Cerita Penjaga Warkop di Tanah Abang yang Diserang Gerombolan Bersenpi
ยทwaktu baca 3 menit

Sekelompok orang bersenjata tajam dan membawa airsoft gun menyerang sebuah warung kopi (warkop) yang berada di Jalan Jatibaru Raya, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Kamis (9/10) dini hari.
Salah seorang karyawan warkop itu, Andi Prastio (21 tahun), menceritakan warkopnya itu didatangi oleh sekitar 10-15 motor. Saat itu, ada sekitar enam orang pengunjung di warkopnya dan ia tengah menghitung uang hasil penjualan selama sepekan.
Andi menyebut, dua orang dari gerombolan itu yang melakukan penyerangan. Pelaku datang dengan membawa celurit dan senjata api.
"Habis saya hitung-hitungan, sama duit bulanan juga, duit mingguan. Tiba-tiba yang di depan sini udah lari, udah, saya ngelihat tuh. Pas nengok, saya ngelihat tuh, ada orang megang-megang celurit aja," ujar Andi saat ditemui di warkopnya, Minggu (12/10).
"Jadi, saya langsung keluar. Saya bilang, 'tolong, Bang, jangan, jangan'. Saya mohon-mohon kayak gitu kan, ya. Dia udah ngomong kayak, 'udah lo diam, lo diam, lo diam'," jelas dia.
Menurutnya, ada sekitar tiga orang pengunjung warkop yang lari kalang kabut menuju ke salah satu gerai swalayan. Pelaku pun turut menyerang tiga pengunjung itu.
Andi pun berusaha melindungi pengunjung warkop yang juga merupakan temannya dan tinggal di sekitar warkop tersebut. Ia bahkan memelas dan meminta pelaku untuk tidak melancarkan aksinya itu. Akan tetapi, Andi justru terkena tembakan di dada dan matanya.
"Kata dia, 'lo lama-lama gue bacok lo, ya'. Nah, teman lagi, yang satu lagi, 'lo langsung gue tembak, lo, ya'. Buka tas, langsung, udah langsung tembak, jeder, dada saya kena langsung," ungkap Andi.
"Dari situ saya lari. Saya lari, saya masuk lagi ke sini [warkop]. Saya masuk lagi ke sini, nah, dua orang itu nyamperin lagi. Nyamperin ke saya lagi. Baru di situ kejadian [ditembak] mata saya," paparnya.
Usai terkena tembakan itu, para pelaku kemudian menggasak uang sekitar Rp 2,3 juta dari meja warkop tersebut.
Andi menyebut, pelaku juga sempat mengamankan tiga ponsel milik bosnya dan satu ponsel milik salah satu pengunjung. Namun, ponsel itu berhasil direbut kembali.
"Pas habis penembakan saya, dia ngambil uang yang di sini. Ngambil uang, ngambil handphone juga, direbut lagi sama bos saya. Yang dapet cuma handphone doang," ucap dia.
"[Jumlah uang] sekitar Rp 2,3 [juta]. Handphone juga diambil. Tapi alhamdulillah handphone bisa kerebut lagi," imbuhnya.
Menurut Andi, saat berhasil merebut ponsel tersebut, bosnya justru ikut terkena tembakan di bahunya.
"Pelakunya langsung ngelempar tuh handphone ke arah sini. Jadi, bos saya langsung fokus ke handphone. Pas fokus ke handphone baru ditembak, bos saya," bebernya.
"Bos saya langsung kena tembakan juga. Ditembak juga di sini, bahu. Kalau bos saya bahu," sambung dia.
Ia menduga, gerombolan motor itu memiliki musuh yang kerap nongkrong di warkop tersebut.
"Jadi, kadang-kadang tuh emang, di sini ramai tuh anak muda. Kayak orang datang dari mana, gitu. Nongkrong di sini, emang enggak sering," tutur Andi.
"Cuma kayak beranggapan tuh musuh mungkin, di sini nongkrongnya anak muda, gitu. Jadi, kayak datang kemarin tuh langsung masalah. Iya [karena musuh], enggak mungkin [yang lain]. Itu peranggapan saya, ya," terangnya.
Akibat kejadian itu, Andi menyebut, warkop yang semulanya beroperasi selama 24 jam tersebut harus mengubah jam operasionalnya dengan tutup lebih awal.
"[Warkop tetap] buka, tapi enggak 24 jam. Sebelumnya 24 jam. Karena kejadiannya itu, jam 10, eh, jam 11, jam 12 [malam] tutup," pungkas dia.
Adapun polisi kini tengah melakukan penyelidikan untuk mengungkap identitas gerombolan bersenjata tersebut. Dalam olah tempat kejadian perkara (TKP), petugas juga menemukan barang bukti berupa rekaman CCTV dan satu butir peluru gotri.
