Cerita Mereka yang Nyaris Jadi Korban Penipuan Modus Freelance Online
·waktu baca 5 menit

Modus penipuan daring atau online scamming yang menyasar para pencari kerja marak terjadi akhir-akhir ini. Modusnya adalah menawarkan pekerjaan freelance mudah dengan bayaran instan.
Biasanya korban akan mendapatkan pesan yang seolah-olah dikirimkan dari sebuah perusahaan. Kemudian korban akan ditawari fee untuk sejumlah task atau pekerjaan sederhana, misalnya saja mengikuti akun tertentu di media sosial atau menyukai unggahan tertentu.
Awalnya korban memang akan mendapat bayaran dari tugas awal. Setelah itu mereka akan ditawari tugas lainnya dengan bayaran yang lebih besar, namun dengan satu syarat: harus kirim uang dulu. Karena sudah telanjur dibuat percaya, banyak yang kemudian terjebak dan tertipu di tahapan ini.
Namun ada juga beberapa dari "calon korban" yang bisa lepas dari tipuan. Malah ada juga yang bisa kabur setelah mendapatkan uang dari si penipu.
Salah satunya adalah Dina, seorang karyawan swasta di Jakarta Pusat. Dina mengaku sudah berkali-kali mendapatkan pesan penawaran freelance online namun selalu ia block.
"Udah empat kali dapet, dan harinya berdekatan. Entah mereka dapet nomer gue dari mana," kata Dina kepada kumparan, Rabu (31/5).
Awalnya, si penipu memperkenalkan diri. Pesan itu hanya Dina baca tanpa dibalas. Selang dua jam kemudian, penipu itu menjelaskan ia berasal dari sebuah perusahaan dan menawarinya pekerjaan.
"Padahal itu gue read doang, enggak ditanggapi sama sekali. Nah waktu nawarin kerjaan yang cuma like-like itu langsung gue block," tegas Dina.
Menurut Dina, penawaran itu sama sekali tidak menggiurkan. Sebab ia berprinsip tak ada pekerjaan mudah yang menawarkan uang instan di dunia ini.
"Kenapa di-block? Ya simply aneh banget sih, kerjanya cuma follow atau like-like status orang tuh buat apa gitu? Kenapa gitu-gitu doang bisa dapet untung, kan aneh," ungkap Dina.
"Di dunia ini tuh semua kerjaan ada susahnya. Kalau semudah itu, ya suspicious-lah."
Hal serupa juga diungkap VD yang berprofesi sebagai konten kreator dan penulis novel. Awalnya ia mendapatkan pesan dari perwakilan sebuah perusahaan yang mengaku mendapatkan nomor ponsel VD dari situs pencarian kerja.
"Sebenarnya gue udah tahu bakal ditipu, tapi waktu itu masih gue tanya-tanya," ucap VD.
Setelah orang tersebut menjelaskan task yang perlu VD lakukan untuk mendapat bayaran Rp 50 ribu-Rp 500 ribu per tugas, VD memutuskan untuk berhenti membalas. Dengan tegas ia menulis tak sedang butuh freelance.
"Kalau gue turutin, takut kehipnotis. Lagian gue lagi ribet, makanya enggak sampai pindah ke Telegram. Gue juga udah pernah baca soal modus penipuan begini di Twitter," ucapnya.
Tak Tertipu karena Pernah Jadi Korban
Cerita berbeda muncul dari Prasetyo. Ia baru-baru ini sempat mendapat pesan penipuan dengan modus tawaran freelance online. Tapi ia berhasil lolos dan malah untung Rp 60 ribu.
"Aku dapat WhatsApp, tugasnya nge-like video TikTok. Terus aku di-invite ke Telegram. Aku ikutin sampai aku dapat bayaran Rp 60 ribu. Setelah itu disuruh task yang berbayar," ucap Prasetyo.
Setelah masuk grup besar, ternyata ada juga orang lain selain dia yang sadar jika ini penipuan. Di grup itu, akhirnya mereka mencoba mengorek informasi dari admin.
"Jadi kayak kami sok-sok tanya, kenapa harus bayar dulu? Gitu. Terus aku kirim link berita penipuan scam, eh aku dikeluarin dari grup," ungkapnya.
Meski berhasil lepas dan membawa untung, tapi sebenarnya Prasetyo pernah tertipu modus yang sama dan rugi hingga lebih dari Rp 5 juta. Awalnya, di Maret 2023 Prasetyo yang baru saja kena layoff mendapatkan pesan penawaran freelance part-time.
"Ya aku ikutin lah. Kutanya dari perusahaan mana? Dia jawab Grey Indonesia. Terus tugasnya gampang cuma disuruh follow sama like. Aku dapat Rp 20 ribu," kisahnya.
Setelah itu dia diminta pindah ke Telegram dan masih menjalankan tugas seperti biasa. Prasetyo lalu masuk ke dalam grup yang berisi sekitar 3 ribu orang, namun yang terlihat online hanya sekitar 30-an saja.
"Baru-baru ini aku sadar, kayaknya yang lain bot atau komplotannya. Mereka aktif banget soalnya share-share hasil follow sama hasil transfer. Sayangnya grup itu enggak bisa di-capture. Di sana bayaranku udah Rp 40 ribu per tugas," ucapnya.
Saat itulah Prasetyo ditawari "naik level" ke tugas berbayar: cukup top up modal, lalu terima profit hingga 80% sesuai levelnya dan bisa menaikkan bayaran per tugas reguler. Awalnya Prasetyo diminta deposit Rp 200 ribu dan langsung mendapat profit Rp 290 ribu dan bayarannya untuk tugas reguler naik jadi Rp 60 ribu per tugas.
Singkat cerita, Prasetyo yang merasa tawaran ini aman masih melanjutkan kerjanya hingga ia masuk ke grup kecil berisi empat orang dan satu mentor. Di grup itu mereka sudah tak boleh lagi deposito Rp 200 ribu, harus lebih dari Rp 800 ribu dengan iming-iming keuntungan yang lebih besar. Di sana, Prasetyo masih meraup untung Rp 1,5 juta.
Petaka baru muncul setelahnya. Ia awalnya bercerita pada istri soal pekerjaan sampingannya itu. Istrinya mewanti-wanti agar Prasetyo tak membayarkan deposito di atas Rp 500 ribu. Ia juga menemukan utas di Twitter soal penipuan freelance online.
"Besoknya aku niat cuma mau selesaikan tugas follow-like saja tanpa task berbayar. Tapi resepsionisnya chat aku dan tanya, mau ikut yang berbayar enggak? Kalau aku ngelewatin dua kali task berbayar, bayaranku turun jadi Rp 10 ribu. Ya sudah aku iseng coba," lanjut Prasetyo.
Awalnya ia membayar Rp 800 ribu. Setelah itu, di tugas berikutnya, ia diminta membayar Rp 4,8 juta dengan pemikiran, tugas-tugas sebelumnya pun sukses ia terima bayarannya. Tapi Prasetyo malah diminta membayar lagi Rp 13,5 juta.
"Aku enggak lanjutin, enggak berani. Mereka nyuruh pinjam ke saudara, bahkan pinjol. Tapi aku anti-utang dan sadar kalau ini jebakan, aku sudah masuk perangkap. Ya sudah aku coba ikhlaskan saja itu uang tabunganku," kata dia.
Prasetyo mengakui, saat ia menolak membayar, ia sempat ditekan-tekan oleh anggota grup lainnya. Tapi ia tetap memilih mundur dan langsung dikeluarkan dari grup.
"Lalu aku masuk ke grup korban penipuannya gitu, dan ternyata ada yang profesinya pengacara juga. Kami langsung bikin laporan ke Polda Metro Jaya dan sampai sekarang masih proses," tutupnya.
