Cerita di Balik Pesantren Eks Raja OTT KPK Harun Al Rasyid

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 5 menit

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Eks Pegawai KPK Harun Al Rasyid saat ditemui di pesantrennya di Bogor.  Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Eks Pegawai KPK Harun Al Rasyid saat ditemui di pesantrennya di Bogor. Foto: kumparan

Mantan Kasatgas Penyelidikan KPK, Harun Al Rasyid, kini tengah fokus dengan aktivitas barunya usai tak lagi bekerja di lembaga antirasuah. Harun, kini punya waktu lebih untuk mengasuh pesantren yang dia dirikan di Kota Bogor, Jawa Barat.

kumparan berkesempatan mengunjungi pesantren Yayasan Kiromim Baroroh Maiyyatullah, yang berlokasi di Perum Bukit Kayumanis Blok 0 Nomor 02, RT 003/12 Kelurahan Kayumanis Kecamatan Tanah Sereal, Kota Bogor.

Saat ditemui di lokasi, Cak Harun --begitu dia biasa disapa-- baru saja tiba di lokasi pesantren. "Ada keperluan tadi," kata dia, Rabu (13/10). Meski tak lagi aktif di KPK, Cak Harun terlihat masih sibuk. Ada beberapa tamu yang hilir mudik datang ke pesantren Cak Harun.

Ia pun berbagi cerita soal kesehariannya usai tidak lagi bekerja di KPK. Menurut dia, kesehariannya masih sama saja. Hanya saja, ia kini punya waktu lebih untuk keluarga serta mengurus pesantren.

"Kegiatannya sama, hanya bedanya tidak pergi ke kantor KPK saja. Selebihnya sama habis subuh ngajar ngaji sampai jam 6 pagi. Abis itu anak-anak berangkat sekolah, ya saya punya kegiatan sendiri mengantar anak-anak sendiri sekolah," kata Cak Harun.

Selepas Zuhur, ia mengajar ngaji kepada para santri. Setelahnya digunakan dia untuk beristirahat. Kecuali, kata Cak Harun, apabila ada undangan untuk mengisi materi untuk universitas dan aktivitas lainnya secara daring.

"Lalu kalau malam, sedikit habis Isya, ngajar lagi kembali," sambung dia.

Mantan Kasatgas Penyelidikan KPK Harun Al Rasyid saat membereskan dagangan. Foto: Dok. Istimewa

Rutinitas tersebut dilakukan Cak Harun biasanya pada akhir pekan saja. Sebab saat bekerja di KPK, waktunya habis bekerja di lembaga antirasuah. Sebelum dipecat, ia merupakan Kasatgas Penyelidikan di KPK. Banyak kasus-kasus besar dia ungkap.

Bahkan pada 2018, dia sempat dijuluki sebagai Raja OTT KPK. Dari total 30 operasi senyap, 12 di antaranya dilakukan oleh satgas di bawah kendali Cak Harun.

Namun selepas itu, aktivitasnya kini lebih berfokus pada mengasuh pesantren yang dia dirikan dan juga berjualan sembako. Sebab sebelumnya, sang istri lah yang bertindak sebagai pembina pesantren. Kini dia ada waktu lebih untuk mengajar para santri di Bogor.

"Dalam kondisi sekarang ini (setelah diberhentikan KPK) saya lebih banyak waktu untuk ikut terjun langsung dalam memberikan motivasi arahan maupun pengajian ke beberapa santri, tidak banyak yang tinggal (tidur di pesantren) di sini sekarang hanya ada tiga orang, tapi yang lebih banyak kembali ke rumahnya, tetapi waktu mengaji datang ke sini," kata Cak Harun.

Pesantren milik Eks Pegawai KPK Harun Al Rasyid. Foto: kumparan

Pesantren Gratis Demi Santri Jadi Hafiz

Beberapa anak asuh Cak Harun merupakan anak yatim dan duafa. Atas dasar itulah, dia membangun pesantren yang bebas biaya. Santri-santrinya gratis mendapatkan pembelajaran agama di pesantren Cak Harun.

"Saya ingin punya pesantren yang gratis bagi anak-anak, makannya bebas. Kualitas pendidikannya bagus. Saya ingin punya pesantren yang semuanya gratis, itu kan harus ditunjang dengan usaha. Dan donatur yang kuat. Sekarang aku nol, sekarang ngaji di pesantrenku dibebasin tidak ada biaya. Semua makan gratis," kata Cak Harun yang bergelar doktor hukum ini.

Cak Harun bercerita, santri yang mengaji di pesantrennya cukup banyak. Tapi tidak sepanjang hari. Ketika jam sekolah formal, mereka pergi bersekolah. Pada waktu luang selepas subuh, siang, dan selepas magrib sajalah, para santri tersebut menuntut ilmu bersama Cak Harun.

