Cerita Djoko Suyanto Tangani 16 Anggota Keluarga dan Pegawainya Positif Corona

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Djoko Suyanto di NUH, Singapura. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Djoko Suyanto di NUH, Singapura. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Keluarga dan karyawan mantan Panglima TNI yang juga mantan KSAU Marsekal (purn) Djoko Suyanto sempat terpapar corona. Sebanyak 16 orang anggota keluarga dan karyawan mantan Menko Polhukam ini positif COVID-19 setelah dilakukan tes swab PCR.

Melalui pesan tertulis yang diterima kumparan, Minggu (27/12), Djoko membagi kronologi, penanganan, serta perawatan anggota keluarga dan karyawannya yang positif COVID-19 itu. Djoko, istrinya, 2 cucu, dan 7 karyawan negatif.

Berikut kronologi dan penanganan yang dilakukan Djoko:

Perkenankan saya berbagi pengalaman dalam menangani keluarga dan karyawan sebanyak 16 orang yang terpapar COVID-19 dalam waktu yang bersamaan.

Dimulai dari kegiatan rutin sehari-hari, menantu saya masih ngantor, di samping itu ada beberapa karyawan termasuk sopir yang pulang ke rumahnya masing-masing setelah selesai bekerja di rumah.

3 hari sebelum tanggal 18 November 2020 yang lalu, menantu saya Septi merasa meriang kayak flu biasa. Sudah diberi antibiotik Zythromax, yang biasanya sembuh setelah makan tablet ini 3 hari @ 1 tablet, ini kok enggak sembuh-sembuh.

Tanggal 18 November, anak saya (isterinya Septi) telepon ke saya kalau dia enggak bisa mencium bau. Saya langsung curiga ini pasti COVID, karena ada di banyak artikel sebagai indikasi/simptom terpapar COVID. Langsung 3 orang dewasa yang ada di rumah anak saya Septi siang itu juga saya kirim ke RSAU Esnawan Halim untuk swab PCR test.

Hasilnya keluar besok sorenya tanggal 19 November dan tiga-tiganya dinyatakan positif. Langsung malam itu juga cucu-cucu dan pengasuhnya saya pindah ke rumah saya, kebetulan lokasi bersebelahan. Anak saya, suaminya, dan keponakan Septi diisolasi di lantai atas, kebetulan cukup luas untuk bisa direkayasa agar bisa menerapkan protokolnya. Lantai bawah dikosongkan dan disterilkan.

Karena kami semua banyak dan selalu berinteraksi dengan mereka sebelumnya, tanggal 20 November seluruh keluarga dan karyawan yang bekerja di rumah saya dan anak saya, harus diswab PCR termasuk cucu-cucu saya yang baru berumur 6 bulan sekalipun.

Saya didukung Rumkit Halim yang datang ke rumah, karena sudah sore dan banyak orang (23 orang) yang harus diswab termasuk cucu-cucu saya. Hasilnya Sabtu malam diberikan. Dari 24 orang yang diswab ternyata ada sebanyak 13 orang positif OTG termasuk cucu perempuan saya, di mana semuanya OTG, plus 3 orang yang telah dinyatakan positif tanggal 19 November (anak, menantu, dan keponakan).

Alhamdulillah saya, isteri, 2 cucu, dan 7 karyawan hasilnya negatif, sehingga dapat mengelola dan melayani dan menangani mereka-mereka yang positif OTG. Dari 16 orang itu, 4 orang, anak, menantu, cucu, keponakan Septi, menjalani isolasi mandiri di rumahnya, setelah konsultasi dengan RS Esnawan. Kebetulan rumahnya 2 lantai jadi bisa direkayasa distancingnya.

7 Orang karyawan yang tinggal di rumah kami, saya kirim ke Wisma Atlet Kemayoran, dan 5 orang di rumah masing-masing untuk isolasi mandiri.

Jadi, satu bulan terakhir ini saya benar-benar konsentrasi penuh menangani dan mengendalikan bagaimana pelaksanaan isolasi mandiri bagi mereka yang terpapar positif. Kami juga harus menjaga kondisi kami-kami yang negatif ini tetap sehat sambil momong 2 cucu umur 9 tahun dan 6 bulan.

Bersyukur ada 7 orang yang bisa dirawat di Wisma Atlet sehingga banyak meringankan pengelolaan dan penanganan yang positif sehingga saya bisa konsentrasi menangani mereka yang isolasi mandiri di rumah. Saya harus pastikan supply obat-obatan dan vitamin tidak boleh terputus.

Sangat beruntung dan bersyukur, saya banyak dibantu RSAU Halim, RSPAD Gatot Subroto, Wisma Atlet, serta sahabat-sahabat yang simpati memberikan obat-obatan dan vitamin-vitamin yang diperlukan untuk mereka terutama bagi yang isolasi mandiri di rumah.

Dan Satgas Wisma Atlet adalah Mayjen dr Tugas, dulu dinas di RSPAD dan sering interaksi dengan saya, terutama kalau ada kasus yang memerlukan tindakan DSA (Digital Subtraction Angiography-cuci otak-red) dengan dr Terawan.

Alhamdulillah, mulai minggu ke-3 setelah isolasi, berangsur-angsur sebagian di antara mereka yang positif sudah negatif setelah 2 kali swab. Menantu dan cucu sudah negatif di minggu ke-4. Alhamdulillah Anak saya di minggu ke-5 (hari ini, 25 Desember 2020) sudah negatif hasil PCR swab test-nya.

Saat ini, dari 16 orang yang dinyatakan positif 5 minggu yang lalu, tinggal 3 karyawan sedang dalam proses recovery-nya, menunggu hasil swab PCR minggu depan. Kondisi mereka sejauh ini tetap sehat dan baik-baik saja tanpa gejala.

Setiap mau swab test, saya kirim petugas/perawat ke rumah mereka bagi yang isolasi di rumah masing-masing dan termasuk ke rumah anak saya yang juga isolasi di rumah. Di Jakarta ada RS yang memberikan layanan Homecare, jadi mereka mengirim petugas medis mendatangi rumah yang akan diswab PCR.

Ilustrasi corona. Foto: Maulana Saputra/kumparan

Mengapa saya baru cerita sekarang? Terus terang di minggu-minggu awal itu saya sangat panik dan sangat khawatir, mengingat banyaknya keluarga dan karyawan (16 orang termasuk anak, mantu dan cucu berumur 4 tahun) yang terpapar positif.

Sangat susah mencari/tracing dari mana dan dari siapa terpaparnya COVID ini karena ada banyak faktor.

Alhamdulillah sampai saat saya tulis ini 25 Desember 2020, sebulan lebih 1 minggu sejak dipastikan positif COVID-19 bulan lalu, dari 16 orang keluarga dan karyawan yang positif terpapar, 13 orang sudah negatif termasuk anak, menantu, cucu, 2 keponakan saya, dan para karyawan.

Tinggal 3 orang karyawan yang isolasi mandiri di rumahnya masing-masing yang masih positif. Kondisi mereka tiap hari saya pantau dan dalam keadaan baik-baik saja, tidak ada gejala apa pun.

Mereka ini masih dalam pantauan dan pengelolaan saya sampai nanti dinyatakan negatif.

Apa saja yang saya lakukan sejak indikasi awal terpapar sampai sekarang?

  1. Begitu dinyatakan ada yang positif terpapar corona, segera malam itu juga saya pisahkan yang terpapar positif dan yang negatif. Bisa dengan isolasi mandiri di rumah yang statusnya OTG atau gejala ringan (konsultasi dengan dokter) sejauh ruangan di rumah memungkinkan.

  1. Kirim ke Wisma Atlet kalau tidak bisa diakomodir di rumah, 1 hari kemudian.

  1. Menyiapkan obat-obatan/vitamin seperti Azythromicin antibiotik, vitamin C, D dan E sesuai resep dari Satgas COVID RSPAD. Perlu juga tambahan Nasal Spray dan cairan kumur mulut.

  1. Kalau ada obat herbal Cina Lin Hua Qinwen bagi yang positif perlu juga disiapkan. Kalau gejala semakin memburuk biasanya oleh dokter akan diberi tablet antivirus Avigan atau Favipiravir.

  1. Mengukur suhu tubuh dan kadar oksigen semua anggota keluarga baik yang positif maupun negatif dengan termoscan dan oxymeter sehari 2kali. Alat ukur ini bisa beli online.

  1. Berjemur setiap ada matahari pagi dan olahraga secukupnya.

  1. Fogging/bersihkan rumah setiap hari (mesin spray disinfektan yang keluar bukan spray cairan tapi berupa fog, jadi tidak basah dan lengket).

  1. Pintu, jendela dibuka setiap hari. Biarkan udara mengalir bersirkulasi.

  1. Bagi yang negatif disamping tetap 3 M, juga sebaiknya konsumsi vitamin C, D dan E, spray hidung dan obat kumur.

  1. Suplemen-suplemen lain seperti madu, minyak kayu putih untuk gosok badan, kumur air garam hangat, juga upaya yang baik.

  1. Perhatian, simpati, dan komunikasi dengan mereka yang positif terpapar sangat penting, untuk menguatkan percaya diri mereka. Contoh: setiap pagi dan sore saya ajak cucu-cucu saya saling pandang dan saling berbincang-bincang dengan anak, menantu dan cucu yang sedang isolasi. Mereka berada di balkon atas, cucu-cucu dan kami yang sehat di halaman bawah. Video call, chat di WA dan lain-lain bisa menghibur mereka yang isolasi baik yang mandiri maupun yang di Wisma Atlet

  1. Monitor keadaan kesehatan mereka setiap hari untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya, dan cek ketersediaan obat/vitamin mereka sehingga tidak terlambat konsumsi obatnya.

  1. Beruntung saya masih bisa berbagi tugas dengan isteri yang mengelola urusan logistik mereka, terutama yang isolasi mandiri di rumah masing-masing karena mereka tidak bisa ke mana-mana.

  1. Ada 3 Filosofi dasar kehidupan pilot tempur dalam menghadapi emergency/keadaan darurat dalam penerbangan, yang sangat membantu saya dalam mengelola dan mengendalikan semuanya.

Apa itu? :

a. Maintain Aircraft Control

Kendalikan dulu keadaan dengan baik, tenang meskipun stress atau panik, meskipun ada 16 orang terpapar positif corona dalam waktu yang bersamaan. 3 di antaranya anak, menantu, dan cucu, 2 keponakan, dan 11 karyawan.

a. Analyse Situations

Gejala apa dan siapa yang harus mendapat prioritas dan ke mana mereka akan di bawa dan siapa yang menanganinya.

c. Take proper action.

Ambil keputusan yang cepat dan tepat untuk menentukan penanganannya, dukungan obat/vitamin, logistik mereka, termasuk pelaksanaan swab test pcr sesuai jadwal hasil konsultasi dengan para dokter.

Semoga bermanfaat.

Djoko Suyanto, 25 Desember 2020.