Cerita Fathan, WNI di Korsel yang Namanya Hilang dari DPT

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kotak suara di Korea Selatan. Foto: Dok. Andre Tansil
zoom-in-whitePerbesar
Kotak suara di Korea Selatan. Foto: Dok. Andre Tansil

Fathan Pranaya menjadi salah satu WNI yang seharusnya menyalurkan hak suaranya di Korea Selatan, tempat ia tinggal saat ini. Namun, niatnya harus terganjal karena namanya tidak tercantum dalam daftar pemilih tetap.

"Jadi berawal dari Idul Adha tahun lalu, gue kan salat Id di KBRI Seoul. Nah, ada panitia yang nyuruh ngisi form buat data pemilu," kata Fathan kepada kumparan, Minggu (14/4).

Pada bulan November 2018, Fathan menyebut, namanya sudah masuk dalam DPT di Korea. Namun, pada tanggal 2 April, nama dia justru hilang dari daftar.

Nama fathan ada di DPT saat bulan November. Foto: Dok. Fathan Pranaya

"Nah, tanggal 2 April kan iseng ngecek lagi. Pas dicari, ternyata nama gue menghilang," tuturnya.

Saat itu, ia sudah sempat bertanya kepada panitia pemilu di Korsel. Panitia tersebut memintanya untuk mengisi formulir daftar pemilih khusus (DPK).

Nama Fathan hilang dari DPT di Korea Selatan saat bulan April. Foto: Dok. Fathan Pranaya

"Terus katanya udah didaftarin di DPK. Jadinya gue harus datang jam sore hari ini di KBRI. Nah, pas gue datang, eh di daftar list DPK enggak ada nama gue. Di webnya juga masih hilang," sebutnya.

Fathan akhirnya hanya bisa pasrah. Dia akhirnya menunggu di antrean dengan harapan bisa memilih dengan surat suara yang tersisa.

Pemilu 2019 di Korsel. Foto: Dok. KBRI Korea Selatan

"Tapi waktu enggak ada di daftar, itu udah jam setengah 6 sore. Antrean masih panjang, padahal di jadwal TPS cuma buka sampai jam 6 sore. Gue udah feeling enggak akan dapat sisa surat suara, jadi gue keluar antrean," ucap dia.

Namun, Fathan mengaku nasibnya masih lebih mujur ketimbang teman-temannya yang lain. Sebab, beberapa temannya yang memilih menggunakan metode pos, justru tidak pernah mendapatkan surat suara mereka.

"Kalau teman gue, kebanyak surat suaranya dikirim pos, tapi alamatnya salah. Ini sih yang lebih kasihan, enggak bisa apa-apa. Kalau gue kan masih ada harapan pakai surat suara sisaan," ujar dia.