Cerita Keluarga Siswa SMPN 19 Tangsel Korban Bully: Takut Sekolah-Dipukul Kursi

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana pemakaman MH (13) siswa SMPN 19 Tangsel yang diduga menjadi korban bullying, di pemakaman keluarga di Ciater, Serpong, Minggu (16/11/2025). Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana pemakaman MH (13) siswa SMPN 19 Tangsel yang diduga menjadi korban bullying, di pemakaman keluarga di Ciater, Serpong, Minggu (16/11/2025). Foto: kumparan

Siswa kelas VII-6 SMPN 19 Tangsel berinisial MH (13 tahun), korban bullying yang hingga menyebabkan dirinya meninggal dunia, ternyata kerap curhat kepada kakaknya. Korban memilih bercerita kepada kakaknya karena kondisi sang ibu yang sedang sakit-sakitan.

Mirisnya, MH diketahui sudah mengalami bullying sejak Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

“Kalau sama ibu dia khawatir ibunya kenapa-kenapa karena punya penyakit jantung, cuci darah rutin juga, jadi takut ibu kenapa-kenapa,” kata kakak MH, Sahara Kusnadi, di rumah mereka di Kampung Maruga, RT 11/RW 09, Ciater, Serpong, Tangsel, Rabu (18/11).

Suasana pemakaman MH (13) siswa SMPN 19 Tangsel yang diduga menjadi korban bullying, di pemakaman keluarga di Ciater, Serpong, Minggu (16/11/2025). Foto: kumparan

Sahara menuturkan, perundungan terhadap adiknya bermula sejak MPLS. Korban kerap dilempar bungkus makanan hingga berujung kekerasan fisik.

“Jadi waktu MPLS itu Ijam (MH) ngobrol sama teman dekatnya, tiba-tiba ada teman lain yang melempar bungkus bekas makanan ke arah Ijam. Karena tidak terima, MH melempar balik ke temannya tersebut. Nah, ketika temannya ini mau lempar balik ke arah MH, justru kena terduga pelaku, dan pelaku ini kemudian menampar Ijam,” ujarnya.

Sejak kejadian itu, MH mulai sering mencari alasan untuk tidak masuk sekolah. Ia mengaku sakit atau enggan berangkat tanpa alasan jelas, sehingga menimbulkan kecurigaan keluarga.

“Kadang ada sakit, ada yang pura-pura juga. Dia bilang, ‘Kak, izinin aku sakit dong.’ Nanti jam 08.00-09.00 dia main sama teman-temannya. Kan berarti dia nggak sakit, dia sehat,” jelas Sahara.

Kakak MH, Sahara Kusnad (kanan) dan Ayag MH (kiri) saat ditemui di kediamannya di Tangerang Selatan. Foto: Dok. Istimewa

Ayah MH, Kusnadi, menambahkan bahwa putranya tidak pernah menceritakan kejadian tersebut kepada dirinya maupun istrinya. Keluarga baru menyadari adanya perubahan fisik MH, seperti cara berjalan yang tidak stabil, pandangan tidak fokus, hingga sering tersandung.

Kusnadi mengungkapkan, MH sempat meminta obat tetes mata sebelum akhirnya mengaku bahwa ia pernah dipukul menggunakan kursi oleh teman sekelasnya.

“Iya, kalau jalan kesandung-sandung mulu. Jadi curiga kan orang tua, keluarga juga curiga ‘kenapa ini anak?’ Dan dia minta obat tetes mata,” tutur Kusnadi.

“Awalnya belum ngaku. Sampai hari Selasa (21 Oktober 2025) dia ditanya sama ibunya, akhirnya dia mengakui kalau dia dipukul pakai kursi sama teman sekelasnya,” tambahnya.

Saat ini, Kusnadi menyerahkan proses hukum sepenuhnya kepada LBH yang mendampingi kasus tersebut.

Ia berharap kasus yang menimpa putranya dapat diselesaikan secara adil agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

“Semoga saja ada keadilan untuk MH. Jangan sampai ke depannya ada korban bullying seperti Hisyam yang lain. Semoga ini yang terakhir. Semoga juga pemerintah bisa lebih tegas menyikapi masalah ini, jangan sampai terjadi lagi,” pungkasnya.