Cerita Manusia Gerobak di Pinggir Jalan Jaksel Tunggu Rezeki "Pak Haji"

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Manusia gerobak di sepanjang jalan Kapten Tendean, Jakarta Selatan, Minggu (22/2/2026). Foto: Luthfi Humam/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Manusia gerobak di sepanjang jalan Kapten Tendean, Jakarta Selatan, Minggu (22/2/2026). Foto: Luthfi Humam/kumparan

Fenomena manusia gerobak ramai pada bulan Ramadan di Jakarta. Salah satu yang menjadi titik kumpul manusia gerobak ini adalah di Jalan Kapten Tendean-Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Pantauan pada Minggu (22/2) malam, manusia gerobak cukup padat. Mereka bahkan hingga menggelar tikar di pinggir jalan.

Darman, salah satu manusia gerobak di Mampang mengaku memang sengaja “mangkal” di pinggir jalan untuk menunggu rezeki dari sosok yang disebut “pak haji”. Ia mengatakan, kedatangan pak haji tidak menentu.

“Enggak nentu. Kadang hadir, kadang-kadang enggak,” kata dia saat ditemui.

Manusia gerobak di sepanjang jalan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Minggu (22/2/2026). Foto: Luthfi Humam/kumparan

Ia bersama istrinya menggelar duduk beralaskan tikar dan kardus menunggu sedekah pak haji. Ia menyebut, pak haji memberikan uang Rp 50 ribu setiap kali datang.

“Rata semuanya 50 (ribu),” ujarnya.

Manusia gerobak ini berjejer di halaman pertokoan persis di pinggir jalan menunggu pak haji datang. Mereka bahkan rela menunggu meski kehadiran sosok pak haji ini tidak menentu.

Sebelum masuk bulan Ramadan, manusia gerobak yang menunggu di pinggir jalan ini juga sering terlihat. Namun, pada bulan Ramadan ini, jumlahnya lebih banyak.

Potret "Manusia Gerobak" sedang mengumpulkan barang bekas di sekitar kawasan Mampang, Jakarta Selatan, Rabu (11/2/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

Manusia gerobak lainnya, Juned, rela menunggu meski angin malam menusuk kulit. Selama Ramadan, ia mengaku sudah dua kali menerima sedekah dari pak Haji.

“Pernah, dua kali,” ungkapnya.

Aktivitas bagi-bagi sedekah itu menurut dia biasanya dilakukan sampai mendekati Idul Fitri.

“Sampe takbiran biasanya,” kata dia.