakat Barat terhadap hari Jumat dan angka 13 berawal pada Abad Pertengahan. Tepatnya, saat peristiwa Perjamuan Terakhir antara Yesus dan murid-muridnya.
Lipsus Anggur Ekaristi, Perjamuan terakhir Yesus
Perjamuan terakhir Yesus Foto: Pixabay
Di hari itu Yesus makan bersama dua belas muridnya. Ada 13 orang di meja dan yang ke-13 adalah Yesus. Mereka makan di hari Kamis, sebelum kemudian esoknya Yesus disalib.
"Perjamuan Terakhir adalah pada hari Kamis, dan hari berikutnya adalah hari Jumat, hari penyaliban. Ketika '13' dan Jumat berkumpul, itu adalah pukulan keras ganda bagi orang-orang yang memiliki kepercayaan magis semacam ini," kata Stevens, mengutip situs resmi University at Buffallo.
ADVERTISEMENT
Cerita lain terkait hari Jumat dan angka 13 juga ditemukan pada Perang Salib. Di hari dan tanggal tersebut, para Ksatria Templar yang bertempur di Perang Salib ditangkap dan kemudian dihukum mati.
Pada Jumat, 13 Oktober 1307, Raja Philip IV dari Prancis menangkap para Ksatria Templar atas 3 tuduhan. Yakni meludahi salib, membantah ajaran agama Kristen, dan melakukan perbuatan homoseksual pada saat upacara keagamaan berlangsung.
Jalan Salib, Jumat Agung, Paus Fransiskus, Roma
Ilustrasi Salib. Foto: Reuters/Remo Casilli
Setelah ditangkap, pimpinan kelompok yang identik dengan simbol salib tersebut, Grand Master Jacques de Molay, dibakar hidup-hidup di depan Katedral Notre Dame.
"Tuhan tahu siapa yang salah dan berdosa. Sebentar lagi, malapetaka akan terjadi pada mereka yang telah mengutuk kami sampai mati," kata De Molay sebelum dibakar.
ADVERTISEMENT
Cerita-cerita itu menjadi landasan kenapa angka 13 dan hari Jumat menjadi kombinasi keramat bagi masyarakat Barat. Menurut Stevens, ketabuan mengenai hal tersebut memang diawali dari agama Kristen, akan tetapi kemudian menyebar ke budaya Barat secara umum.
Itulah sebabnya ada yang percaya bahwa duduk dengan 13 orang di meja dianggap tabu. Mereka juga tak memunculkan angka 13 di gedung-gedung pencakar langit.
"Anda tidak akan menemukan satu lantai 13 di gedung mana pun, dan beberapa maskapai penerbangan tidak memiliki baris ke-13 di pesawat mereka. Saya pribadi telah menandai sendiri dengan memeriksanya," ujar Antropolog yang fokus pada bidang kultur, agama, hingga kultus itu.
Terlepas benar tidaknya mitos tersebut, adalah fakta bahwa sebagian insiden yang dianggap buruk terjadi bertepatan dengan Friday the 13th. Misalnya, kematian rapper Tupac Shakur pada Jumat, 13 September 1996, 6 hari setelah ditembak di Las Vegas. Kasus ini masih menjadi misteri hingga kini karena penembaknya belum terkuak.
Tupac Shakur
Tupac Shakur. Foto: Getty Images/Gramercy Pictures
Ada juga insiden pemerkosaan dan pembunuhan Kitty Genovese pada 13 Maret 1964. Kejahatan itu terkenal karena kabarnya 38 orang mendengar kejadian itu tapi tak ada dari mereka yang melapor ke polisi.
ADVERTISEMENT
Kemasyhuran Friday the 13th juga membuat mitos ini beralih wahana menjadi budaya pop. Novel Friday, the Thirteenth karya Thomas William Lawson memulainya. Yakni, dengan menceritakan pialang saham di New York City yang menciptakan kekacauan di Wall Street.
Film Friday the 13th yang dirilis tahun 1980 juga turut mempopulerkan mitos tersebut. Yakni lewat kisah pembunuh bertopeng hockey bernama Jason. Mengutip History, film ini melahirkan sekuel, komik, novel, video game, hingga kostum Halloween yang tak terhitung jumlahnya.
Jadi, apakah Anda percaya dengan mitos Friday the 13th ini?
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white