Cerita Mumu, Penonton Seventeen yang Selamat dari Tsunami Anyer

kumparanNEWSverified-green

clock
google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kondisi porak poranda di Pandeglang, tetapi masih ada bangunan yang berdiri, di antaranya masjid. (Foto: Dok. Pribadi Ahmad Emil Mujamil)
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi porak poranda di Pandeglang, tetapi masih ada bangunan yang berdiri, di antaranya masjid. (Foto: Dok. Pribadi Ahmad Emil Mujamil)

Bencana tsunami Selat Sunda yang terjadi pada Sabtu (22/12) meninggalkan cerita tersendiri bagi Ahmad Mubarok (22), warga Kampung Babakan Bungur, Desa Tarumanegara, Kecamatan Cigeulis, Pandeglang. Ahmad Mubarok yang akrab disapa Mumu ini menjadi salah satu orang yang selamat dari ganasnya tsunami Selat Sunda.

Mumu mengaku peristiwa tersebut terus membayanginya dan merasa tidak akan bisa melupakannya. Saat bencana itu, Mumu sedang menyaksikan konser Seventeen Band pada acara gathering PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) di Pantai Tanjung Lesung, Kecamatan Panimbang.

Tak lama setelah Seventeen membawakan lagu pertama, Mumu mendengar dentuman suara dari arah laut.

“Tiba-tiba ada suara dentuman sangat keras dari arah Gunung Anak Krakatau dan kemudian disusul datangnya air dengan ketinggian sekitar dua meter," kata Mumu seperti dilansir Antara, Kamis, (27/12).

Mumu mengingat kembali suara dentuman itu yang tak lama diikuti dengan datangnya gelombang pasang yang meluluhlantakkan panggung yang digunakan untuk konser Seventeen. Melihat kejadian itu, kata Mumu, para penonton langsung berteriak histeris.

"Suara 'tolong...tolong...tolong!' banyak sekali. Semua yang hadir minta tolong," ujar Mumu yang sempat menjalani perawatan media di Klinik Alinda, Panimbang. Sampai saat ini kepala Mumu masih dibalut kain perban berwarna putih.

Keadaan Pantai Carita Anyer dari pantauan udara. (Foto: Matheus Marsely/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Keadaan Pantai Carita Anyer dari pantauan udara. (Foto: Matheus Marsely/kumparan)

Mumu mengungkapkan sempat terbawa ombak sampai ke tengah laut. Setelah terombang-ambing, tubuh Mumu akhirnya bisa kembali ke bibir pantai karena hempasan ombak dari tengah lautan. Mumu lalu mendapatkan pertolongan dari wisatawan yang membawanya ke Klinik Alinda. Kondisinya saat itu cukup parah.

"Kepala saya berdarah. Tubuh, kaki, dan tangan saya penuh luka," terang Mumu sambil berbaring lemas di atas kasur.

Sementara itu kakak kandung Mumu, Engkos, mengaku sebelumnya sudah mempunyai firasat tidak enak mengenai kondisi adiknya. Sehingga Engkos memutuskan berangkat ke Tanjung Lesung sebelum akhirnya ia mendapatkan kabar telah terjadi tsunami.

"Masyarakat berlari-lari ketakutan sambil berteriak Tanjung Lesung kena tsunami, mendengar itu saya percaya tidak percaya, karena sebelumnya kondisi air laut begitu tenang," terang Engkos.

Engkos lalu tetap meneruskan perjalanannya ke Pantai Tanjung Lesung. Engkos bersyukur adiknya yang dikabarkan hilang kini sudah ditemukan.

"Sampai ke Tanjung Lesung suasananya mencekam. Porak poranda, saya mencari Mumu tidak ketemu. Tapi Alhamdulillah dia selamat," katanya.

Bencana tsunami yang melanda Selat Sunda telah menelan banyak korban. Badan SAR Nasional (Basarnas) mencatat 420 korban ditemukan meninggal dunia di wilayah Provinsi Banten dan Lampung Selatan.

"Kita terus optimalkan evakuasi dan pencarian jenazah atas korban yang belum ditemukan," kata Kepala Basarnas Provinsi Banten, Zaenal di Posko Penanggulan Tsunami di Labuan, Pandeglang.

Zaenal mengatakan tidak menutup kemungkinan jumlah korban baik meninggal maupun luka-luka terus bertambah karena saat ini petugas dan relawan melakukan evakuasi dan pencarian jenazah. Beberapa lokasi yang dijadikan fokus pencarian ada di wilayah Kecamatan Panimbang dan Sumur, karena banyak korban yang belum ditemukan. Selain itu juga dilakukan evakuasi di wilayah Pulau Badul dan Oar.

"Kami berharap cuaca di perairan itu normal, sehingga bisa ditemukan jenazah maupun korban yang masih hidup," ujar Zaenal.

Zaenal mengungkapkan jumlah korban sampai hari Kamis (27/12) pukul 13.00 WIB tercatat 420 orang meninggal dunia, 1.042 orang luka-luka, dan hilang 5 orang. Dari 420 orang itu, kata Zaenal, korban meninggal yang ditemukan di Banten sebanyak 306 orang dan Lampung Selatan 114 orang.

Sedangan, jumlah korban luka-luka untuk Banten 757 orang dan Lampung Selatan 284 orang. Korban menghilang di wilayah Banten 44 orang dan Lampung Selatan 11 orang. Kebanyakan korban bencana tsunami itu dari pesisir Pantai Pandeglang. Bahkan, Pantai Panimbang mencapai 74 orang, Carita 71 orang, Tanjung Lesung 53 orang dan Sumur 43 orang.

Warga korban tsunami dari Pulau Sebesi dan Sebuku Lampung Selatan tiba di posko pengungsian di Kalianda, Lampung Selatan, Lampung, Rabu (26/12). (Foto: ANTARA FOTO/Ardiansyah)
zoom-in-whitePerbesar
Warga korban tsunami dari Pulau Sebesi dan Sebuku Lampung Selatan tiba di posko pengungsian di Kalianda, Lampung Selatan, Lampung, Rabu (26/12). (Foto: ANTARA FOTO/Ardiansyah)

Sementara itu, tim dari Polri telah berhasil mengidentifikasi 231 jenazah korban tsunami Selat Sunda di Kabupaten Pandeglang yang ditampung di RSUD Berkah Pandeglang. Kabid Humas Polda Banten, AKBP Edy Sumerdi, mengatakan dari jumlah tersebut masih ada 11 orang yang belum diidentifikasi.

"Dari 242 jenazah yang kita identifikasi, sebanyak 231 diantaranya sudah berhasil diindentifikasi dan 11 lainnya masih dalam proses identifikasi," kata Edy Sumerdi dalam konferensi pers di Wira Carita.

Edy menjelaskan beberapa jenazah yang teridentifikasi sudah ada yang diambil oleh kerabatnya. Edy memberitahukan masyarakat yang membutuhkan informasi agar bisa menghubungi petugas.

"Bagi keluarga serta masyarakat di seluruh Indonesia yang membutuhkan informasi terkait tsunami di Pandeglang dan Serang dapat menghubungi Call Center Bidhumas Polda Banten, dengan nomor 087880052760, 085211672708 dan 085211672721," terang Edy.

Sedangkan Bupati Pandeglang, Irna Narulita, mengungkapkan saat ini pihaknya masih fokus pada pencarian dan evakuasi para korban tsunami pada daerah terdampak musibah itu.

"Kita masih fokus pada pencarian dan evakuasi korban, sambil melakukan inventarisasi kerusakan pada daerah terdampak," tutur Irna.