Cerita Icha soal Ayahnya Kena Happy Hypoxia: Kesadaran Turun, Salat Berkali-kali

26 November 2020 14:39 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Icha Ahmadi, penyintas COVID-19 Foto: Dok. Forum Merdeka Barat 9
zoom-in-whitePerbesar
Icha Ahmadi, penyintas COVID-19 Foto: Dok. Forum Merdeka Barat 9
ADVERTISEMENT
Happy hypoxia menjadi momok bagi penderita COVID-19. Seseorang yang mengalami ini bisa tiba-tiba hilang kesadaran hingga meninggal dunia.
ADVERTISEMENT
Hal tersebut dialami pasien, salah satunya ayahanda dari seorang karyawati yang juga penyintas COVID-19, Icha Atmadi. Beda dengan Icha yang hanya mengalami gejala ringan, sang ayah yang juga kena COVID-19 termasuk pasien bergejala berat.
"Ayah itu seminggu pertama, beliau merasa sadar tapi yang saya rasa kesadarannya berkurang," kata Icha dalam diskusi virtual Forum Merdeka Barat 9, Kamis (26/11).
Sang ayah dirawat selama hampir 40 hari. Datang ke rumah sakit masih dalam keadaan sadar.
Namun dalam awal-awal perawatan, kata Icha, sang ayah sempat terlihat linglung. Dia tetap berkegiatan, tapi seperti tak sadar.
"Dia dalam sehari salat bisa berkali-kali, pokoknya kesadarannya menurun. Karena saya baru baca itu kekurangan oksigen," tutur dia.
Infografik Waspada Happy Hypoxia. Foto: Hod Susanto/kumparan
Dokter spesialis paru dr Erlina Burhan pernah menjelaskan, kekurangan oksigen yang dimaksud Icha biasa disebut juga saturasi oksigen rendah. Hal ini salah satu gejala yang dialami pasien happy hypoxia.
ADVERTISEMENT
Namun, Icha bersyukur sang ayah bisa melewati fase-fase tersebut. Ayahnya sembuh meski dirawat dalam jangka waktu sangat panjang.
Icha berpesan, masyarakat sebisa mungkin mencegah agar tak terkena COVID-19. Sebab, fisik dan mental sakit luar biasa.
Apalagi biaya perawatan pasien sangat mahal meski dalam situasi pandemi biaya perawatan ditanggung negara.
"Saya intip biayanya sampai ratusan juta rupiah," ujar Icha.