Hari Kartini Diver Perempuan Harita Nickel

Cerita Kartini Masa Kini: Srikandi Penjaga Laut Obi

21 April 2024 10:00 WIB
·
waktu baca 7 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Prasari Riski Hutami begitu mantap mengangkat hingga menggendong tabung oksigen seberat 14 kilogram di punggungnya untuk menyelam. Perawakan perempuan 27 tahun itu begitu bugar saat menceburkan diri ke jernihnya laut Pulau Obi.
Perempuan asal Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu, sudah biasa berkutik dengan tabung scuba hingga peralatan menyelam lainnya. Hobi menyelam sudah ia tekuni sejak masa kuliah di Jurusan Perikanan Institut Pertanian Bogor (IPB).
Saat itu, ia sudah bergabung dengan klub selam kampusnya dan banyak belajar teknik menyelam hingga pengetahuan soal pemantauan ekologi ekosistem laut.
Prasari Riski Hutami, penyelam perempuan dari environmental team Harita Nickel,asal Gunungkidul, DIY. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
“Menyelam adalah pekerjaan sekaligus hobi untuk stress release”, begitu kata Prasari ketika mengekspresikan pekerjaannya saat ini. Prasari adalah seorang penyelam perempuan di perusahaan pertambangan dan pemrosesan nikel terintegrasi, Harita Nickel, di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara.
Pekerjaan Prasari masuk bagian environmental. Tugasnya boleh dibilang sebagai ‘Srikandi Penjaga Ekosistem Laut’, sebab ia punya tugas penting untuk memantau dan menjaga ekosistem laut secara ekologi maupun kualitas airnya.
Pekerjaan Prasari ini sesuai komitmen Harita Nickel menjaga lingkungan, termasuk kelestarian ekosistem laut di Pulau Obi.
Prasari sudah lama menekuni hobi menyelam sejak kuliah di IPB. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Ada beberapa titik pemantauan, lokasi Prasari dan tim penyelam mengecek perairan Pulau Obi, khususnya di perairan Kawasi. Minimal seminggu sekali Prasari bersama rekan-rekannya menyelam.
Di antara para penyelam, ia satu-satunya perempuan. Suasana cair dan senda gurau selalu terselip saat Prasari bersama rekan-rekannya duduk di kapal menuju titik pemantauan atau sekadar beristirahat usai menyelam.
Terik matahari di tengah laut tak menyurutkan semangat Prasari, tak membuatnya takut kulit menghitam. Dia selalu mengenakan pakaian menyelam lengkap hingga menjaga kesehatan kulitnya dengan mengoleskan sunscreen.
Prasari dan tim penyelam dari enviromental team Harita Nickel saat berada di kapal environmental, berangkat menuju titik pemantauan. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Dengan pekerjaannya sebagai penyelam di perusahaan pertambangan, Prasari yakin bisa terus mengembangkan diri tanpa harus takut dan kecil hati hanya karena seorang perempuan.
“Kok perempuan kerjanya di tambang yang kebanyakan di lapangan sama laki-laki? (Pertanyaan) seperti itu, sih, pasti ada, omongan-omongan kayak gitu,” kata Prasari kepada kumparan beberapa waktu lalu.
“Kalau untuk nanggepinnya, ya, sebenarnya dibikin cuek aja, karena memang di sini, kan enggak cuma (pekerja) laki-laki aja, ya, teman-teman perempuannya banyak, terus dibuka kesempatan juga untuk perempuan-perempuan berkembang di sini,” imbuhnya.
Prasari memperlihatkan bentang terumbu karang yang masih lestari dan terjagadi perairan Kawasi, Pulau Obi. Foto: kumparan
Terlebih, orang tua dan keluarga di Gunungkidul mendukung 100 persen pekerjaan Prasari sebagai penyelam, menjadi salah satu support system-nya dalam bekerja di Harita Nickel.
Prasari juga merasa Harita Nickel memberi kesempatan kaum perempuan untuk berkembang apa pun pekerjaannya di lingkungan pertambangan, termasuk pada bagian environmental. Ia pun menceritakan awal dirinya bergabung dengan Harita Nickel.
“Waktu itu memang lowongannya dibuka untuk penyelam perempuan. Syaratnya adalah penyelam perempuan, dan jobdesk-nya sendiri juga mengenai menjaga ekosistem terumbu karang,” kata Prasari.
“Nah, jadi di situ, saya sangat tertarik untuk mencoba bergabung dengan Harita Nickel. Kemudian, ternyata, setelah melewati prosesnya, akhirnya join, dan ternyata sesuai dengan ekspektasi saya,” jelas dia.
Hari Kartini Diver Perempuan Harita Nickel. Foto: kumparan
Jika ditanya soal suka-duka sebagai penyelam, Prasari dengan lantang menyebut banyak hal menyenangkan sebab bekerja sesuai keinginan dan gairah. Namun sebagai perantau, ia terkadang rindu dengan keluarga di kampung halaman.
“Jadi kalau saya sendiri, karena mungkin bekerja di sini itu sesuai passion gitu. Saya senang menyelam, terus kemudian, pekerjaan, jobdesk menyelam, jadi lebih banyak sukanya. Kalau untuk dukanya, mungkin karena jauh dari keluarga. Jadi, agak effort untuk perjalanan ke sini, untuk nanti baru tiga bulan pulang lagi,” terangnya.

