kumparan
18 Januari 2019 20:53

Cerita Dokter yang Menangani Titi Wati, Perempuan Berbobot 350 Kg

Evakuasi, ibu Titi Wati, penderita obesitas, Tagana Provinsi Kalimantan
Evakuasi ibu Titi Wati penderita obesitas dibantu oleh Tagana Provinsi Kalimantan Tengah, dari rumahnya menuju RSUD Doris Sylvanus Palangka Raya. (Foto: Dok. Tagana)
Titi Wati, perempuan yang memiliki bobot tubuh hingga mencapai 350 Kg sempat menarik perhatian publik. Setelah menjalani operasi pemotongan lambung alias Batriartik pada Selasa (15/1) kemarin sejumlah pengawasan dan tindakan medis tengah dijalani perempuan yang berusia 37 tahun ini.
ADVERTISEMENT
Sebagai informasi, berdasarkan penuturan dr Gede Eka Rusdi Antara, salah satu dokter yang ikut menanggani operasi Titi di RS Doris Sylvanus Palangkaraya, berat badan Titi berbobot 220 Kg. Berat badannya naik tajam dari 168 kg menjadi 220 kg sejak tahun lalu. Hal ini, karena paska melahirkan ia banyak mengonsumsi makanan dan tidak melakukan aktivitas olahraga.
Eka Rusdi mengatakan, tim medis melakukan pemotongan lambung hingga 70 persen untuk mempersempit lambung Titi. Pemotongan lambung ini diperlukan agar daya tampung makan Titi bisa berkurang.
"Sederhananya volume lambung itu harus dikurangi jika ingin menurunkan berat badan. Kedua, metabolisme akan lebih baik, karena di sana ada hormon gelin. Hormon gelin ini yang mempengaruhi nafsu untuk makan," kata dr Eka Rusdi dokter yang bekerja pada
ADVERTISEMENT
Bagian Divisi Bedah Digestif RSUP Sanglah di Rumah Sakit Bali Royal, Denpasar, Jumat (19/1).
Setelah menjalani operasi selama lebih kurang 1,5 jam, kini kondisi Titi dikabarkan membaik. Tubuhnya merespons baik segala tindakan medis. Tidak ada nyeri, mual atau gejala ganguan lainnya. Tetapi, ia harus menjalani berbagai tindakan medis. Pertama, ia tengah menjalani terapi latihan gerak pasif.
"Gerakan pasif yang dilakukan seperti simulasi orang berjalan, gerakan sendi. Simulasi dilakukan karena dia masih dalam keadaan terbaring," ujar dokter ini.
Selanjutnya, pengawasan terhadap seluruh organ tubuhnya terus dipantau secara berkala. Ada dokter penyakit dalam untuk memantau kadar gula, dokter bagian kardiologi mengawasi jantungnya, dokter yang memantau jantung, kulit dan juga gizi. Selanjutnya, bila kondisi Titi semakin baik, dia akan diperkenankan pulang selama dua sampai empat hari.
Dokter, Eka Rusdi
dr Eka Rusdi. (Foto: Denita BR Matondang/kumparan)
"Bagian gizi itu dilakukan untuk menset-up ulang jenis makanan, pola makanan, dan jumlah makanan yang bisa dikonsumsi. Dan untuk pantangan hampir tidak, paling karena dia punya penyakit kencing manis jadi itu saja pantangannya," ucap Eka Rusdi.
ADVERTISEMENT
Eka Rusdi juga menegaskan, operasi pemotongan lambung ini tidak otomatis menurunkan berat badan Titi. Tetapi, akan menurun secara bertahap karena operasi itu berfungsi untuk memperbaiki fungsi organ. Juga, mengembalikan kadar laboratorium yang normal seperti lemak, gula dan lainnya.
"Setelah itu baru dampaknya menurunkan berat badan. Setelah ini diharapkan penurunan berat badannya itu 15 Kg perbulannya," ujar dia.
Bila Titi dapat mempertahankan pola makan dan hidup yang sehat setelah keluar dari rumah sakit, berat badannya akan kembali normal dalam 12 bulan. Pemda Kalimantan dan pihak RS, Kata Eka Rusdi, akan memantau terus pola hidup Titi. Namun, penurunan berat badan akan berhasil tentu tergantung Titi.
Di akhir pertemuan Eka Rusdi dan Titi. Tak lupa Titi mengucapkan terima kasih. Bagi sang dokter, Titi merupakan perempuan polos dan baik hati.
ADVERTISEMENT
"Ibu Titi sangat berterima kasih sekali kepada semua pihak yang membantu, keluarganya sangat antusias. Bagi saya dia orangnya baik, polos, enak diajak ngobrol, humble gitu, Terus nurut sama dokter," kata Eka Rusdi.
Evakuasi, ibu Titi Wati, penderita obesitas, Tagana Provinsi Kalimantan
Evakuasi ibu Titi Wati penderita obesitas dibantu oleh Tagana Provinsi Kalimantan Tengah, dari rumahnya menuju RSUD Doris Sylvanus Palangka Raya. (Foto: Dok. Tagana)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan