Cerita Mama Ani Lestarikan Laut Raja Ampat dengan Rehabilitasi Lamun

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Lokasi penanaman Lamun. Foto: Nadia Riso/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Lokasi penanaman Lamun. Foto: Nadia Riso/kumparan

Perlindungan dan pemanfaatan ekosistem laut menjadi salah satu program prioritas pemerintah hingga 2024. Kementerian PPN/Bappenas melalui Indonesia Climate Change Fund Trust (ICCFT) mengadakan program rehabilitasi ekosistem terumbu karang, mangrove, dan lamun di Raja Ampat, Papua Barat.

Salah satu desa yang menjadi fokus program rehabilitasi adalah Kampung Yensawai Barat, Papua Barat. Di kampung ini, ICCTF dengan sejumlah mitranya seperti Kelompok Korbon dan Kelompok Andoi mengajak masyarakat setempat untuk ikut serta menjaga kelestarian ekosistem laut.

Salah satu yang dilakukan dalam rehabilitasi itu adalah menanam Lamun. Lamun merupakan tumbuhan berbunga yang dapat tumbuh dengan baik dalam laut dangkal. Salah satu fungsinya adalah menahan abrasi laut.

Ketua POK Andoi Linani Arifin atau Mama Ani. Foto: Nadia Riso/kumparan

Uniknya, dalam kegiatan rehabilitasi Lamun ini lebih banyak diikuti oleh anak-anak muda perempuan yang sebagian besar masih duduk di bangku SMP. Ketua POK Andoi, Linani Arifin, mengungkapkan kenapa melibatkan anak-anak muda perempuan karena mereka lebih mudah diajak.

"Karena lebih mudah dan lebih rajin kalau dipanggil langsung. [Sehingga] yang diajak enggak laki-laki," kata Mama Ani – sapaan akrabnya, Jumat (25/3).

Terkait kenapa yang diajak adalah anak-anak SMP karena sebagian besar masih bersekolah di Kampung Yensawai Barat. Sementara mereka yang SMA sebagian besar sudah bersekolah di luar pulau.

Mama Ani juga mengakui awalnya sulit mengajak anak-anak muda ini. Namun seiring berjalannya waktu, mereka sudah terbiasa dengan kegiatan tersebut.

"[Sekarang] sudah terbiasa, sudah bisa mengukur. Setiap 2 minggu diukur tingginya. Kalau yang kita rehabilitasi tiap 2 minggu diukur, dicatat, nanti 2 minggu lagi diukur berapa centimeter. [Lamun] bahasa lokalnya Andoi," tuturnya.

Anak-anak muda anggota POK Andoi. Foto: Nadia Riso/kumparan

Lalu, mengapa mengapa anak-anak muda ini tertarik? Mama Ani menyebut mereka pada akhirnya tertarik karena ingin mendapatkan lebih banyak ilmu.

"Alasannya, itu Mama Ani ngomong, kan, anak-anak sekolah bisa mendapat ilmu dari mereka [ICCTF dan mitra] yang datang. Kalau setiap hari kalau rajin bisa sekolah di luar, bisa dapat ilmu yang lebih bagus lagi, kalau mau bisa kuliah [sehingga] mereka mau," ungkap Mama Ani.

Salah satu anak muda yang ikut dalam rehabilitasi Lamun, Martince (21 tahun), mengaku senang bisa terlibat dalam kegiatan ini, karena bisa belajar banyak hal.

"Cek-cek Lamun. Kalau sampe ada yang rusak diganti. [Kalau] berwarna coklat tua berarti rusak, dicabut, dan diganti," kata Martince.

Lokasi penanaman Lamun. Foto: Nadia Riso/kumparan

Meski demikian, Martince mengakui ada sejumlah kesulitan yang didapat selama ikut dalam kegiatan ini. Khususnya ketika Lamun yang baru ditanam tiba-tiba terseret ombak.

"Ada yang langsung diseret ombak. [Sehingga] seminggu 2-3 kali dicek. [Untuk mengganti Lamun yang diseret ombak] ambil yang baru, dicangkul sampai ke akar-akarnya, lalu dibawa untuk ditanam lagi," ujarnya.

Meski anak-anak muda seperti Martince sudah sering menanam Lamun, Mama Ani tetap mendampingi mereka. Khususnya mereka yang masih duduk di bangku sekolah.

"Ada Mama. Tapi itu juga mereka pulang sekolah baru sore. Jam berapa sekira pasang surut baru [tinggi Lamun] diukur," tuturnya.

Mama Ani juga mengaku bersyukur dengan respons masyarakat yang mendukung kegiatan kelompoknya. Bahkan, masyarakat penasaran apa manfaat yang dirasakan dengan penanaman Lamun.

"Malah ditanya itu kenapa ditanam Lamun? Saya bilang Lamun ini berfungsi untuk [menahan] ombak, menanam Lamun ini lebih bagus, menahan abrasi, begitu," ungkapnya.

"Manfaatnya untuk dugong, penyu, untuk melestarikan ekosistem," pungkasnya.