Jatuh Cinta dengan Laut Pulau Obi

Prasari dan tim penyelam dari environmental team Harita Nickel usai menyelam untuk memantau ekosistem laut di perairan Kawasi, Pulau Obi. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Sudah dua tahun, Prasari menyelami Laut Pulau Obi, khususnya di perairan Kawasi. Ia memastikan perairan di kawasan ini masih sangat lestari.
Banyak hal baru yang ia jumpai saat menyelam, mulai dari biota laut yang jarang ditemui di tempat lain hingga pengalaman menantang saat menyelam di kedalaman 40 meter.
“Kalau [laut] di sekitar Harita Nickel di Kawasi ini, masih bagus banget menurut saya. Karena di sini bisa menemukan biota-biota yang mungkin enggak gampang ditemui ketika kita menyelam,” ungkap perempuan yang bekerja di Harita Nickel sejak 2022 ini.
Lumba-lumba di dekat titik lokasi pemantauan tim penyelam Harita Nickel di perairan Kawasi, Pulau ObI. Foto: Jamal Ramadhan/kumparani
Prasari pun menceritakan berbagai biota laut yang pernah ia jumpai di perairan Kawasi. “Contohnya, ada hiu, kita juga sering liat penyu, terus, ikan napoleon, dan ikan-ikan lainnya, masih cukup banyak dan sering ditemui di sini,” rincinya.
Prasari dan tim penyelam Harita Nickel juga menunjukkan sejumlah foto biota laut yang pernah mereka temui dan berhasil diabadikan. Foto-foto ini menjadi bukti bahwa perairan Kawasi masih terjaga dan menjadi rumah bagi beraneka ragam biota laut.
Ikan badut Amphiprion percula dengan anemon berhasil diabadikan tim penyelam Harita Nickel di ekosistem terumbu karang perairan Kawasi. Foto: Dok. Harita Nickel
Pengalaman unik, menyenangkan, hingga menantang yang didapat Prasari selama bekerja sebagai penyelam perempuan di Harita Nickel, tampak jelas terlihat dari raut wajahnya. Raut ceria dan semangat selalu ia perlihatkan saat menceritakan pengalamannya.
Prasari berada di atas kapal environmental saat bekerja memantau reef cube terumbu karang. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Menurutnya, menyelam di Laut Pulau Obi yang jernih jadi wahana menyenangkan untuk melepas penat dan stres. Seakan laut sudah menyatu dengan dirinya.
“Menyelam tuh menurut saya, stress release banget, sih. Kerjaannya jadi fun aja. Karena di saat kita menyelam, itu, kita bebas, bisa melihat lautan yang luas, sedangkan semakin dalam, menurut saya, semakin menantang,” papar dia.
“Selama menyelam di Harita, ada satu pengalaman unik, itu, pertama kali saya, sampai di kedalaman 40 meter, lebih sedikit. Pengalaman itu (didapat) di Harita. Terus saya juga pernah menyelam mengikuti arus juga, selama di sini,” imbuh Prasari.
Prasari saat memantau terumbu karang di perairan Kawasi, Pulau Obi, Maluku Utara. Foto: kumparan
Prasari menyadari pekerjaannya sebagai penyelam memang penuh dengan risiko. Namun ia selalu menanamkan pada benaknya untuk selalu meningkatkan awareness sebelum dan saat menyelam. Mulai dari memahami potensi risiko saat menyelam, memastikan kondisi tubuh selalu fit, hingga memantau lingkungan menyelam yang aman.
“Menyelam itu olahraga yang cukup berisiko, ya, karena kita mainnya di alam bebas. Terus, berkaitan juga sama tekanan dan penyakitnya banyak. Kalau kita sudah (menyelam) lebih dari 10 meter, biasanya itu tekanan di tubuh kita dari air laut semakin meningkat. Jadi, berpotensi juga untuk kita dekompresi atau penumpukan nitrogen di sendi-sendi yang bisa menyebabkan lumpuh,” kata dia.
“Terus, kalau dalam keadaan yang tidak fit biasanya bisa jadi (menyelamnya terganggu), misal pilek. Jadi, kalau mau menyelam ya harus dalam kondisi yang sangat fit,” lanjutnya.
Kondisi air laut di perairan Kawasi, Pulau Obi, terlihat jernih. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Kapal membawa tim Environmental Marine melintasi perairan Pulau Obi, ketika dilihat menggunakan drone. Foto: kumparan
Sebagai penyelam di perusahaan pertambangan, Prasari tentu harus menyiapkan kebugaran fisik yang super ekstra. Sebab banyak jobdesk yang harus ia jalankan.
Mulai dari menyelam, mendata kondisi ekosistem laut, mengambil sampel air laut untuk diuji coba, hingga memasang reef cube atau kubus berongga untuk wadah pertumbuhan terumbu karang.
“Berkaitan sama program, reef cube kita. Nah, itu, kan sebelumnya jarang, menyelam yang sampai angkat-angkat kubus gitu. Nah, di sini, walaupun capek dan berat, tapi itu sebuah pengalaman,” terang Prasari.
Reef cube yang ditaruh tim penyelam dari environmental team Harita Nickel dilihat dari permukaan air laut. Reef cube untuk wadah pertumbuhan terumbu karang dan rumah bagi ikan. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Reef cube ini ditaruh di perairan dangkal dengan kedalaman 5 meter untuk dijadikan wadah pertumbuhan terumbu karang dan rumah bagi ikan serta berbagai biota laut lainnya. Sehingga adanya reef cube bertujuan untuk menciptakan ekosistem terumbu karang yang baik.
Prasari dan tim penyelam dari environmental team Harita Nickel rutin memantau perkembangan terumbu karang yang ada di reef cube, termasuk membersihkan alga yang kerap menempel.
“Alga ini bisa mengganggu untuk pertumbuhan dari karang alami yang ada di reef cube tersebut,” terang Prasari.
Prasari saat memantau reef cube di perairan Kawasi, Pulau Obi, Maluku Utara. Foto: kumparan
Uniknya, reef cube yang dipasang oleh environmental team Harita Nickel terbuat dari slag nikel. Slag nikel merupakan sisa hasil pengolahan bijih nikel kadar tinggi (saprolite) dengan teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF). Penggunaan reef cube dari slag nikel ini dipastikan aman bagi ekosistem laut.

