Cerita Penjual WiFi Voucher Rp 2 Ribu: dari Pandemi, Kini Dinikmati Banyak Orang

Uang Rp 2.000 mungkin hanya cukup untuk membeli sebungkus makanan ringan. Namun, bagi sebagian warga di lingkungan Gang Rambutan, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, nominal tersebut dapat digunakan untuk mendapatkan akses internet melalui sistem voucher.
Sistem internet berbasis voucher itu dikelola Defis (42), yang membantu mengelola jaringan internet di warung milik adik iparnya. Menurut Defis, penggunaan internet voucher di lingkungannya bermula dari kebutuhan warga saat pandemi Covid-19, ketika aktivitas sekolah dan kegiatan lainnya beralih secara daring.
Defis yang saat itu masih bekerja di Ciputat melihat kebutuhan anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya terhadap akses internet. Kondisi pandemi juga membuat warga tidak dapat berkumpul seperti sebelumnya.
"Awal mulanya pas tumbuh itu pandemi. Sisi lain saya kerja di Ciputat, sedangkan saya di sini mau mencoba gimana caranya dapat punya internet tapi yang bayar orang lain. Pasang internet, pas begitu pandemi kan orang butuh online ya. Yang sekolah harus daring, semua," kata Defis saat diwawancarai awak kumparan, Jumat (4/9).
Dari kondisi tersebut, muncul gagasan untuk membuat sistem jaringan internet yang dapat digunakan warga tanpa harus berkumpul di satu tempat. .
"Akhirnya ada ide dari teman, 'Udah dah pakai sistem aja, pakai server'," katanya.
Keterbatasan modal menjadi salah satu kendala Defis saat membangun jaringan internet tersebut. Namun, dia mengatakan tujuan awalnya bukan mencari keuntungan, melainkan membantu warga agar tetap dapat mengakses internet.
"Modal pun juga awal kendalanya, ya namanya uang dapur gimana harus rebutan dulu, sedangkan posisi pandemi kan belum ada duit gimana beli ini, beli itu. Yang penting mah kita gimana caranya membantu lingkungan dulu biar bisa internetan dengan posisi gratis awal mulanya," ungkapnya.
Pada awalnya, Defis menggunakan kabel LAN untuk menyebarkan koneksi internet dari satu titik ke titik lainnya. Jaringan tersebut kemudian dipasang secara estafet seiring bertambahnya permintaan dari warga.
"Awalnya nge-LAN terus estafet semua, akhirnya semakin berkembang, semakin banyak permintaan," kata Defis.
Defis kemudian mulai menggunakan server dan sistem login agar akses internet dapat dibagi kepada pengguna. Dari sinilah konsep voucher mulai diterapkan secara lebih teratur.
"Akhirnya timbul lah namanya server namanya Mikrotik buat memecah gimana caranya biar ada login page. Saya minta bantuan ke teman, setting-an seperti apa, diterapkan alhamdulillah berjalan.” ungkapnya.
Namun, semakin banyak warga yang menggunakan jaringan tersebut, semakin besar pula kebutuhan biaya untuk mengembangkan jaringan. Defis menyebut pemasangan jaringan hingga ratusan meter membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sementara harga voucher yang ditawarkan relatif murah.
"Kita harus punya duit lagi nih. Sedangkan keuntungan kita dari mana kita enggak tahu, sedangkan berbasis dengan voucher 2.000. Kalau seumpamanya seorang satu orang atau dua orang berlangganan taruhlah yang 3.000, kan di sini ada 2.000, 3.000, 5.000 ya," kata Defis.
Alih-alih menaikkan harga, Defis memilih memperluas jaringan dengan harapan semakin banyak pengguna dapat membantu menutup kebutuhan pengembangan. Sistem itu kemudian berkembang melalui kerja sama dengan warung-warung di sekitar lingkungan.
"Makanya saya tuh, 'Udah deh perbanyak, salah satunya perbanyak.' Kalau buat ngejar ini kembali modal apa enggaknya kita belum tahu. Salah satunya biar berkembang ya itu nyebar terus gitu," tuturnya.
Tak Hanya Anak Sekolah
Pengguna internet voucher tidak lagi terbatas pada anak-anak yang membutuhkan akses untuk belajar. Orang tua hingga warga dari berbagai kelompok usia ikut menggunakan jaringan tersebut.
