Cerita Nana Umrah saat Pandemi: Rindu Baitullah, Tak Mendekat Ka'bah Tak Masalah

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Ibadah Umrah sebelum pandemi. Foto: AP Photo/Dar Yasin
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ibadah Umrah sebelum pandemi. Foto: AP Photo/Dar Yasin

Menjalani ibadah umrah di masa pandemi mungkin tak pernah dibayangkan sebelumnya oleh Nana Sujana Gaido. Bersama dengan jemaah umrah asal Indonesia lainnya yang berangkat pada 1 November, Nana merasakan pengalaman umrah berbeda dari perjalanan sebelumnya.

Perjalanan panjang dilalui Nana sebelum beribadah di Tanah Suci. Menjalani isolasi mandiri sebelum keberangkatan hingga diharuskan swab test dua kali harus dilaluinya.

"Setelah di hotel itu kita diistirahatkan dua hari lalu di swab kembali sebelum melaksanakan ibadah umrah. Setelah di swab mendapatkan hasilnya negatif semua alhamdulillah kita langsung dibawa untuk melaksanakan umrah. Kita didampingi oleh kementerian haji Saudi, kedua dari tim kesehatannya Saudi sama muthawif yang bertugas disana untuk mengantarkan kita ke masjidil haram," ujar Nana dalam diskusi virtual di BNPB, Rabu (11/11).

Selain itu, Nana menyebut dirinya dan jemaah asal Indonesia lainnya masih diharuskan mengatur izin melalui aplikasi Itamarna dan Tawakkalna yang sudah disiapkan pemerintah Arab Saudi. Izin melalui aplikasi itu, kata Nana, diperlukan bagi jemaah yang hendak melaksanakan ibadah ke sejumlah masjid yang ada di Saudi.

Jemaah umrah Indonesia kloter pertama tiba di Bandara Jeddah, Minggu (1/11). Foto: Dok Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi

"Bedanya umrah yang dulu sebelum pandemi dengan yang sekarang ini ya bahwa ketika mau melaksanakan umrah masuk ke masjid ataupun kegiatan yang lainnya itu harus mendapatkan izin. Salah satunya kalau misalkan orang Indonesia juga yang mungkin di sana atau ekspatriat di sana itu kan pakai sistem namanya Itamarna sama Tawakkalna," ucap Nana.

"Nah (aplikasi) itulah dia yang mengatur, sistem yang mengatur berapa banyak orang yang ada di Masjidil Haram gitu ya," sambungnya.

Suasana salat Subuh perdana pada layanan umrah tahap III yang dibuka Minggu, 1 November 2020. Foto: GPH.gov.sa

Dalam melaksanakan ibadah, Nana menuturkan bahwa para jemaah wajib memperoleh pendampingan dari tim Kementerian Haji ataupun Dinas Kesehatan di Saudi dan melakukannya sesuai protokol kesehatan yang berlaku. Jemaah juga tak boleh mencium Hajar Aswad.

"Intinya pelaksanaan yang sekarang tidak boleh mendekat ke Ka'bah gitu. Yang berikutnya juga tidak ada tawaf sunah karena yang boleh tawaf hanya melaksanakan ibadah umrah. Jadi itu perbedaannya sehingga pelaksanaan ibadahnya juga cenderung kita diatur oleh Kementerian Kesehatan," ungkap Nana.

Hujan turun di Masjidil Haram, Rabu (4/11). Foto: Twitter/@HaramainInfo

Meski mengaku sempat was was akan ikut tertular virus seperti jemaah lainnya, Nana mengaku hal itu tak menjadi halangan baginya untuk tetap berangkat ke Saudi. Memperhatikan aturan yang ada serta menjalankan protokol kesehatan ketat, menurut Nana jadi kunci baginya untuk tetap aman dan nyaman selama beribadah di masa pandemi.

"Tapi kalau yang sudah rindu sekali dengan Baitullah saya rasa silakan dengan cara mengikuti protokol kesehatan yang ada baik di Indonesia ataupun di Saudi Arabia," kata Nana.