Semangat Bagi Perempuan Berani Melangkah Maju

Prasari berada di atas kapal environmental Harita Nickel dengan latar belakang jernihnya air laut di perairan Kawasi, Pulau Obi. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Sebagai seorang perempuan yang bisa bekerja sesuai hobi dan keinginan, Prasari ingin langkahnya bisa diikuti perempuan lain untuk sama-sama berani menggapai mimpi.
Prasari mendorong para perempuan untuk tak ragu melangkah maju dan melawan stigma negatif bahwa perempuan tak bisa mengembangkan diri. Sebab, banyak perempuan di luar sana yang sukses menjadi sosok hebat.
“Mungkin untuk teman-teman di luar sana, terutama perempuan, enggak usah terlalu termakan sama stigma yang ada. Coba aja dulu,” ungkap Prasari.
Prasari Riski Hutami memastikan perairan Kawasi, Pulau Obi masih lestari dengan kondisi terumbu karang yang masih terjaga. Foto: kumparan
Prasari juga mengingatkan para perempuan saat mencoba menggapai mimpi, untuk selalu menjaga diri, tetap semangat tanpa harus mendengarkan stigma negatif, dan percayakan kepada Tuhan apa yang sudah dilakukan.
“Sebagai perempuan juga harus tahu gimana kita menjaga diri kita, kita harus tahu mana sih yang baik, mana sih yang enggak baik. Jadi menurut saya, coba dulu lakukan yang terbaik Insyaallah, kalau memang jalannya, it's okay jadi, jangan termakan dulu sama omongan-omongan negatif,” pungkas dia.
Prasari mengenakan baju dan alat menyelam yang lengkap. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Sosok Prasari berani melangkah maju melalui upayanya menjaga kelestarian ekosistem laut, menunjukkan seberapa besar eksistensi Kartini masa kini. Membuktikan bahwa perempuan bisa turut berkontribusi dan bermanfaat bagi lingkungan.
Tak harus dengan upaya besar, perempuan bisa turut berkontribusi mulai dari hal-hal kecil di lingkungan tempat tinggalnya, misalnya menjadi pengurus PKK, agen penggerak kebersihan lingkungan, hingga pelaku UMKM yang memberdayakan ibu rumah tangga.
Dengan langkah kecil seperti itu, perempuan Indonesia siap melangkah maju dan menjadi Kartini masa kini yang hebat.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten