Cerita Megawati soal Bendera Pusaka dan Pernah Jadi Paskibraka

Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri menerima penghargaan Bhakti Teratai Putra Indonesia dari Pengurus Pusat Purna Paskibraka Indonesia, Balai Sarbini, Semanggi, Jakarta Selatan, Sabtu (10/11). Megawati merupakan paskibraka angkatan 1964.
Megawati pun memberikan pidato kebangsaannya di hadapan ratusan purna paskibraka. Salah satunya ia menceritakan sejarah bendera pusaka merah putih yang dijahit oleh Ibunya, Fatmawati. Megawati juga merupakan salah satu pengibar bendera pusaka yang dijahit oleh ibundanya itu.
“Siapa yang membuat bendera pusaka kebetulan dia ibu saya, ibu Fatmawati Soekarno. Saya adalah saksi hidup yang mengalami ketika tahun 1964, ketika saya mengibarkan bendera pusaka,” kata Megawati dalam pidatonya di lokasi.
Namun, saat itu Megawati merasa heran, mengapa bendera yang dikibarkan pada saat peringatan 17 Agustus di Istana Merdeka bukan lagi menggunakan bendera pusaka asli. Ia menyadari bahwa bendera pusaka asli tidak dikibarkan lagi dan diganti oleh bendera merah putih hasil tenunan.

Padahal bendera pusaka asli masih ada. “Saya lihat bendera pusaka asli masih dibawa tapi waktu itu sudah diganti dengan bendera baru yang ditenun waktu itu saya tanya di Sulawesi (mengapa diganti?),” ujar Ketum PDIP ini.
Lebih lanjut, Megawati merasa ironis. Sebab, cerita soal bendera pusaka yang asli tak diketahui oleh banyak anak negeri.
Ketum PDIP itu mengatakan, merah putih bukan hanya dimaknai sebagai lambang negara, melainkan esensi dari proses penentuan dan pembuatan bendera pusaka saat pertama dikibarkan.
“Makanya kami bilang kita ini ironis, anak muda tak tahu sejarah bangsanya, tak mengerti kenapa saya anak Indonesia, saya tak menyalahkan mereka karena memang kita tak mau mengakui sejarah kita dengan jujur,” jelas dia.
Megawati juga bercerita bagaimana bendera pusaka bertama kali dibuat. Menurut dia, ada campur tangan seorang warga Jepang dalam pembuatan bendera pusaka asli.
“Waktu itu ibu saya masih menjahit bendera merah putih saat mengandung kakak saya. Mungkin Anda berpikir gampang menjahit bendera, susah tapi esensinya itu mencari warna merah itu sulit, putih itu mudah. Yang memberikan warna merah justru seorang pengusaha Jepang dan itu disimpan karena itu bendera itu dikibarkan di Pegangsaan bukan di Istana,” ungkap Megawati.
