Cerita Jokowi Tolak Lockdown: Di Kabinet 80 Persen Minta, tapi Saya Semedi
·waktu baca 2 menit

Presiden Jokowi mengungkap cara Indonesia menangani pandemi COVID-19. Saat pandemi mulai merambah, desakan lockdown sangat kuat. Namun, sebagai kepala negara ia tak buru-buru mengamini.
Hal itu diungkapkan Jokowi saat menghadiri Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Auditorium Menara Bank Mega Jakarta Selatan.
“Saya tidak bisa memperkirakan kalau kita saat itu melakukan lockdown, berakibat pada ekonomi seperti apa, berakibat sosial politik seperti apa karena awal-awal hampir mungkin 70 negara semua melakukan lockdown,” kata Jokowi, Rabu (7/9)
Bahkan di jajaran kabinet, mayoritas mendukung diberlakukannya lockdown.
“Di kabinet sendiri 80 persen minta lockdown, survei rakyat minta 80 persen lockdown, tapi saat itu saya semedi,” tutur Jokowi.
Alhasil setelah merenung dan memikirkan secara matang, Jokowi tak menerapkan lockdown. Diketahui, sejak Maret 2020, pemerintah memilih memberlakukan PSBB.
“Saya endapkan betul apa bener harus melakukan itu dan jawabannya saya jawab tidak usah lockdown! dan ternyata betul kalau lockdown mungkin (ekonomi) kita bisa minus 17 persen,” beber Jokowi.
Pendek kata, Jokowi mengambil hikmah dari pandemi Indonesia juga belajar menghadapi guncangan, banyak belajar mengkosolidasi agar bisa bersama-sama semua pusat provinsi daerah sampai RT, ormas hingga TNI-Polri semua masyarakat bergerak.
“Konsolidasi seperti itu yang harus diteruskan karena perang, krisis energi, krisis pangan, krisis finansial, yang paling bisa kita bisa mengkonsolidasikan dari atas sampai bawah karena saya meyakini landscape politik ekonomi akan berubah dan bergeser ke arah mana itu yang belum diketahui,” tegas Jokowi.
