Cerita Pedagang Hewan di Lahan BMKG: Nego Uang ‘Koordinasi’ Rp 25 Juta ke GRIB

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pedagang sapi kurban di lahan BMKG, Pondok Betung, Tangerang Selatan, Banten, Minggu (25/5/2025). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pedagang sapi kurban di lahan BMKG, Pondok Betung, Tangerang Selatan, Banten, Minggu (25/5/2025). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan

Minggu (25/5) pagi, suasana di lahan milik BMKG di Pondok Betung, Kota Tangerang Selatan, masih tampak sibuk meski tak lagi ramai seperti sebelumnya. Puing-puing bekas posko GRIB dan sisa-sisa tempat perlombaan burung kicau masih tampak berserakan usai kemarin dibongkar oleh Polda Metro Jaya.

Di sudut lahan, kandang hewan kurban masih berdiri, dengan sapi-sapi yang masih menunggu untuk dibeli.

Inna Wahyuningsi, seorang pedagang sapi, terlihat sibuk merawat sapi-sapi di kandang. Ia bercerita panjang lebar tentang pengalamannya berdagang selama puluhan tahun.

“Saya di sini baru dua minggu sih,” ucapnya membuka percakapan.

Sebelum berjualan di lahan saat ini, Inna sudah berkecimpung di dunia jual beli hewan kurban selama 25 tahun.

Awalnya ia berdagang di wilayah DKI Jakarta, kemudian merambah ke Tangerang Selatan (Tangsel).

“Di Tangsel ini saya udah lumayan lama, udah kira-kira 25 tahun cuma pindah-pindah. Namanya nggak punya tempat pribadi,” tuturnya.

Pedagang sapi kurban di lahan BMKG, Pondok Betung, Tangerang Selatan, Banten, Minggu (25/5/2025). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan

Inna mengenang masa ketika masih berjualan di lapangan yang kini menjadi RSUD. “Itu saya lama, itu hampir 15 tahun. Setelah menjadi RSUD, saya pindah ke Jalan Utama Rici, ada 4 tahun,” kenangnya.

Tahun ini, lahan milik BMKG menjadi tempat terakhir yang bisa dimanfaatkan. Ia mengaku sempat bernegosiasi dengan pihak yang mengaku memiliki kuasa atas lahan tersebut.

“Yang ada di dalam kebetulan itu Ormas. Saya negosiasi, saya nggak tahu ya, namanya kita nggak tahu kan punya siapa-punya siapanya,” ujarnya.

Biaya sewanya pun tak murah. “Rincian biaya itu kan pertama kalau kita mau negosiasi itu kan pertama lahan berapa. Nah kita kan kalau membuka lahan seperti ini kan memang ada koordinasi antar RT, RW, Lurah, sama Akamsi, daerah sekitar sini lah,” kata Inna.

Ia membayar Rp 22 juta kepada Ormas tersebut, sudah termasuk ‘koordinasi’ agar lapak usahanya aman.

“Jadi include dia minta Rp 25 juta. Akhirnya saya negosiasi jadilah Rp 22 juta,” ujarnya

Saat pembongkaran posko GRIB Jaya terjadi, Inna bersyukur lapaknya tak ikut dirusak. “Alhamdulillah sih mereka nggak ngotak-atik ini. Karena sebenernya masalahnya itu kan Ormas antara Ormas dan BMKG. Jadi kita juga kan sebagai korban,” jelasnya.

Perabotan warung, alat pom bensin mini, kulkas, hingga mesin cuci bekas pembongkaran oleh Polda Metro Jaya di lahan BMKG, Pondok Betung, Kota Tangerang Selatan, Banten, Minggu (25/5/2025). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparan

Ia kemudian meminta keringanan kepada BMKG agar diizinkan tetap berjualan hingga hari H Idul Adha. “Kita minta mohon sama BMKG dan diizinkan alhamdulillahnya kita di ACC sampai tanggal 8,” katanya.

Meski lahan kini dijaga ketat oleh BMKG, Inna memastikan konsumen masih bisa masuk.

“Beliau ada menyiapkan security di depan. Jadi kalau untuk bagi konsumen saya, itu bisa tetap masuk,” katanya.

Dari 213 ekor sapi yang sempat ia turunkan, kini tinggal sekitar 30 ekor.

“Ya lebih ya alhamdulillah itulah jalan Allah ya,” tuturnya sembari menatap kandang.

Meski menghadapi banyak tantangan, Inna tetap optimis dan mensyukuri rezeki yang ada. “Mungkin rezeki kita hanya di situ. Syukurin aja,” pungkasnya sambil mengelus salah satu sapinya.

Sebelumnya, lahan yang sekarang dikuasai BMKG dulunya dipenuhi aktivitas yang dikelola oleh ormas GRIB Jaya. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam mengungkapkan GRIB Jaya menarik uang setoran ke pedagang dengan kisaran Rp 3,5 juta perbulan.

Gusmanto, sekretaris Utama BMKG, mengungkapkan bahwa GRIB Jaya telah menduduki lahan tersebut selama sekitar 2 hingga 3 tahun.

Imbas laporan BMKG kepada pihak kepolisian atas permasalahan lahan ini, Pada Sabtu (24/5) lalu, Polda Metro Jaya mengerahkan 426 personel dengan dukungan alat berat untuk membongkar posko GRIB Jaya.

Sebanyak 17 orang diamankan, termasuk 11 anggota GRIB Jaya dan enam orang dari ahli waris lahan. Salah satunya adalah Ketua DPC GRIB Tangsel berinisial Y.

Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Nusron Wahid di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (18/3/2025). Foto: Muhammad Fhandra/kumparan

Sementara itu, Menteri ATR/BPN, Nusron Wahid, menegaskan lahan seluas 127 ribu meter yang berada di Pondok Betung, Tangerang Selatan itu memiliki sertifikat hak pakai atas nama BMKG. Lahan ini pun tidak bersengketa.

"Tanah BMKG sertifikat Hak Pakai atas nama BMKG dan tidak ada catatan konflik dan sengketa," kata Nusron saat dihubungi, Minggu (25/5).

Nusron heran dengan dalih GRIB Jaya yang mengaku melakukan pengamanan karena adanya permintaan dari ahli waris.

"Jadi aneh kalau ada yang mengaku atas nama ahli waris," ujarnya.