Cerita Jurnalis di Gaza, Bertaruh Nyawa Demi Berita
·waktu baca 4 menit

Lima jurnalis Al Jazeera tewas pada Minggu (10/8) akibat serangan terarah tentara Israel di Gaza City. Kematian mereka kembali mengingatkan dunia pada satu kenyataan pahit: di Gaza, profesi jurnalis kerap berarti hidup di ujung maut.
Bagi banyak pewarta di wilayah itu, liputan bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah pergulatan sehari-hari untuk mencari kebenaran di tengah keterbatasan, ancaman, dan larangan.
Cerita-cerita mereka tak hanya menjadi catatan berita, tetapi juga potret personal tentang keberanian dan kehilangan. Berikut cerita mereka yang berada melihat kengerian di Gaza.
Lanskap peliputan di Gaza
Sebelum menuju kepada kesaksian mereka di sana, penting untuk memahami sejak 7 Oktober 2023, Israel melarang jurnalis asing masuk ke Gaza tanpa izin dan pengawalan militer.
Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengecam kebijakan ini sebagai tindakan yang "melawan kebenaran."
Akibatnya, sebagian besar liputan yang keluar dari Gaza adalah karya jurnalis lokal--baik yang bekerja untuk media internasional maupun sebagai pekerja lepas--banyak di antaranya mengandalkan media sosial untuk menyebarkan laporan.
Belum lagi, menurut laporan Reporters Without Borders (RSF), jurnalis Palestina juga menghadapi kontrol politik dari Otoritas Palestina di Tepi Barat dan Hamas di Gaza. Lanskap media di wilayah ini pun kemudian dapat dikatakan terbagi dalam spektrum yang dipengaruhi afiliasi politik, dari media independen hingga media milik pemerintah atau kelompok bersenjata.
"Mereka juga bekerja untuk media lokal dan internasional. Lanskap media di Palestina terdiri dari beberapa media independen, seperti Watan TV dan Ajyal Radio, serta media yang berafiliasi dengan Otoritas Palestina atau Fatah, seperti Palestine TV dan kantor berita Wafa. Kontennya tunduk pada kontrol politik. Di Jalur Gaza, terdapat juga media yang berafiliasi dengan Hamas, seperti kantor berita Shehab dan Jaringan Media Al-Aqsa," tulis laporan salah satu NGO asal Prancis Reporters Without Borders (RSF).
Cerita dari mata mereka yang melihat langsung
Koresponden Al Jazeera asal Gaza, Moath al-Kahlout, mengaku hidupnya selama 600 hari terakhir selalu diawali oleh suara dengung drone Israel dan diakhiri dengan dentuman bom. Dalam wawancara dengan Committee to Protect Journalists (CPJ), ia menyebut momen terberatnya adalah kematian sepupunya yang ditembak saat mengantre bantuan di Zikim.
“Menjadi jurnalis di sini berarti bukan hanya bekerja, tapi juga bertahan hidup,” ujarnya dalam laporan bulan Juli lalu.
Dalam salah satu sebuah unggahan Instagram-nya pun, Moath memperlihatkan dirinya merekam di tengah upaya menghindari ledakan.
Stres dan trauma, juga tergambar dari kisah jurnalis lepas Al Aila, saat tragedi datang ketika sarapan di rumah ibunya. Suaminya, Roshdi Sarraj--juga seorang jurnalis--tewas terkena bom di Tel Al-Hawa pada minggu kedua perang.
“Kalau bukan saya yang mendokumentasikan ini, siapa lagi?” kenang Aila, mengulang kata-kata terakhir suaminya sebelum liputan yang dimuat dalam laporan lembaga non-profit iMEdD (incubator for Media Education and Development), pada Mei lalu.
Ledakan itu membuat Sarraj berlari di depan istri dan bayi mereka, Dania yang kala itu berusia 11 bulan, untuk melindungi keduanya. Saat debu mereda, Aila melihat retakan di tengkorak suaminya dan napas terakhirnya.
"Saya bisa melihat otaknya dari dalam. Ia terengah-engah, mengembuskan napas terakhirnya," ceritanya.
Meski kehilangan, Aila tetap melaukan peliputan bagi Ain Media, perusahaan produksi yang ia dirikan bersama Sarraj, dan terus mengirim laporan ke France24, BBC, ABC Australia, dan Al Jazeera.
Sebagaimana konflik terus berlanjut, semangat Aila tak kalah berkobarnya bagi Ansam El Qattaa, jurnalis digital berusia 34 tahun, meliput di Gaza.
Ia bahkan menyebut jurnalis sebagai profesi yang mematikan.
"Di Gaza City, ini sudah menjadi profesi yang mematikan," tulis perempuan berusia 34 tahun itu melalui WhatsApp kepada iMEdD.
Usai stasiun radionya dibom pada minggu pertama perang, kondisi memaksanya melaporkan berita untuk berbagai media berbahasa Arab di tengah keterbatasan.
Ia tak punya kendaraan, sehingga seluruh peliputan yang dilakukannya dilakukan dengan berjalan kaki menuju lokasi.
Jikalau sudah mendapatkan bahan liputannya, ia harus mencari tempat tinggi untuk mengirim laporan via eSIM karena infrastruktur telekomunikasi di Gaza yang rusak parah akibat peperangan.
“Saya mendokumentasikan kisah-kisah sambil merasa takut nyawa saya bisa hilang kapan saja,” tulisnya kepada organisasi nirlaba media di Yunani itu.
Kesaksian mereka adalah segelintir dari ratusan jurnalis lainnya yang tiada henti menyajikan kebenaran di tengah-tengah risiko yang tinggi.
Mereka tetap bertahan meski data terkini mengatakan sudah ada 274 jurnalis yang tewas karena mewartakan kabar dari sana.
