Cerita Panglima TNI soal Tokoh Parikesit di Pagelaran 11 Wayang

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo malam ini menonton pagelaran 11 wayang dari berbagai daerah di Museum Fatahillah, Kota Tua, Jakarta Barat. Acara ini merupakan serangkaian acara untuk merayakan HUT ke-72 TNI.
Pagelaran 11 wayang ini memiliki tema yang menceritakan tentang 'Parikesit Jumeneng Noto'. Arti tema itu adalah bagaimana cara menciptakan keteguhan hati seorang pemimpin untuk mengemban amanah dari rakyat, meskipun terdapat berbagai rintangan yang harus dihadapi.
Gatot lantas menceritakan detail cerita yang mengenai 'Parikesit Jumeneng Noto' itu sendiri. Cerita ini bermula dari adanya perang Baratayudha yang menyisakan duka karena salah satu keluarga pandawa, yakni Abimanyu meninggal sebagai seorang kesatria.
“Cerita ini bermula dari kisah Baratayuda,” ujar Gatot di Museum Fatahillah, Kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, Jumat (29/9).

Abimanyu merupakan anak dari Arjuna. Abimanyu merupakan putra mahkota Kerajaan Kuru yang berpusat di Hastinapura..
Ketika Abimanyu gugur, istrinya, Utari mengandung anak Abimanyu bernama Parikesit. Namun dalam perang Baratayudha kandungan Utari dilempar senjata oleh musuh Abimanyu, Aswatama.
Senjata tersebut pun membunuh Parikesit yang masih berada dalam kandungan. Atas pertolongan dari Kresna, Parikesit dihidupkan kembali.
Sedangkan Aswatama dikutuk oleh Kresna agar mengembara di dunia selamanya. Ketika dewasa Parikesit menjadi penerus tahta Yudistira menggantikan ayahnya.
“Jadi setelah perang banyak yang gugur, maka Parikesit mendirikan dan membangun negara baru,” cerita Gatot.

Berdasarkan cerita Gatot, Yudistira berusaha menjadikan Parikesit sebagai seorang pemimpin yang bisa memegang amanat rakyatnya. Sebelum menjadi seorang raja, Parikesit juga sempat ditugaskan untuk menjadi kepala pasukan Kerajaan Kuru, dalam pagelaran ini Parikesit menjadi seorang jenderal TNI di Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara.
“Cucunya itu (Parikesit) dilatih secara khusus ditugaskan khusus menjadi Kepala Staf AD, AL, AU, dalam satu kerajaan yang baru,” jelas Gatot.
Gatot menilai cerita Parikesit yang berhasil menjadi seorang pemimpin memang tidaklah mudah, dirinya harus kehilangan sosok seorang ayah dalam peperangan. Selain itu, Gatot mengatakan menang dan kalah dalam seuatu peperangan adalah hal yang biasa, yang terpenting adalah memupuk kembali persatuan pasca adanya perang.
“Jadi kesannya perang itu menyakitkan, menang kalah pasti rugi, menang kalah juga perlu waktu tenaga dan biaya. Maka utamakanlah persatuan gitu,” kata dia.
Saat ditanya apakah ada hubungan cerita dalam pagelaran 11 wayang ini dengan kondisi Indonesia, Gatot secara tegas mengelaknya. Sebab, kata dia, cerita pagelaran 11 wayang melanjutkan cerita yang telah ada pada saat pagelaran wayang perayaan HUT TNI tahun lalu.
“Judul wayang ini adalah kelanjutan wayang tahun lalu,” pungkas Gatot.
Sebagai informasi pagelaran wayang kali ini terdiri dari rangkaian cerita perang Baratayuda yang dibagi menjadi 11 segmen. Kesebelas segmen itu disajikan oleh 11 wayang berbeda dari 11 wilayah di Indonesia, yaitu Wayang Jemblung, Wayang Surakarta, Wayang Cirebon, Wayang Palembang, Wayang Jawa Timuran, Wayang Orang, Wayang Banjar, Wayang Beber, Wayang Yogyakarta, dan Wayang Golek Sunda.