Dia pun punya cita-cita membangun pesantren yang lengkap. Semua santrinya bersekolah di pesantren tersebut. Semua fasilitas tersebut tentu tanpa biaya.

"Sekarang kalau anak-anak sekolah di luar. Kalau anak-anak kita punya sekolah sendiri enak. Bagaimana punya sekolah bagus dan guru dibayar dengan tinggi tapi kita tidak membebani uang pada anak-anak santri," kata dia.

Sedikit demi sedikit, harapan tersebut tengah dipupuk oleh Cak Harun. Pesantren yang dirintis sejak Desember 2019 itu pun terus tumbuh. Dia ingin mewarisi ajaran orang tuanya di Madura, yang juga membuka pondok pesantren di sana.

"Jadi ada pondok pesantren di Madura, karena saya dan nyonya (istri) ada di Bogor, jadi kita mulai merintis pondok pesantren sebagaimana yang sudah diwariskan oleh orang tua di Madura," kata dia.

Ke depan, kata Cak Harun, dia tengah mencari lokasi yang cukup representatif. Sebab, dari awal dia dan istri berniat untuk membuat lembaga pendidikan dari mulai tingkat SD hingga SMA.

"Hanya kami sampai sekarang belum menemukan lokasi yang pas, untuk menampung kegiatan pesantren," kata dia.

"Yang terpenting yang ingin pertama kita lakukan adalah kita ingin semua anak-anak itu bisa mengenyam pendidikan ya, baik pendidikan umum maupun pendidikan agama. Terlebih lagi kita memiliki keinginan kuat untuk menciptakan pada Hafiz Quran," sambung dia.

(Cak Harun dikenal kerap menulis. Sudah dua buku ia lahirkan. Yakni 'Fikih Korupsi: Analisis Politik Uang di Indonesia dalam Persfektif Maqoshid al-Syari'ah' dan 'Fikih Persaingan Usaha dan Moralitas Antikorupsi').

Pesantren milik Eks Pegawai KPK Harun Al Rasyid. Foto: kumparan

Harapan Cak Harun

Dari pesantren, Cak Harun memupuk harapan kepada santri-santrinya. Dia sangat ingin mengajarkan para santri tersebut paham agama, di sisi lain dari segi keilmuan juga mumpuni.

"Yang terpenting yang ingin kita ajarkan ke santri-santri itu adalah paham ahlul sunnah wal jamaah. Tapi ingin ada yang plus di situ, jadi kita ingin menciptakan generasi yang secara keilmuan dan pengetahuan lain di luar pengetahuan agama jadi titik berat juga," kata Cak Harun.

"Jadi bukan hanya menguasai ilmu agama, tetapi ilmu umumnya bagus sehingga dalam benak saya ingin melahirkan teknokrat, dokter, hakim hakim penegak hukum yang punya keinginan kuat untuk membangun bangsa ini," sambung dia.

Penyidik KPK Novel Baswedan (tengah) didampingi Wakil Ketua KPK Laode M Syarif (kanan) dan Wakil Ketua Wadah Pegawai (WP) KPK Harun Al Rasyid (kiri) tiba di gedung KPK, Jakarta, Kamis (22/2/2018). Foto: Helmi Afandi/kumparan

Keinginan tersebut sudah ada lama di benak Cak Harun. Di sisi lain, dia juga masih ingin berkontribusi untuk negara, sebagaimana 16 tahun dia bekerja di KPK. Cak Harun merupakan satu dari 57 pegawai yang dipecat karena TWK yang dinilai oleh Komnas HAM dan Ombudsman bermasalah.

"Kalau keinginan pribadi keluarga, saya masih ingin bekerja untuk negara. Artinya kepada pemerintah ya. Karena memang saya di sekolahkan oleh orang tua itu di samping ilmu agama juga sekolah umum," kata Cak Harun.

"Dan saya dengan kawan-kawan sekarang sedang mempertimbangkan untuk bisa berkiprah kembali di dalam pemberantasan korupsi, pencegahan maupun penindakan, dengan mempertimbangkan dari Polri ya. Yang saya lihat itu bukan semata dari Kapolri ya, tetapi itu keinginan dari presiden agar teman-teman yang kemarin dinyatakan tidak lulus TWK itu tetap bisa dimanfaatkan tenaganya untuk kerja-kerja pemberantasan korupsi," pungkas dia.

***

Bila Anda ingin membantu Yayasan Cak Harun, bisa melalui Rekening: An. Yayasan Kiromim Baroroh Maiyyatul. Rek: Mandiri Syariah (7137895247).