Cerita Pemudik Jajal Jalur Lintas Sumatera: Jangan Percaya Google Maps

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Tol Trans Sumatera. Foto: Helmi Afandi/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Tol Trans Sumatera. Foto: Helmi Afandi/kumparan

Muhammad Fadhli kembali melakukan kegiatan tahunannya jelang berakhirnya Ramadhan. Dia pulang ke kampung halamannya di Padang, Sumatera Barat.

Pada tahun ini, Fadhli bersama keluarga memilih pulang lewat jalur darat. Selain ingin menghemat biaya perjalanan, mahasiswa pascasarjana Universitas Indonesia ini juga ingin menjajal beberapa ruas Tol Trans Sumatera yang sudah beroperasi.

Namun, perjalanan warga Kota Padang yang menetap di Depok ini tidak bisa dikatakan mulus sama sekali. Saat ditanya pengalamannya mudik pada tahun ini, sontak Fadhli berkata "jangan percaya Google Maps".

Berangkat dari Depok pada Sabtu (1/6), Fadhli mengandalkan Google Maps dan beberapa aplikasi telepon pintar sejenis sebagai penunjuk jalan. Dia berharap aplikasi itu bisa mengarahkannya untuk melalui ruas jalan terbaik, dalam artian tidak ada kepadatan atau jalur memotong.

Saat kendaraannya meluncur dari Depok hingga Lampung, aplikasi penunjuk jalan itu masih bisa diandalkan. Keadaan berubah saat memasuki Sumatera Selatan.

"Untuk menuju Lahat (Sumatera Selatan) ternyata ditunjukkan melalui jalur tambang, di mana jalur itu bukan jalur umum," kata Fadhli saat berbincang dengan kumparan, Senin (3/6).

Sejumlah kendaraan melintas di tol trans Sumatera ruas Palembang-Indralaya (Palindra) di Desa Ibul Besar III, Pemulutan, Ogan Ilir (OI), Sumatera Selatan. Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Ruas tol Trans Sumatera terlihat dari udara di Lampung, Rabu (2/1/2019). Foto: ANTARA/Wahyu Putro A

Beruntung, saat Fadhli dan keluarga melintas di jalur tidak biasa itu, ada beberapa petugas yang berjaga. Mereka langsung mengarahkan orang-orang yang tersasar itu ke jalur lebih baik.

'Korban' tersasar ke jalur yang tidak biasa dilewati pemudik itu bukan hanya keluarga Fadhli. Petugas itu menyebut dalam satu hari bisa 80 kendaraan yang diarahkan aplikasi penunjuk jalan ke jalur itu.

Jika pemudik memang sangat butuh aplikasi penunjuk jalan saat melalui Jalur Lintas Sumatera, Fadhli menyarankan tetap berada di jalur resmi.

"Jadi pastikan yang dilalui adalah jalur resmi 'highlight kuning' di Google Maps. Contoh : Jalur Lintas Tengah Sumatera. Jangan ambil jalur yang mempersingkat jalan Anda karena bisa saja malah menyesatkan Anda," sarannya.

Suasana di Tol Trans Sumatera yang mengalami kemacetan, Senin (3/6). Foto: Muhammad Fadhli.

Terlepas dengan pengalaman buruk dari aplikasi penunjuk jalan, keadaan Jalur Lintas Sumatera saat ini dinilai relatif lebih baik. Keberadaan beberapa ruas Tol Trans Sumatera dirasa cukup membantu waktu mengurangi tempuh.

"Macetnya cuma di keluar pintu tol Terbanggi besar. Sisanya ramai lancar," sebutnya.

Selama perjalanannya yang baru sampai ke Lubuk Linggau, Sumatera Selatan, pada Senin (3/6), Fadhli melihat empat kali kecelakaan. Mulai dari kendaraan yang terperosok keluar jalan hingga tabrakan.

Untuk pemudik lain yang ingin coba melintas di Jalan Tol Lintas Sumatera, dia mengingatkan kondisi jalur bebas hambatan ini tidak sebaik di Pulau Jawa. Jumlah rest area dan SPBU masih sedikit.

"Intinya usahakan bensin selalu terisi penuh setiap 200 kilometer," ujarnya.