Cerita Kombes Putu Kholis Terapkan Bapak Asuh untuk Siswa SMK di Kota Bekasi

Kapolres Bekasi Kota Kombes Putu Kholis menerapkan program Bapak Asuh untuk mendekatkan polisi dengan siswa SMK di Kota Bekasi. Program ini dilakukan sebagai upaya mencegah pelajar terpengaruh ajakan tawuran, bentrokan, maupun aksi massa yang berisiko.
Putu mengatakan pendekatan tersebut berangkat dari fenomena pelibatan pelajar dalam berbagai kerusuhan yang sudah terjadi selama bertahun-tahun. Menurut dia, siswa SMK menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih.
“Jadi memang fenomena ini kita rasakan bukan hanya tahun ini, bukan hanya tahun lalu. Tapi sudah berpuluh-puluh tahun. Dari pengalaman tugas saya, ada beberapa poin yang memang kita harus memberikan porsi perhatian lebih kepada para siswa di menengah atas, baik di SMA ataupun SMK, tapi lebih spesifik lagi SMK,” kata Putu saat ditemui kumparan, Senin (21/9).
Kemudian Ia menjelaskan bagaimana keterlibatan anak-anak sekolah yang mengikuti unjuk rasa pada 25-28 Agustus 2025 lalu.
“tahun lalu itu ada peristiwa 25 Agustus dan 28 Agustus. 25 Agustus itu anak dilibatkan masif. Masalahnya yang menjadi catatan kita saat itu, 25 Agustus 2025 itu hari Senin. Dan bentrok dimulai pagi. Berawal dari pintu belakang DPR/MPR atau gerbang Pancasila. Kan sebuah sebuah hal yang menjadi tanda tanya besar bagi kami aparat kepolisian, Senin pagi, waktunya belajar mengajar di sekolah, tiba-tiba anak itu ada di situ. Dan hari itu tidak hari libur,” jelasnya
Lewat program bapak asuh, kepolisian ingin membangun kedekatan dengan siswa agar mereka tidak mudah terpengaruh provokasi, termasuk melalui media sosial.
“Kita kita ingin membuka hati dan pikiran mereka bahwa mereka itu sangat sangat berpotensi, sangat berisiko untuk dihasut, diprovokasi melalui provokasi-provokasi digital untuk nanti meninggalkan tugas belajarnya, lalu berada di daerah yang berisiko,” ujarnya.
Putu menjelaskan skema Bapak Asuh diterapkan dengan satu anggota polisi mendampingi satu kelas. Polisi yang ditunjuk tidak hanya berasal dari anggota laki-laki, tetapi juga Polwan, menyesuaikan karakteristik sekolah.
“Satu kelas satu bapak asuh, khusus bagi sekolah-sekolah SMK yang berdasarkan data dan fakta ada rekam jejak, ada keterlibatan tawuran, ada keterlibatan dalam mungkin kekerasan atau kenakalan remaja, atau bahkan yang data yang terfaktual,” kata dia.
Pendekatan itu, kata Putu, tidak dimaksudkan untuk memberi cap buruk kepada sekolah atau siswa. Polisi justru ingin membangun hubungan yang membuat siswa dan pihak sekolah nyaman berkomunikasi.
“Jadi membangun kedekatan ini kan dengan berbagai cara. Salah satunya interaksi fisik. Setelah nanti sudah muncul rasa yang nyaman, rasa percaya, ‘Oh polisi ke sini enggak untuk nangkep siapa-siapa. Oh polisi ke sini untuk mengedukasi.’ Ini baru kita sisipkan beberapa hal yang mungkin perlu diketahui oleh anak-anak,” tuturnya.
Dalam pelaksanaannya, polisi juga menyampaikan edukasi mengenai konsekuensi hukum, pergaulan, serta penggunaan media sosial. Putu mengatakan pendekatan dilakukan tanpa menggunakan bahasa yang dapat membuat siswa merasa dicap sebagai pembuat masalah.
“Kita tidak menggunakan bahasa dilarang, tidak boleh, pidana, itu kita hindari karena kita memilih frase atau diksi yang bisa membikin nyaman semua pihak dan tidak menimbulkan labeling atau stigma. Seolah-olah siswa SMK ini biang kerok, troublemaker, perusuh, nah begitu tuh. Itu yang ini yang kita kita coba kelola,” jelasnya.
Program tersebut mulai dijalankan secara serentak pada Senin (21/9/2026) pukul 08.00 WIB. Sebanyak 1.050 personel Polres Metro Bekasi Kota dan Polsek jajaran hadir di 126 SMK se-Kota Bekasi.
Kegiatan itu menjangkau 1.914 kelas dengan total 57.278 pelajar. Program tersebut merupakan tindak lanjut arahan Kapolda Metro Jaya Komjen Pol Asep Edi Suheri melalui program Bapak Asuh, Ibu Asuh, dan Sahabat Pelajar.
Dalam kegiatan itu, personel berdialog dengan siswa mengenai pembentukan karakter, hubungan pertemanan yang sehat, kecakapan bermedia digital, keselamatan berlalu lintas, konsekuensi pelanggaran hukum, hingga keberanian mencari pertolongan.
Putu menegaskan program tersebut tidak dibuat sebagai kegiatan sesaat, melainkan program yang butuh keberlanjutan agar program ini dapat berhasil.
“Dan ini bukan program instan sekali lagi. Ini nanti manfaatnya akan dirasakan jangka panjang dan ini berproses. Pasti nanti akan ketemu bentuknya karena model pendekatan di setiap SMK itu tidak bisa sepenuhnya sama,” pungkasnya.