"Ternyata penggunanya ini tertariknya bukan kalangan anak-anak saja, ternyata semua kalangan," kata Defis.
Defis mengatakan sebagian warga tetap memilih voucher karena tidak memiliki kewajiban membayar tagihan tetap setiap bulan.
"Dia enggak ada tagihan per bulan," kata Defis
"Kalau voucheran mah enggak, yang masing-masing bae," tambahnya.
Selain persoalan biaya, mobilitas menjadi alasan lain warga menggunakan jaringan tersebut. Selama masih berada dalam jangkauan jaringan yang sama, pengguna dapat mengakses internet dari sejumlah titik yang telah terhubung.
"Mau pindah-pindah pun jaringannya masih sama," ungkap Defis.
Warung Jadi Bagian dari Ekosistem
Pertumbuhan penggunaan internet voucher juga membuat warung-warung di sekitar lingkungan ikut terlibat. Defis tidak menjual voucher secara langsung kepada pengguna, melainkan memberikan kesempatan kepada warung untuk menjadi penjual.
“Saya enggak jual voucher Aa. Wajib di reseller. Anggaplah kalau saya tuh nyebutnya reseller gitu ya yang buat penjual.” kata dia.
Menurutnya, keterlibatan warung tersebut menjadi bagian dari upaya agar pelaku UMKM di lingkungan sekitar dapat saling membantu dan tetap berjalan bersama.
"Jadi UMKM gimana caranya sesama UMKM itu semua bisa berjalan dengan ya saling bantu lah intinya mah," pungkasnya.
Tantangan di Balik Internet Murah
Di balik harga voucher yang murah, pengelolaan jaringan tetap memiliki sejumlah tantangan. Salah satunya adalah kebutuhan perangkat untuk menjaga jaringan tetap menyala ketika terjadi pemadaman listrik.
Kondisi tersebut menjadi persoalan karena pemadaman listrik di satu wilayah belum tentu terjadi bersamaan dengan wilayah lainnya. Karena itu, defis mulai mengalokasikan hasil dari penggunaan voucher untuk membeli perangkat cadangan listrik.
"Salah satunya kita harus punya UPS. Sedangkan si UPS itu harganya lumayan," katanya.
Menurut dia, pengembangan jaringan juga membutuhkan peningkatan kapasitas server dan perangkat ketika jumlah pengguna terus bertambah.
"Jangankan UPS ya, posisi biar banyak klien pun juga kayak si server perlu di-upgrade, terus perlu alat semua," tuturnya.
Meski demikian, selama jaringan utama dan perangkat pendukung berfungsi dengan baik, gangguan internet relatif dapat diminimalkan.
"Kalau masalah internet kalau selagi jalan selagi enggak cut si kabelnya aman, enggak ada kendala," jelasnya.
Pendapatan Tak Selalu Tetap
Sistem voucher juga membuat pemasukan dari pengelolaan jaringan tidak selalu sama setiap bulan. Berbeda dengan layanan internet rumahan yang memiliki pelanggan tetap dengan tagihan bulanan, penggunaan voucher bergantung pada aktivitas warga.
"Kalau voucheran ini naik turun. Kalau posisi libur sekolah bagus, kalau lagi sekolah masuk ya aktivitas biasa ya turun. Enggak flat, enggak lurus kayak rumahan kan kalau seumpama 100 klien udah 100 kita enggak, naik turun," kata Defis.
Karena itu, Defis lebih melihat keberlangsungan sistem tersebut dari bagaimana pendapatan yang diperoleh dapat digunakan kembali untuk memenuhi kebutuhan operasional jaringan.
"Yang jelas sih kita mikirnya gimana caranya ke PT itu bisa laporan sesuai dengan bandwidth yang kita pakai," kata dia.
Kini, jaringan yang dahulu dibuat untuk membantu anak-anak belajar saat pandemi telah digunakan oleh berbagai kalangan. Warung menjadi titik penjualan, sementara pengguna dapat memilih membeli akses internet sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing.
Bagi Defis, pola tersebut menyerupai semangat gotong royong, warga mendapatkan akses internet, warung memperoleh peluang tambahan dari penjualan voucher, sementara hasil pengelolaan jaringan kembali digunakan untuk memperluas dan menjaga layanan tetap berjalan.
"Jadi ya kayak gotong royong aja, kayak gotong royong aja," ucap Defis.
