Cerita Korban Selamat Kecelakaan Sumedang: Bus Sempat Oleng

Kecelakaan bus pariwisata Sri Padma Kencana pembawa rombongan SMP Al Muaa’Wanah di Tanjacakan Cae, Wado, Sumedang, Jabar, menyisakan duka yang mendalam. Musababnya, peristiwa itu mengakibatkan 29 orang tewas. Kepala Sekolah SMP Al Muaa'Wanah Jejen Juraezin dan istrinya Euis Elizen, anak, mertua, dan keluarganya juga ikut menjadi korban tewas dalam insiden itu. Bus itu idealnya kapasitasnya hanya 62 orang. Namun, diisi oleh 66 orang. Dari jumlah penumpang tersebut, sebanyak 37 orang selamat. Mereka di antaranya adalah Amel (15) dan Aas Hasanah (27). Amel merupakan siswi kelas IX di SMP Al Muaa'Wanah. Sedangkan Aas adalah kakak perempuan Amel yang ikut menemani adiknya wisata ziarah ke Pamijahan, Tasikmalaya.
Keduanya selamat. Hanya mengalami cedera ringan. Amel dan Aas sempat mendapatkan perawatan di Puskesmas Wado dan RSUD Sumedang. Pada Kamis (11/3), mereka langsung diperbolehkan pulang ke Subang dengan dijemput ambulans dari Pemkab Subang.
Saat berbincang dengan kumparan di kediamannya, Jumat (12/3), Aas tak ingat persis jam berapa kejadian. Yang dia ingat hari sudah mulai gelap dan hujan lebat. Pada saat itu, mobil sempat oleng sebelum akhirnya jatuh ke jurang sedalam 20 meter.
Pada saat oleng dan terjatuh itu, Aas dan Amel sepenuhnya sadar. Mereka pegangan erat di bagian bawah besi kursi agar tak terpental. "Karena posisi bus terbalik. Saya berdua (dengan adik) hanya bisa sosorodotan (merayap) di antara kursi yang terbalik saja. Ada suara penumpang lain yang teriak, 'Ke sini..! Ke sini' langsung menuju kaca belakang yang pecah," kata Aas mengisahkan. Aas tak tahu apa penyebab mobil itu oleng dan terperosok. Dia juga tidak paham apakah ada rem blong atau tidak. Namun sebelum berangkat dari Tasikmalaya untuk menuju Subang pada sore harinya, dia mencium bau kanvas rem dan kopling yang menyengat.
Setelah berhasil keluar dari bus, Aas dan Amel langsung dibawa ke Puskesmas Wado kemudian dirujuk ke RS Sumedang. Mereka kini masih trauma atas kejadian itu. Dan tak menyangka, ada 29 orang tewas akibat kecelakaan itu.
Aas mengatakan sekolah adiknya itu memang rutin mengadakan acara ziarah ke Tasikmalaya setiap tahun sebagai kurikulum dan penilaian di sekolah.
"Tiap orang siswa dipungut biaya sebesar Rp 350 ribu untuk siswa dan Rp 250 ribu untuk pendamping siswa," kata dia. Aas tak paham mengapa di tengah pandemi seperti ini, sekolah adiknya itu tetap mengadakan kegiatan ziarah ke luar kota. Padahal, sekolah mereka saat ini masih memberlakukan sistem pembelajaran online.
Aas dan Amel tak mau berbicara panjang lebar lagi saat ditanya soal detail kegiatan ziarah itu. Dengan alasan masih lelah dan trauma, dia memutuskan untuk menyudahi perbincangannya.
