Cerita Korban Banjir Dayeuhkolot Ngungsi hingga Tidur di Apotek

26 Februari 2025 18:57 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Banjir Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Rabu (26/2/2025). Foto: Robby Bouceu/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Banjir Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Rabu (26/2/2025). Foto: Robby Bouceu/kumparan
ADVERTISEMENT
Banjir masih merendam permukiman warga di kawasan Kampung Bojongasih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Rabu (26/2). Banjir tersebut imbas meluapnya debit air Sungai Citarum akibat intensitas hujan yang tinggi di Kota dan Kabupaten Bandung pada Selasa (25/2).
ADVERTISEMENT
Diki (39 tahun) yang merupakan warga sekaligus korban terdampak banjir mengatakan situasi ini sudah mendingan bila dibanding hari Selasa kemarin. Tinggi air kata dia sebelumnya setara dengan perut orang dewasa atau sekitar 110 cm.
Hal itu pun menyebabkan dirinya mengungsi di apotek punya temannya, sejak kemarin. Sebab, kamar kontrakan yang ia huni terendam air luapan sungai Citarum itu.
“Saya juga sejak banjir kemarin baru pulang ke sini ngecek kontrakan masih banjir, terendam. Tidur juga kemarin di Apotek punya teman,” ungkapnya saat ditemui di lokasi Rabu (26/2).
Dia pun mengeluhkan berapa sulitnya beraktivitas bila sudah banjir begini. Dia sendiri mengaku hari ini tidak bekerja karena banjir.
“Susah banget beraktivitas. Saya juga sampai enggak kerja. Ke warung atau beli makan susah. Kontrakan terendam. Ya, serba-sulit,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
Dia mengatakan warga yang mau berangkat bekerja pagi ini, melewati kawasan yang tergenang banjir dengan perahu dan ban. Ban dan perahu itu, kata dia milik warga setempat juga, namun jumlahnya terbatas.
“Pakai perahu pakai ban, ban sekali jalan Rp 1.000, perahu Rp 5.000 sekali jalan. Itu yang punya warga, jadi saling-saling bantu mungkin ya, ketika kayak gini mah,” imbuhnya.
Seperti halnya dia, Diki menjelaskan kebanyakan warga mengungsi akibat terdampak banjir, apalagi yang tinggal di rumah 1 tingkat. Warga yang bertahan, menurut dia biasanya yang rumahnya bertingkat.
Banjir masih merendam permukiman warga di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Rabu (26/2/2025). Foto: Robby Bouceu/kumparan
Lebih lanjut, ayah dari dua anak itu bilang dia mengkhawatirkan dampak dari banjir itu terhadap kesehatan. Terlebih banjir pertama seperti sekarang, yang menyeret banyak kotoran sehingga jadi biang penyakit.
ADVERTISEMENT
“Belum lagi biasanya habis banjir seperti ini suka ada yang sakit. Apakah bentol-bentol, budug, soalnya anak-anak misal ada yang main air. Karena banjir pertama itu kotor, beda dengan banjir yang ketiga atau keempat,” tuturnya.
Meski bilang terendamnya permukiman warga oleh genangan banjir niscaya terjadi bila hujan besar, bukan hal aneh bagi warga, dia tetap mengeluhkan itu. Terutama terkait aktivitas warga yang nyaris lumpuh.
“Soalnya kalau sehari-hari di sini itu jalan aktif 24 jam. Kalau sudah begitu ya warga pada sulit aktivitas,” ujarnya.