Cerita Mantan Karyawan: Akumobil Muterin Dana Tidak Sehat

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Puluhan nasabah dealer Akumobil mendatangi Satreskrim Polrestabes Bandung. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Puluhan nasabah dealer Akumobil mendatangi Satreskrim Polrestabes Bandung. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

Mantan Karyawan Akumobil bagian marketing Iwan Kurniawan bercerita pengalamannya selama bekerja dua pekan di perusahaan tersebut. Dia menilai ada berbagai kejanggalan termasuk mengenai program flash sale.

Diketahui, program flash sale diadakan di beberapa supermarket di Bandung seperti Trans Studio Mall. Para calon konsumen nantinya mesti melakukan registrasi terlebih dahulu senilai Rp 1 juta lalu diundi. Calon konsumen yang tidak memenangkan undian, uangnya akan dikembalikan.

"Mereka janjikan satu bulan promo setengah harga. Kemudian bulan selanjutnya pakai aplikasi. Setelah seminggu jalan, ada flash sale. Kalau flash sale otomatis ambil dana dari mana? Mereka muterin dana enggak sehat, makanya saya keluar," kata Iwan ketika dikonfirmasi wartawan di Mapolrestabes Bandung, Jumat (1/11).

Ilustrasi penipuan Foto: Pixabay

"Nanti diundi, kalau undian enggak dapat, uang kembali. Kalau menang, ya menang," lanjut dia.

Iwan mengaku keluar dari perusahaan tersebut karena dirinya turut menjadi korban penipuan. Menurut dia, ada juga tujuh kerabatnya yang membeli kendaraan melalui Akumobil. Dia pun menyebut, Akumobil memang mengiming-imingi konsumennya dengan harga menggiurkan.

"Saya ada saudara tujuh orang yang jadi konsumen. Memang benar ada satu yang ke luar (mobil) sama BPKB-nya," ucap dia.

Iwan menambahkan, Akumobil tidak hanya menjual kendaraan roda empat tapi juga roda dua. Harga yang ditawarkan kepada calon konsumen pun jauh lebih murah.

"Ya ada. Motor Beat yang baru jadi Rp 6 juta," ungkap dia.

Polrestabes Bandung sudah menangkap 7 orang dari pihak Akumobil. Kasatreskrim Polrestabes Bandung AKBP M Rifai menyebut ketujuh orang tersebut adalah direktur keuangan, direktur pemasaran, dan admin. Meski ditangkap, saat ini mereka masih berstatus saksi.

Data sementara, ada 200 konsumen yang menjadi korban dengan kerugian mencapai puluhan miliar rupiah. "Korban sementara ada 200 orang nilai kerugian puluhan miliar (rupiah). Kita masih mendata lagi berapa," ucap Rifai.