Cerita Pasien Corona Lewati Masa Kritis, Menghibur Diri Nonton Konser di ICU

9 bulan berlalu sejak virus corona mulai masuk dan mewabah di Indonesia. Sejak saat itu pula, Andino (36), warga Kebayoran Baru, Jakarta Selatan selalu berusaha keras untuk menjalani hari-harinya dengan menaati protokol kesehatan.
Namun, Kamis, (12/12) menjadi malam yang mengubah hidupnya. Dia mulai merasakan gejala demam yang mencapai 37,6 derajat. Kondisi itu tepat setelah dia melakukan olah raga rutin dengan berlari.
"Selalu olah raga sendirian, pagi hari sekitar jam 5 di lingkungan sekitar rumah yang sepi, memakai masker dan selalu sedia masker cadangan di kantong celana yang dimasukkan pada plastik klip," tulisnya di akun Twitter @sampinggenic, Jumat, (18/12).
Hasil dari CT Thorax Andino, menunjukkan kedua paru-parunya sudah timbul bercak putih, hasil swab tes juga mengkonfirmasi bahwa dia dinyatakan infeksi sejak 16 November 2020 dan dilarikan ke RSPP Modular untuk dirawat intensif.
Tak lekas membaik, hasil rontgen thorax paru-paru yang kembali dilakukan justru memburuk, Andino mengalami batuk parah, sesak napas, demam, hingga saturasi oksigen di bawah 90%. Dia lantas harus dipindahkan ke ruang ICU.
Dia mengaku kaget, sebab sebagai orang yang sebelumnya tidak pernah dirawat di rumah sakit, COVID-19 ini membuatnya harus menerima perawatan yang bertubi-tubi.
"Selama di ICU terjadi pergolakan batin untuk menerima keadaan. Pertama kali dirawat di RS, pertama kali diinfus, pertama kali pake selang oksigen, pertama kali pasang kateter, pertama kali harus pake pampers dan poop di tempat tidur dan pertama kali masuk ICU," kata Andino kepada kumparan, Jumat (25/12).
Bagi Andino, cara yang paling ampuh untuk membantunya melalui masa terberatnya itu justru dengan menerima kondisi dan menghibur diri sendiri yakni dengan menonton konser via YouTube.
Dia mengunggah videonya melakukan beberapa gerakan saat menonton video konser di Youtube. Hal itu dilakukannya meskipun tengah berada di ruang ICU, untuk menjaga daya tahan tubuh agar tidak turun sampai mempengaruhi proses kesembuhannya.
"Cara saya melaluinya, pasrah dan menerima kondisi bahwa saya terinfeksi COVID-19. Mencoba menghibur diri sendiri, menyemangati dan optimis, percaya bahwa saya sedang dirawat dan ditangani dengan semaksimal mungkin dan pasti sembuh," imbuhnya.
Tak sia-sia, perjuangan Andino selama dirawat selama 17 hari membawanya pada hasil swab tes terakhir pada 3 Desember 2020, dia dinyatakan sembuh dan negatif dari corona.
Meskipun kini keadaannya telah jauh membaik dan dapat kembali pulang, Andino tetap waspada agar tidak terinfeksi kembali. Dia juga berharap kondisi pandemi di Indonesia dapat segera teratasi.
"Semoga pemerintah bisa memperbanyak testing massal, laboratorium Tes PCR diperbanyak dan hasil dipercepat. Harga tes yang terjangkau, akses dan tingkat kecepatan, karena apabila harga berbeda jadi malas tes dan OTG berkeliaran," tutupnya.
==
Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona.
