Cerita Dirut Bio Farma Jadi Relawan Vaksin Sinovac: Sempat Mengira Dapat Plasebo

20 Mei 2021 22:27 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Dirut PT Biofarma Honesti Basyir. Foto: Dok. Biofarma
zoom-in-whitePerbesar
Dirut PT Biofarma Honesti Basyir. Foto: Dok. Biofarma
ADVERTISEMENT
Dirut Bio Farma (Persero), Honesti Basyir, mengaku telah menjadi relawan uji klinis tahap III vaksin Sinovac di Bandung yang digelar pada Agustus 2020. Hal ini salah satunya, dilakukan untuk mengetahui titer antibodi seseorang setelah divaksin corona.
ADVERTISEMENT
Namun, ia sempat mengira masuk ke kelompok plasebo (obat kosong), hasil tes rapid antibodinya kerap non reaktif usai divaksin. Padahal, ia betul-betul disuntik vaksin Sinovac.
"Saya buka sekarang, saya relawan uji klinis. Sebelum kita disuntik vaksin atau plasebo, kita dicek kesehatan dan diambil darah sampel sebagai pembanding. Divaksin sekali, divaksin 2 kali, sebulan setelah vaksin kedua kita dites lagi, untuk melihat apa antibodi muncul," kata Honesti dalam rapat bersama Komisi IX DPR, Jakarta, Kamis (20/5).
"Saya penasaran, saya ini dapat vaksin atau plasebo? Dua bulan setelah saya disuntik kedua, saya juga enggak tahu tuh kan blinded, kan dulu ada namanya rapid tes antibodi, selalu saya non reaktif. Artinya saya kelompok plasebo kan? Antibodi saya enggak muncul. Sebulan lalu data saya dibuka karena saya sudah 6 bulan jadi relawan, ternyata saya dapat vaksin," imbuh dia.
ADVERTISEMENT
Cerita ini dipaparkan Honesti untuk menjawab pertanyaan Komisi IX, apakah perlu tes antibodi untuk mengecek efikasi vaksin. Oleh sebab itu berdasarkan pengalamannya, Honesti setuju kalau masyarakat tak perlu tes antibodi.
Kemasan vaksin COVID-19 diperlihatkan di Command Center serta Sistem Manajemen Distribusi Vaksin (SMDV), Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Kamis (7/1). Foto: M Agung Rajasa/Antara Foto
Sebab belum ada data pembanding atau standar WHO untuk menentukan berapa antibodi yang dibutuhkan untuk melindungi seseorang. Selain itu, tes rapid antibodi tidak sensitif.
"Kalau kita lakukan sekarang uji antibodi mau dibandingkan dengan data apa? Jadi saya setuju tidak disarankan melakukan tes antibodi. Karena enggak ada pembandingnya. Kedua, memang cara pengetesannya enggak lazim, enggak ada standar WHO-nya," paparnya.
"Kalau kita kembalikan ke pengalaman saya tadi, setiap dites rapid antibodi nonreaktif, harusnya kan saya kelompok plasebo. Tapi tenyata saya kelompok vaksin. Artinya apa? pengetesan rapid tes antibodi tidak sensitif, sehingga ini tidak disarankan. Jadi, bapak ibu kita percaya saja pada data uji klinis," tambah dia.
ADVERTISEMENT
Petugas menurunkan kontainer berisi vaksin COVID-19 Sinovac saat tiba di Bio Farma, Bandung, Jawa Barat. Foto: Muchlis Jr/Biro Pers Sekretariat Presiden
Honesti menyarankan Komisi IX dan masyarakat untuk saat ini percaya saja dengan data uji klinis. Hasil uji klinis sendiri masih panjang dan tentu akan dibagikan hasilnya ke publik.
"Ibu BPOM sudah menyampaikan bahwa efikasi uji klinis Sinovac di Indonesia berdasarkan interim report adalah 60 sekian persen. Tapi untuk kelompok gejala berat efikasinya 100 persen. Di Brasil juga seperti itu," jelas dia.
"Jadi supaya enggak ada perdebatan di masyarakat, percaya saja pada uji klinis. Kami masih melanjutkan uji klinis satu tahun ke depan. Nanti kita akan open setelah selesai 6 bulan yang kedua, kita akan open permasalahan ini, dari hasil uji klinis," pungkasnya.