Cerita Febri Diansyah Ikut Seleksi Superketat Pegawai KPK Indonesia Memanggil

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala Biro Hubungan Masyarakat Febri Diansyah mengangkat kartu identitas pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) usai menyampaikan pengunduran dirinya sebagai pegawai dari lembaga anti korupsi tersebut di gedung KPK, Kamis (24/9).  Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Kepala Biro Hubungan Masyarakat Febri Diansyah mengangkat kartu identitas pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) usai menyampaikan pengunduran dirinya sebagai pegawai dari lembaga anti korupsi tersebut di gedung KPK, Kamis (24/9). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Pegawai KPK sedang proses alih status menjadi aparatur sipil negara (ASN). Proses melalui Tes Wawasan Kebangsaan itu kemudian menjadi sorotan.

Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) dituding menjadi alat untuk menyingkirkan pihak tertentu dari KPK. Ada 75 pegawai KPK yang tidak memenuhi syarat menjadi ASN. Novel Baswedan hingga Ketua WP KPK Yudi Purnomo dikabarkan masuk dalam daftar itu.

Mantan juru bicara KPK Febri Diansyah turut menyoroti soal TWK itu. Termasuk pertanyaan-pertanyaan dalam tes yang dinilai tak ada kaitannya dengan tugas KPK.

Ia kemudian membandingkannya dengan seleksi pegawai KPK bernama Indonesia Memanggil. Febri Diansyah ikut seleksi Indonesia Memanggil 7 pada 2013 lalu.

"Proses yang dilalui cukup panjang dan saringan yang sangat ketat," kata Febri dalam akun Twitternya. Ia mempersilakan kumparan untuk mengutipnya.

Ilustrasi KPK. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Febri menyebut, seleksi dilakukan oleh pihak ketiga yakni konsultan independen. Ia pun berbagi pengalaman soal beberapa tahap dalam seleksi tersebut.

Tahap pertama adalah seleksi administrasi. Pada tahap ini, Febri mengaku ditanya soal integritas dan motivasi masuk KPK.

Tahap kedua adalah tes potensi yang digelar seharian. Menurut Febri, tes ini mirip dengan CPNS. Febri mengaku pada saat tes itu, kondisi kesehatannya sempat turun.

"Saya merasakan tesnya sangat berat hari itu. Selain menguji potensi IQ, juga kesabaran dan konsistensi," ujar dia.

kumparan post embed

Tahap ketiga adalah tes kompetensi. Tes ini disesuaikan dengan bidang masing-masing calon serta pengetahuan umum tentang berbangsa dan bernegara, hukum, dan pemberantasan korupsi.

"Karena saya melamar sebagai Penyelidik, ada juga pertanyaan tentang audit," ungkap Febri.

Masih pada tahap ini, ada pula sesi wawancara dengan konsultan. Menurut Febri, ada banyak hal yang digali. Termasuk tentang integritas dan independensi.

"Termasuk pertanyaan, apa yang akan anda lakukan jika tahu atasan salah. Saya jawab, saya akan ingatkan dengan cara yang tepat," ujar Febri.

Aksi pegawai KPK menolak revisi UU KPK dan capim bermasalah di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (6/9). Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan

Ia pun ditanya apa yang akan dilakukannya bila dihadapkan dengan situasi ketika harus memilih kepentingan pribadi dengan kepentingan pelaksanaan tugas. Serta terkait kepemimpinan tim dan pengambilan keputusan.

"Saya memahami, ini pertanyaan sangat penting karena terkait aspek kepemimpinan dan konflik kepentingan," ucap dia.

Tahap keempat adalah tes bahasa Inggris. Lalu kemudian tes kesehatan.

Setelah seluruh tahapan dilalui, maka calon yang lolos akan mengikuti wawancara dengan unit kerja. Pada tahap ini, para calon dianggap sudah memenuhi kompetensi dasar. Wawancara dilakukan untuk mencari kecocokan dengan pelaksanaan tugas unit masing-masing.

"Pada fase wawancara inilah digali sedemikian rupa kemampuan dan latar belakang. Sebelumnya KPK menerjunkan tim profiling masing-masing calon," ujar dia.

Aksi pegawai KPK menolak revisi UU KPK dan capim bermasalah di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (6/9). Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan

Proses seleksi dijalani Febri Diansyah hampir 6 bulan. Dari mendaftar pada Mei 2013, hingga kemudian menjalani pendidikan pada November 2013.

"Setelah lolos seluruh tahapan, seingat saya ada 160 orang. Kami memasuki tahapan yang paling “terkenal” di setiap angkatan KPK," ungkap Febri.

Pelatihan Bersama Kopassus

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto melakukan inspeksi mendadak ke Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD di Cijantung Jaktim. Foto: Puspen TNI

Pendidikan dasar yang dimaksud Febri disebut Induksi Pegawai KPK. Febri menyebut angkatan Indonesia Memanggil (IM) 7 dididik di Pusat Pendidikan Kopassus di Batujajar Kabupaten Bandung Barat selama 2 bulan.

"Beberapa angkatan sebelumnya ada yang di BAIS TNI dan Akpol," ujar dia.

Selama pendidikan, mereka diberikan berbagai materi fisik, disiplin, aspek kebangsaan dan cinta tanah air, hingga materi-materi intelijen dan hukum.

Menurut Febri, ia dan para rekannya sudah mulai beraktivitas dari jam 4 subuh. Dari salat berjemaah, olah raga, mandi, upacara, hingga apel pagi. Berlanjut kemudian pembekalan di dalam kelas.

"Sesi harian berakhir sampai apel malam sekitar jam 8 atau 9. kemudian kami bersih-bersih dan bersiap istirahat. Tapi ada kewajiban untuk jaga barak secara bergantian tiap jam sampai pagi," ungkap Febri.

"Oh iya, pegawai diberikan waktu untuk ibadah sesuai agama masing-masing, setiap hari dan juga hari minggu," sambungnya.

Aksi damai Pegawai KPK dan aktivis antikorupsi di Gedung KPK. Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan

Selain di Batujajar, pelatihan juga dilakukan di hutan tempat latihan Kopassus di Situ Lembang. "Saya ingat, rasanya airnya sangat dingin seperti air yang ditaruh di samping pintu kulkas semalaman," ujar dia.

Pelatihan di Situ Lembang dilakukan dengan lebih intens. Menurut Febri, instruktur selalu menekankan tentang kebangsaan dalam setiap saat.

"Yang saya ceritakan mungkin hanya bagian kecil. Pegawai-pegawai KPK di angkatan sebelumnya saya dengar melalui proses yang lebih berat," ujar dia.

Pengalamannya menjadi tak terlupakan karena pada saat pelatihan itu, istri Febri sedang hamil tua anak ketiga. Ia mengaku sebenarnya hampir tidak jadi ikut induksi.

"Tapi setelah saya bicara dengan keluarga, mereka merelakan karena yang kami pahami saat itu, menjadi pegawai KPK adalah panggilan hati untuk berkontribusi dan mengabdi pada Indonesia," ungkap dia.

"Alhamdulillah, saat ada kabar isteri akan lahiran, saya diberikan cuti 2 hari untuk menemani proses kelahiran di Jakarta. Dengan catatan, setelah itu saya wajib kembali ke lokasi dan lapor ke pelatih," imbuhnya.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat Febri Diansyah mengangkat kartu identitas pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) usai menyampaikan pengunduran dirinya sebagai pegawai dari lembaga anti korupsi tersebut di gedung KPK, Kamis (24/9). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Pengalaman Febri dalam menjalani seleksi hingga induksi itu yang kemudian membuatnya heran dengan Tes Wawasan Kebangsaan. Lantaran tes itu kemudian malah menyingkirkan pegawai senior KPK yang berintegritas.

"Karena itu saya enggak habis pikir sekarang beberapa pegawai senior yang berdedikasi dan kinerja bagus terancam disingkirkan hanya karena tes wawasan kebangsaan yang kontroversial ini," pungkas dia.

Febri Diansyah mundur dari KPK pada akhir 2020 lalu. Menurutnya, kondisi politik dan hukum yang berubah di KPK menjadi salah satu alasan dasar yang membuatnya mundur. Ia kemudian bergabung ke firma hukum Visi Integritas.

***

Saksikan video menarik di bawah ini: