Cerita Dosen Unimed yang Punya Koleksi 7 Surat Ibunda BJ Habibie

Kesedihan atas wafatnya Presiden ke-3 RI BJ Habibie dirasakan seluruh masyarakat Indonesia. Tak terkecuali dosen dan sejarawan Universitas Negeri Medan (Unimed), Ichwan Azhari.
Ichwan memang bukan bagian dari keluarga Habibie. Tapi, dia merasa dekat dengan Bapak Teknologi karena memiliki surat yang ditulis dari Raden Ayu Tuti Marini Puspowardojo, ibu Habibie.
Total ada 7 surat tulisan Tuti untuk Habibie yang dikirim dalam kurun waktu 1967-1970 dari Bandung ke Hamburg. Ichwan mengatakan surat itu didapatnya dari pengepul benda antik dan filateli di Stuttgart tahun 1997.
Ichwan saat itu mengenyam pendidikan di salah satu kampus di Hamburg. Dia dikenal sebagai kolektor filateli. Pada saat itu, di Stuttgart ada pameran koleksi filateli dan barang antik. Dari Hamburg dia menuju Stuttgart demi melihat pameran itu.
"(Ada) pengepul itu sudah lama mencari saya karena dia mengenali saya sebagai pengumpul benda-benda filateli asal Indonesia di berbagai bursa dan lelang prangko di Jerman," ujar Ichwan, Kamis (12/9).
Ichwan mengatakan pengepul itu orang Jerman dan tahu semua tentang Habibie. Pada saat itu, kata Ichwan, Habibie cukup terkenal di Jerman.
Ichwan awalnya sempat heran dari mana pengepul ini mendapat surat otentik tulisan ibunda Habibie. "Pengepul Jerman itu sambil tertawa dengan enteng menjawab surat-surat Ibu Habibie didapat dari tukang botot (rongsokan) di Hamburg," ujar Ichwan.
Pengepul mendapatkan surat-surat itu diduga dari asisten rumah tangga di kediaman Habibie di Hamburg yang sedang membersihkan gudang.
"Saat gudang penuh dengan berbagai koran dan majalah, saya menduga kumpulan surat untuk Habibie itu ikut terangkut tukang loak," ujar Ichwan. "Dari tukang loak itulah pengepul mendapatkan surat-surat dan menjualnya di bursa prangko internasional Stuttgart".
Ichwan mengatakan pada saat itu, pengepul menawarkan sekardus surat-surat yang ditulis ibunda Habibie. Namun karena pada saat itu statusnya masih mahasiswa dia hanya mampu membeli 10 surat. Ichwan lupa berapa harga satu surat yang dijual pengepul itu.
Alamat Ibunda Habibie dalam surat itu tertulis di Jalan Imam Bonjol 24, Bandung. Dikirim ke Dr.Ing.B.J.Habibie, Heinrich Bomhoff Weg 2, (2) Hamburg 52. W.Djerman.
Surat itu juga banyak berbicara tentang kerinduan seorang ibu kepada Habibie, Ainun (anak menantunya) dan cucunya Ilham dan Thareq.
"Surat surat ibunda Habibie selalu menyapa dengan cinta dan sayang, 'Liebste Rudy, Ainon, Ilham en Thareq' begitu sang ibu selalu menyapa dari Bandung di awal suratnya ke belahan jiwa yang dirindukannya di tempat yang jauh, jauh, di Hamburg," ujar Ichwan.
Saat membaca surat itu, Ichwan merasa terharu dan bergetar. Isi surat itu ditoreh dengan tinta biru di atas kertas yang ditulis di dalam amplop aerogram oleh Tuti Martini.
"Banyak kata nasihat, saran dan di atas segalanya, kerinduan," ujar Ichwan.
Usai membeli surat, Ichwan senang. Dia langsung menunjukkan kepada sahabatnya, Herbert Kaminski, yang berprofesi sebagai dosen di salah satu universitas di Hamburg.
"Dia (Kaminski) sangat terkejut dan berulang kali membujuk saya untuk bisa memperoleh (surat). Dia terkesan surat dari Ibunda Habibie itu karena menyebut nyebut nama Ilham dan Thareq, dua anak Habibie yang dulu saat sekolah dasar di Hamburg, mereka adalah anak murid ibu Margaret, istri Kaminski," ungkap Ichwan.
Karena terus didesak, akhirnya Ichwan menyerahkan 3 surat kepada Kaminski, hingga surat yang tersisa padanya tinggal 7 buah.
"Sampai saat ini selama lebih 20 tahun, saya masih menyimpan 7 sisa surat surat dari Ibunda Habibie untuk Habibie yang tercecer di Jerman itu," ujar Ichwan.
Ichwan mengatakan sewaktu masih di Jerman, sekitar tahun 2000-an, dia pernah mengirim foto copy surat tersebut ke alamat rumah Habibie di Hamburg. Tapi sayang staf Habibie tidak menindaklanjutinya.
Ichwan juga pernah dihubungkan ke sekretaris Habibie dan sempat berkomunikasi mengenai surat itu, namun tidak berlanjut.
"Karena saya katakan saya hanya mau menyerahkan surat mengharukan ini langsung ke pak Habibie," ujar Ichwan.
Sampai akhirnya, pembuatan film Habibie & Ainun, pernah ada yang menghubunginya untuk meminjam surat miliknya sebagai latar dari film tersebut .
"Tapi yang membuat film itu tidak menghubungi lagi saat saya katakan yang membolehkan itu hanya Pak Habibie," ujarnya.
Semenjak itu, kata Ichwan, dia terus mencari kesempatan untuk bertemu dengan Habibie. Namun hingga Habibie wafat, Ichwan belum sempat menyerahkan surat itu ke Habibie.
